Kesaksian korban Lamborghini maut, saat sadar uang sudah raib

Sebelum Lamborghini menabrak warung, Mujianto mendengar dua mobil beradu kecepatan.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
Kesaksian korban Lamborghini maut, saat sadar uang sudah raib
Lamborghini tabrak pedagang STMJ di Surabaya. ©2015 merdeka.com/moch andriansyah

Meski pengemudi Lamborghini maut Wiyang Lautner (24), warga Darma Husada Regency, Surabaya, Jawa Timur mengaku tidak sedang balapan melawan Ferrari merah di Jalan Manyar Kertoarjo, Minggu pagi (29/11) lalu, korban pemilik warung STMJ, Mujianto mengaku melihat aksi balap liar bak Film Fast and Furious di hari nahas itu.Pria 44 tahun warga Pakis Tirtosari 10 B/15, yang kini kondisinya sudah mulai membaik ini menceritakan, sempat keluar warung STMJ-nya saat mendengar bising suara mesin diduga dari Lamborghini yang dikemudikan Wiyang Lautner dan Ferrari merah yang dikemudikan Bambang, warga Kertajaya. ‎"Sebelum kejadian, saya mendengar suara bising mobil. Ketika saya keluar, sekitar 200 meter dari warung saya, saya melihat dua mobil mewah berjalan dengan kecepatan tinggi," cerita Mujianto di rumahnya, Selasa kemarin (1/12).Dia melanjutkan, "Karena ada pembeli, saya masuk lagi ke warung dan duduk dekat LPG. Tapi saat itu juga, tiba-tiba mobilnya menerobos warung saya. Saya terpental, pandangan saya gelap. Saat terbangun, dengkul (lutut) saya bengkak, warung saya hancur, dan pembeli saya sudah tergelatak." Setelah sadar dari pingsannya, Mujianto mengaku langsung berteriak minta tolong orang di sekitarnya untuk mengambil tasnya yang ikut terpental."HP Samsung saya utuh, tapi uang dalam tas saya sudah lenyap," aku pedagang kaki lima yang mengaku masih merasakan nyeri di tubuhnya ini. Sambil duduk, masih dia bercerita, dia melihat pengemudi Lamborghini turun dengan darah menetes di mukanya, dan berusaha memberi pertolongan dibantu orang-orang sekitar."Saat saya minta tolong agar dibawa ke rumah sakit bersama dua pembeli saya, sopir mobilnya nelpon temannya dan dia mengatakan kalau telepon tidak diangkat oleh teman yang membawa mobil mewah warna merah satunya," terang suami Astutik ini. Meski mengalami nasib sial, Mujianto mengaku bersyukur karena istrinya selamat dari peristiwa nahas tersebut. Sebab, sejak Tahun 1995, Astutik, istrinya selalu ikut berjualan di Manyar Kertoarjo."Istri saya sempat memaksa ikut waktu itu, tapi saya bilang, biar hari ini saya saja yang jualan. Mungkin ini petunjuk Allah. Alhamdulillah istri saya selamat dan nyawa saya masih tertolong, itu yang terpenting," ucapnya sedih. Saat menceritakan peristiwa tersebut, Mujianto terlihat shock. Sebab, dia teringat dengan pasutri langganannya yang ikut jadi korban, yaitu Kuswanto (41) dan Srikanti (41) warga Kaliasin Gg III/25, Surabaya. Bahkan, Kuswanto tewas dalan insiden maut tersebut.

"Saya masih teringat mereka (Kuswanto dan Srikanti) setelah ditabrak. Suami istri itu tergeletak penuh darah. Tapi saya tidak bisa menolong karena kondisi saya juga sama," pungkasnya sedih.

Rekomendasi