Pengalaman sedih saat menunaikan ibadah haji dialami Lurah Sungai Baru, Banjarmasin, H Ali Zaini Koso. Sewaktu berangkat ke Tanah Suci, dia ditemani istri Hj Fatimah Abdul Hamid (58) yang masuk kloter pertama Embarkasi Banjarmasin. Tetapi saat pulang, dia seorang diri.Istrinya yang merupakan guru SMP 11 Banjarmasin dinyatakan hilang saat dirawat di RS Arafah, dan hingga sekarang tidak diketahui nasib dan keberadaannya."Terus terang saya pulang dengan hati sedih dan berat, hingga sekarang istri saya tidak juga diketahui keberadaannya di mana, apakah dia masih sehat atau bagaimana di Tanah Suci," ujarnya saat berada di Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin di Banjarbaru, Jumat (16/10). Demikian tulis Antara.Dia meminta pencarian istrinya di Makkah tidak dihentikan, sehingga dia dan keluarganya terus dapat berharap akan keselamatannya."Terus terang saat beribadah di sana berhari-hari galau, terus memikirkan di mana istri saya berada, bahkan hingga kini saat kita sudah pulang," tuturnya.Dia berharap anak-anak dan cucunya bisa menerima cobaan yang menimpa keluarganya ini, dengan harapan diberi ketabahan dan kesabaran, dan terus memanjatkan doa agar istrinya tersebut diselamatkan Yang Maha Kuasa.Menurut dia, istrinya tersebut tiba-tiba mengalami stroke setelah melaksanakan wukuf di Padang Arafah, hingga harus dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ruang ICU."Padahal istri saya itu tidak ada riwayat mengidap penyakit berat, bahkan dia sangat menjaga kesehatan saat menjalankan ibadah di sana, namun kehendak Yang Maha Kuasa lain, setelah istirahat dan makan siang di tenda, tiba-tiba dia sakit kepala dan langsung diserang stroke," ujarnya.Kepala Kanwil Kemenag Kalsel HM Tambrin menyatakan Fatimah Abdul Hamid dinyatakan sebagai haji gaib, karena tidak diketahui keberadaannya hingga kini, dan ini akan terus dicari hingga ada kejelasan resmi."Terus akan dicari sampai kapan pun, karena kejelasan nasibnya tidak jelas, dan itu akan kita terus pantau," tuturnya.Dia menyatakan, kejadian haji gaib ini bukan yang pertama kali, namun sudah terjadi sebelumnya. Pada 2014 seorang haji dari Kalimantan Tengah hilang saat beribadah di Masjidil Haram, hingga kini tidak diketahui keberadaannya."Kasusnya itu tidak pernah ditutup, terus diupayakan pencarian statusnya hingga kini, namun memang kendala di negara Arab Saudi yang mempunyai peraturan sendiri dan ketat menjadi kesulitannya," ujar Tambrin.Sebagaimana contoh kejadian tragedi Mina, di mana pemerintah Indonesia sempat sehari lebih tidak bisa melihat jasad para korban, hanya diberi kesempatan melihat foto-foto korban, itu menunjukkan bagaimana sulitnya, padahal itu kejadian yang sangat besar."Memang kita tidak patut kalau patah semangat, sehingga harapan pencarian jemaah haji kita yang hilang ini terus dilakukan, itu juga harapan kita," paparnya.Sejauh ini, jemaah haji Embarkasi Banjarmasin yang wafat sudah berjumlah 15 orang, yakni enam orang dari Kalsel dan sembilan orang dari Kalteng."Saat ini sebanyak 4.000 lebih jemaah kita sudah berada di Madinah, dan akan mulai pulang sejak 16-26 Oktober ini ke Tanah Air," ujarnya.
Cerita sedih Lurah Ali, pergi haji bareng istri pulang seorang diri
Fatimah Abdul Hamid dinyatakan sebagai haji gaib.
Rekomendasi