Gembok Cinta ala Malang menuai polemik

Ulama menilai tempat itu sebagai restu kegiatan asusila. Pemerintah menyebut kaum muda salah kaprah.

Aryo Putranto Saptohutomo
Gembok Cinta ala Malang menuai polemik
gembok cinta di Malang. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Gembok Cinta ala jembatan Pont Des Invalides di atas Sungai Seine, Paris, kini bisa dinikmati di Kota Malang. Setiap pasangan, seperti di tempat aslinya, dapat menyematkan gembok di sebuah pagar khusus, dan mengucap janji setia tetap abadi.Sebuah pagar berwarna putih dengan logo cinta di tengah menjadi tempat buat memasang gembok. Kotak itu dikelilingi tulisan 'Ngalam I'm in Love' berwarna merah muda.Sejak didirikan di Taman Jalan Veteran, Kota Malang, Rabu (30/12), lokasi itu menjadi tempat favorit para pengunjung berswafoto. Tampak gembok bertuliskan 'My Love, Lita Kusdiansas' menggantung, dan satu gembok lagi menggantung tanpa nama."Senang saja untuk iseng-iseng, seperti yang di luar negeri," kata Dwi Jayanti (21), mahasiswi yang sedang berswafoto di lokasi.Menurut Dwi, tulisan 'Ngalam I'm in Love' itu juga menambah keindahan taman. Apalagi saat lampu-lampunya menyala di malam hari. Dia berharap hal serupa ditambahkan di beberapa sudut tempat lain.Sementara itu, pasangan Surya Mega dan Dedi Prasetyo yang tengah memasangkan gembok cinta mengaku hanya iseng belaka. Keduanya bersama-sama memasang gembok dan berfoto bersama. Namun, gembok itu kembali diambil saat mereka meninggalkan tempat."Hanya iseng-iseng saja untuk foto-foto saja," kata Dedi yang mengaku hanya berteman dengan Mega.Pagar bertuliskan 'Ngalam I'm in Love' disediakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang. Sebelumnya, DKP juga memasang kursi-kursi di setiap sudut taman, yakni Taman Alun-Alun, Taman Tugu, Taman Ijen, Taman Veteran dan lain-lain.Meski demikian, keberadaan gembok cinta dipermasalahkan ulama setempat. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang, KH Baidlowi Muslich, mengaku sudah mendapatkan laporan masyarakat tentang keberadaan Gembok Cinta. Dia akan melakukan pengecekan ke lokasi."Kami akan segera mendatangi lokasi untuk melihat seperti apa. Jika memang tujuannya tidak jelas, terlebih dapat meresahkan masyarakat terutama orangtua. Maka kami akan memusyawarahkan di MUI," kata Baidlowi melalui sambungan telepon, kemarin.

Menurut Baidlowi, para ulama di Malang saat ini sedang membangun karakter masyarakat Kota Malang yang Islami. Akan tetapi, justru banyak budaya-budaya tidak Islami seolah-olah difasilitasi pemerintah."Dikhawatirkan keberadaan Gembok Cinta melemahkan," ujar Baidlowi.Baidlowi juga mengatakan, belum lama ini ada kejadian di depan Balai Kota Malang, tentang sepasang muda-mudi berciuman di taman pada siang hari."Ditambah Gembok Cinta ini, seolah memberi izin," ucap Baidlowi.Baidlowi berjanji akan membahas keberadaan Gembok Cinta itu. Sebab, terkesan ada kesan para muda-mudi hendak melakukan tindak asusila difasilitasi."Padahal kemarin kita sudah melihat ada yang berbuat asusila di Taman Tugu. Sekarang justru ada ini, sepertinya memberikan fasilitas (buat asusila)," lanjut Baidlowi.Baidlowi akan membawa persoalan itu dalam rapat internal MUI, sebelum nantinya memberikan masukan kepada wali kota Malang."Setelah ada rumusan MUI, nanti akan diserahkan ke Pemkot. Kami harapkan masukan itu diperhatikan," imbuh Baidlowi.Baidlowi juga mempersoalkan letak Gembok Cinta berada di sekitar kawasan pendidikan. Kawasan Jalan Veteran, Malang, selama ini dikenal wilayah pendidikan karena dikelilingi Perguruan Tinggi, SMP dan SMU.Adanya gembok juga merusak citra Kota malang sebagai kota bermartabat. "Padahal masyarakat Kota Malang berkomitmen membangun menjadi Kota bermartabat, apalagi itu lokasi di lokasi pendidikan," tambah Baidlowi.Berbeda dengan MUI, para muda-mudi justru senang hadirnya Gembok Cinta di tengah kota. Lailatul Fitria (24), mahasiswi PTN di Kota Malang, menyambut baik keberadaan fasilitas Gembok Cinta tersebut. Frame kawat tersebut dianggap memperindah taman, selain asyik untuk berswafoto.


"Iseng-iseng bisa pasang gembok, ini juga ada di Bandung dan luar negeri," kata Fitria.Fitri mengatakan, tergantung orang memahami karena tidak semua orang menganggap sebagai sesuatu yang serius. Pendapat berbeda disampaikan oleh Rahmania (21), mahasiswi asal Malang. Dia mempunyai kepercayaan sendiri terhadap area Gembok Cinta. Sebab, baginya memasang Gembok Cinta dengan pasangannya justru rawan putus jalinan cintanya. Meski begitu, dia tidak mempermasalahkan adanya area Gembok Cinta."Katanya kalau dipasang justru bisa putus," ujar Rahmania sembari tertawa.Wali Kota Malang, Mochammad Anton, malah menilai para muda-mudi salah memahami maksud fasilitas Gembok Cinta itu. Pagar itu bukan buat fasilitas Gembok Cinta atau Taman Cinta, tetapi sebagai perwujudan cinta pada Malang."Saya juga kaget, katanya itu ada Taman Cinta, setelah saya sidak ke sana, ini bukan Taman Cinta. I Love Malang itu bagian dari masyarakat Malang mencintai Kota Malang," kata Anton.Fasilitas itu, kata Anton, sebagai sarana bagaimana masyarakat yang sudah dibuatkan taman, semakin cinta dengan Kota Malang. Kalau mencintai berarti tidak merusak lingkungan."Maksud kita arahnya ke sana, bukan Taman Cinta," ujar Anton.Lewat fasilitas itu, Anton ingin masyarakat menghargai apa yang sudah dilakukan. Masyarakat harus mencintai Kota Malang dengan cintai lingkungan."Kenapa (gembok cinta) saya letakkan di taman, karena kalau mencintai Malang berarti mencintai lingkungan dan taman," tutup Anton.

Rekomendasi