Kabareskrim Mabes Polri Komjen Budi Waseso berulang kali mewanti-wanti panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar tak loloskan calon bermasalah. Kini Pansel sudah menyerahkan 8 nama ke Presiden Joko Widodo. Dalam waktu bersamaan penyidik Bareskrim bergerak mengusut dugaan korupsi dana hibah atau corporate social responsibilty (CSR) PT Pertamina sekitar Rp 160 miliar. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) dengan menggeledah kantor Pertamina Foundation, Simprug, Jakarta Selatan, Selasa (1/9)."Mereka punya proyek gerakan menabung phone, sekolah tobat bumi, sekolah sepak bola Pertamina tahun 2013-2014 menggunakan anggaran Rp 256 miliar. Anggaran tersebut diduga justru berdasarkan analisa dokumen dan saksi, diduga ada korupsi penyalahgunaan anggaran senilai Rp 126 miliar. Dia memang yayasan, tetapi anggaran yang digunakan setiap tahun dipertanggungjawabkan LKPP. Kemudian dari ahli BPJ, bahwa CSR itu merupakan uang pemerintah yang dihibahkan," kata Dirtipieksus Brigjen Pol Victor Edison Simanjuntak.Penyidik Bareskrim Polri telah mengantongi satu nama yang diindikasi menjadi tersangka korupsi dana CSR Pertamina senilai Rp 126 miliar. Namun dirinya enggan menyebutkan nama satu orang tersebut yang diindikasikan menjadi tersangka tersebut. "Kasusnya sudah masuk dalam tahap proses penyidikan, penyidik pun sudah mengantongi satu nama yang diindikasi menjadi tersangka. Kita sudah memperoleh satu orang indikasi tersangka. Inisialnya belum saya sebutkan namanya. Sekarang sudah tahap penyidikan," kata Victor.Panitia Seleksi (Pansel) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Yenti Garnasih enggak membeberkan siapa yang dibidik polisi. Dia meminta hal tersebut ditanyakan langsung ke aparat di Bareskrim."Bareskrim sedang mengincar siapa, kasus apa dan di mana. Siapa nama tersangka dalam 19 besar capim KPK. Biar jelasnya tanya langsung saja ke sana," ujarnya.
Advertisement
Dari 19 nama yang lolos wawancara salah satunya yakni Nina Nurlina Pramono. Nina adalah mantan Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono dari 2011 sampai 2014.Dalam wawancara anggota Pansel, Harkristuti Harkrisnowo bertanya mengenai asal usul harta tersebut. "Apa benar ibu memiliki banyak rumah?" tanya Tuti kepada Nurlina."Ya, banyak. Lagi dibangun. 1 di Lembang, 1 di Cinere, 1 Malang, 1 Jatibening, 1 di Bandung dan 1 kondotel di Bandung," jawab Nina.Tak hanya rumah, Nina mengaku juga memiliki harta Rp 25 miliar, 1 unit Nisan Xtrail, 1 Toyota Alphard, dan 1 unit BMW. Harta tersebut merupakan penghasilan bersama suaminya selama 32 tahun."Ya BMW dibeli cash. Setelah saya kerja 30 dan suami 32 tahun, please boleh dong Bu," ujar Nina yang kembali membuat undangan tertawa.Menurut pengakuan Nina, harta yang dimilikinya itu sudah pernah dilaporkan dalam LHKPN pada tahun 2001. Meski tak ada kewajiban untuk melaporkannya, Nina mengaku belum melaporkannya lagi setelah itu."Kan tidak ada kewajiban, Bu. Juga tidak ada yang minta untuk dilaporkan," tandas dia.