Meninggalnya dokter Afrianda Novan Firsty (24) di tengah program internship yang dijalaninya di Dobo, Kepulauan Aru, Maluku, menyisakan duka sangat mendalam. Keluarga masih bersedih dan juga kecewa mendapati kenyataan kurangnya perhatian pemerintah kepada dokter-dokter muda yang mengabdi di wilayah pedalaman.Kesedihan dan kekecewaan itu disampaikan Cut Diah Adivar, ibunda dokter Afrianda Novan Firsty, kepada merdeka.com, Kamis (24/12)."Saya ingin sampaikan kekecewaan ini untuk menggugah pemerintah agar lebih memperhatikan dokter muda yang diterjunkan ke pedalaman. Agar kejadian seperti yang dialami putra saya tidak terulang lagi. Apalagi seorang putri saya, adik almarhum, juga seorang dokter yang tengah menjalani program internship di Barabai, Kalimantan Selatan," kata perempuan yang berprofesi sebagai dokter dan kini menjabat Direktur RS PTPN 1 Langsa, Aceh, ini.Dokter Afrianda Novan Firsty atau akrab disapa Nanda atau Novan meninggal dunia di ICU RSUD dr M Haulussy, Ambon, Selasa (17/12) pukul 15.15 WITA. Jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) itu dievakuasi ke rumah sakit tersebut sehari sebelumnya.Nanda jatuh sakit di tengah menjalani program internship di Dobo, Kepulauan Aru, Maluku sejak Mei 2015.
Advertisement
Dia dijadwalkan mengabdi di sana selama hingga setahun.Wilayah pengabdian Nanda sama dengan dokter Dionisius Giri Samudra atau dokter Andra yang meninggal dunia pada November 2015 lalu."Mereka bersahabat, tinggal di satu rumah. Waktu dokter Andra meninggal, anak saya mengaku trauma, dia berharap bisa secepatnya pulang. Ternyata anak saya juga meninggal," ucap Cut Diah sambil menangis.Yang membuat keluarga kecewa, dokter Nanda tidak mendapat perhatian dan pelayanan semestinya, sehingga menjemput ajal di daerah pengabdiannya, seperti halnya dokter Andra. Keluarga juga merasa tidak mendapat informasi yang benar mengenai penyakit dan kondisi kesehatan dokter muda itu.
dokter muda Nanda tewas saat bertugas di Kepulauan Aru ©2015 Merdeka.com/instagram
@vhandgaga
Pihak Kementerian Kesehatan menyatakan dokter Nanda menderita penyakit diabetes. Namun, Cut Diah yang hampir 20 tahun berpengalaman sebagai dokter, yakin putranya terserang malaria."Gejala-gejalanya itu jelas malaria. Anak saya tidak pernah punya riwayat diabetes dan ginjal. Kalau anak saya ada riwayat penyakit itu, pasti kami bekali dengan obat-obatnya," kata Cut Diah."Waktu di ICU, gula darahnya memang naik. Tapi, dalam kondisi demam tinggi, organ kita kan bisa jadi tidak berfungsi normal. Saya cek suhu badannya, selalu di atas 40 derajat," sambungnya.Bukan hanya itu, Cut Diah juga mendapati fakta yang membuatnya lebih sedih.
Advertisement
Saat dievakuasi dari Dobo, Nanda sudah dalam kondisi prekoma, Senin (16/12) siang. Dia tidak lagi mengenali ibu, ayah, paman dan adiknya yang menjemput di Bandara Pattimura, Ambon. Sulung dari tiga bersaudara itu bahkan harus dibopong temannya dari pesawat untuk naik ke ambulan."Proses evakuasi dari Dobo itu jauh dari standar operasi. Seharusnya ada dokter yang mendampingi dan minimal ada tabung oksigen. Itu tidak ada, anak saya hanya ditemani temannya. Di bandara dia hanya dijemput seorang sopir bersama ambulan," kenang dia.Kekecewaan Cut Diah bertambah karena dia, suami, adik dan putrinya tidak bisa kembali ke Medan bersamaan dengan jasad Nanda. Pihak Kementerian Kesehatan menyatakan tiket habis, sehingga mereka harus naik pesawat berikutnya yang ternyata delay. Akibatnya mereka tidak dapat mengikuti prosesi pemakaman di Medan."Sementara ada 4 orang dari Kemenkes yang ikut bersama jenazah anak saya ke Medan. Apalah salahnya jika satu tempat diberikan kepada kami. Saya menduga ada kesengajaan, supaya kami tidak hadir di pemakaman, sehingga beritanya tidak menjadi ramai seperti kejadian dokter Andra," ucap Cut Diah.Perempuan ini berharap, kejadian yang dialami putranya tidak lagi terulang. Dia berpesan kepada para dokter internship lainnya supaya terus menjaga kesehatan dan segera melapor ke dokter pembimbing jika sakit."Tapi saya juga heran, di mana dokter pembimbing anak saya?" ucapnya.Khusus kepada pemerintah, Cut Diah berharap agar dokter-dokter muda yang mengabdi di pedalaman lebih diperhatikan. Menurutnya, penempatan mereka juga sebaiknya mempertimbangkan asal daerah. Dia yakin putra daerah tentu memiliki kekebalan genetis terhadap penyakit yang ada di lingkungannya.Selain itu, para dokter juga harus menjalani prosedur profilaksis atau pencegahan penyakit sebelum diterjunkan ke daerah, karena akan menghadapi orang sakit. Pelayanan kesehatan kepada mereka juga harus menjadi perhatian. "Jangan sampai kejadian putra saya terulang. Setahu saya sudah tiga dokter muda yang meninggal dunia. Satu anak saya, dokter Andra, juga ada satu lagi kalau tak salah dari Binjai, itu karena penyakit jantung. Seharusnya bisa dicegah," ucapnya.Kejadian yang menimpa dokter Nanda dan dokter Andra menampar dunia kesehatan negeri ini. Jika dokter saja tak mendapatkan pelayanan yang baik, apalagi rakyat jelata?