Memperkenalkan Indonesia lewat mainan tradisional

Mainan-mainan tradisional ini dibawa dan diperkenalkan langsung oleh Hoong Community.

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
Memperkenalkan Indonesia lewat mainan tradisional
persiapan indonesia festival di penang. ©2015 merdeka.com/arie basuki

Indonesia tak hanya memiliki kekayaan dan keindahan alam, tapi juga berbagai macam suku bangsa serta budaya. Di ajang Indonesia Festival 2015 di Penang, Malaysia, pengenalan negeri ini juga dilakukan melalui mainan-mainan tradisional. Sesuatu yang kerap terlupakan.Mainan-mainan tradisional ini dibawa dan diperkenalkan langsung oleh Hoong Community. Kelompok anak muda asal Bandung, Jawa Barat ini memang mengedepankan pelestarian mainan tradisional yang mulai tergerus oleh zaman."Kami ingin membuat penasaran kepada warga Malaysia, seperti apa sih mainan Indonesia. Nah, lewat beragam cara kami akan memperlihatkan Indonesia itu punya mainan tradisional," ujar Ketua sekaligus pendiri Hoong Community, Zaini Alif saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (27/11).Zaini menceritakan, kelompok ini pertama kali berdiri atas penelitiannya terhadap sejumlah permainan tradisional yang mulai tergerus oleh zaman. Era modern dan membanjirnya gadget berupa ponsel dan berbagai mainan modern membuat mainan tradisional perlahan mulai ditinggal anak-anak.Dia segera mengajak sejumlah tetangganya untuk berkumpul dan kembali memainkan, membuat serta mengumpulkan permainan tradisional dimulai dari Bandung. Ternyata, terbentuknya komunitas ini membuat banyak pihak tertarik, bahkan ada beberapa sekolah yang mengundang maupun berkunjung ke markas mereka."Dari sana banyak wisatawan yang tertarik, banyak kunjungan dari luar. Akhirnya sekarang menjadi media untuk mengenalkan Indonesia pada seluruh dunia," ungkap Zaini yang telah menyelesaikan program doktornya.Saat ini, Hoong Community telah mengumpulkan pelbagai macam mainan dari seluruh Indonesia hingga berjumlah 2.000 macam. Mainan tersebut bukan hanya benda saja, tapi juga permainan-permainan fisik. Tidak mudah untuk mendapatkan mainan-mainan itu."Saat ini sudah amat sulit karena banyak yang sudah tidak memainkan lagi. Yang tahu hanya orangtua, kalau ketemu terkadang terkendala masalah bahasa, karena kadang mereka tidak bisa bahasa Indonesia. Terus dianggap, ngapain sih ngumpulin mainan," keluhnya.Semoga, lewat mainan-mainan ini dapat kembali menyatukan kedua negara yang serumpun.

Rekomendasi