Sopir Metro Mini ugal-ugalan berujung tragedi maut di Angke

Paman Agus, Ling (39) menceritakan, sopir Metro Mini Asmadi (34) memang dikenal ceroboh dan tidak sabar.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Sopir Metro Mini ugal-ugalan berujung tragedi maut di Angke
3 Korban tabrakan KRL vs Metromini Muara Angke dimakamkan di Cilacap. ©2015 Merdeka.com

Kecelakaan Metro Mini yang terjadi di perlintasan kereta Angke, Jakarta Barat, Minggu (6/12) kemarin merenggut 18 korban jiwa. Metro Mini B 7760 FFD menerabas pintu perlintasan kereta sehingga ditabrak KRL. Keluarga Agus Muhammad Irfan (37), kernet Metro Mini 80 jurusan Kalideres-Grogol bernopol B 7760 FD yang ditabrak KRL Commuter Line, mendatangi Rumah Sakit Sumber Waras. Mereka datang untuk mengambil jenazah Agus, salah satu korban tewas insiden kecelakaan maut di perlintasan Muara Angke, Jakarta Barat.Paman Agus, Ling (39) menceritakan, sopir Metro Mini Asmadi (34) memang dikenal ceroboh dan tidak sabar. Asmadi juga belum lama menjadi sopir Metro Mini."Sopirnya baru 2 bulan megang Metro Mini, dia memang ceroboh dan nggak sabaran," kata Ling di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta, Minggu (6/12).Karena sudah tahu sifat Asmadi, Ling yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan umum ini mengingatkan keponakannya untuk tidak ikut Asmadi. Namun imbauan itu tak digubris.

"Saya terakhir ketemu semalam. Saya minta dia supaya hari ini tidak masuk kerja, tapi dia tetap narik," kata Ling. Peristiwa teledor supir Metro Mini bukanlah pertama kali terjadi. Kecelakaan tersebut juga meninggalkan kisah sedih bagi keluarga Turiyah, warga Desa Banjarwungu Kecamatan Nusawungu dan Desa Karangreja Kecamatan Sidareja, Cilacap.Dari 18 korban, 3 di antaranya merupakan warga Cilacap, Jawa Tengah. Dua korban yang dimakamkan di Desa Banjarwungu merupakan kakak beradik, Melisa Dwi dan Elisah. Sedangkan satu korban lagi Sajam, warga Desa Tambakreja Kecamatan Kedungreja. Sajam diketahui masih memiliki hubungan sebagai paman kedua korban tersebut.Saat jenazah kakak beradik, Melisa dan Elisah tiba di rumah duka di Desa Banjarwungu Kecamatan Nusawungu tangis dan kesedihan terlihat dari pelayat.Setelah turun dari ambulans, jenazah kemudian disalatkan dan kemudian dimakamkan di pemakaman desa setempat. Ibu korban, Turiyah mengatakan kedua anaknya memang bekerja di Jakarta.

"Putri saya semua, sering pulang. Pulang terakhir sekitar setengah bulan lalu saat akan nikah. Kami mendapat kabar kecelakaan, kemarin dari saudara," ucapnya, Senin (7/12).Salah satu korban, Melisa diketahui baru menikah sekitar setengah bulan lalu. Dia menikah dengan Kasto. Menurut Kasto, sebenarnya hari ini hendak menyusul sang istri ke Jakarta dan kembali bekerja di Jakarta. "Tiba-tiba hari minggu kemarin, saya dikabarin Elisa sudah meninggal, sedangkan kondisi Melisa kritis," ucapnya.Dia sendiri mengaku, komunikasi terakhir dengan sang istri melalui pesan singkat, pada Sabtu (5/7) malam. Menurut penuturan ayah korban, Taswin, Melisa dan Elisah bersama sang paman turut menjadi korban. "Mereka saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari tempat hajatan," ujarnya.Keduanya, menurut Taswin, dikenal sebagai sosok yang baik dan ceria, dalam hidup mereka yang prihatin. Taswin mengemukakan keduanya merantau ke Jakarta sejak dua tahun silam. "Namun mereka cukup sering pulang kampung, terakhir saat pernikahan Melisa dengan Kasto pada 19 November lalu," ucapnya.

Rekomendasi