Kenapa kalau sudah selfie alay suka lupa diri?

Mereka rela merusak lingkungan demi mendapatkan 'like' di media sosial.

Rizky Andwika
Oleh Rizky Andwika - Reporter
Kenapa kalau sudah selfie alay suka lupa diri?
Penggemar selfie di Kebun Raya Baturraden. ©twitter.com

Keindahan Taman Amaryllis di kawasan Desa Salam, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta pernah memudar akibat tingkah anak muda yang hanya ingin berfoto di tengah-tengah taman tersebut. Hujatan datang bertubi-tubi di media sosial bagi mereka yang melakukan selfie kala itu. Ternyata, hujatan tersebut tak mampu membuat anak muda lainnya menjadi takut. Bahkan, justru malah menjadi-jadi. Kejadian serupa kembali terulang di Taman Bunga Kebun Raya Baturraden. Parahnya, taman bunga ini baru diresmikan lima hari. Hal ini terungkap melalui akun Facebook Nasyit Manaf, Minggu (27/12).Sebenarnya apa yang membuat alay suka lupa diri saat selfie?Psikolog Poppy Amalya menyatakan, fenomena alay yang suka lupa diri saat selfie merupakan sebuah hal yang menarik untuk dibahas. Jika dicerna tidaklah mungkin apabila seseorang mengunggah sebuah foto pribadi yang tak menarik. Sehingga, berbagai cara ditempuh untuk menghasilkan sebuah foto yang dianggap bagus untuk menarik perhatian di jejaring sosial."Untuk mendapatkan perhatian saat selfie dibutuhkan tata cara penggambilan gambar, lokasi yang indah, semakin indah, hasil foto maka semakin baik hasil gambarnya. Rewardnya akan menerima like yang banyak, kebutuhan 'like' yang ia butuhkan. Untuk memenuhi hal tersebut, maka diperlukan lokasi yang indah, tempat populer," kata Poppy saat dihubungi merdeka.com, Senin (28/12).Poppy menyatakan, melakukan selfie di taman bunga merupakan sebuah cara untuk memenuhi kebutuhan 'like' di media sosial. Namun begitu, hal tersebut memang sebuah hal yang tak terpuji."Memasuki kebun bunga salah satu cara mendapatkan gambar yang baik, maka individu tersebut melakukannya. Hanya kurang bertanggung jawab, sehingga terkadang merusak," ujarnya.Poppy menyatakan selfie adalah cara baru komunikasi bagi tiap individu untuk menarik perhatian lingkungannya secara luas. "Ini adalah cara modern berkomunikasi, mengingat saat ini semua orang menggunakan sarana media online," paparnya.

Rekomendasi