Yayasan Bung Karno peringati HUT RI ke 70 di Rengasdengklok

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah Jepang, dan kedua, bahwa Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan rakyat.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Yayasan Bung Karno peringati HUT RI ke 70 di Rengasdengklok
Tumpengan di Rengasdengklok. ©2015 Merdeka.com

Yayasan Bung Karno bekerja sama dengan PARA Syndicate menyelenggarakan tasyakuran memperingati 70 Tahun Indonesia Merdeka di Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, Sabtu, 29 Agustus 2015 kemarin.Menurut Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo, acara ini digagas oleh Yayasan Bung Karno bersama PARA Syndicate sebagai ungkapan syukur atas 70 tahun Kemerdekaan Indonesia, dengan dua pesan sejarah dari Rengasdengklok. Pertama, bahwa Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah Jepang, dan kedua, bahwa Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan rakyat bersama para pemimpin pergerakan."Kami mengajak generasi muda Indonesia untuk bersama-sama menciptakan sejarah Indonesia masa depan melalui refleksi sejarah Indonesia seperti pesan Bung Karno: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah," ujar Ari dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi merdeka.com, Minggu (30/8).Giat Wahyudi dari Yayasan Bung Karno menambahkan tentang arti penting Peristiwa Rengasdengklok. "Rengasdengklok menjadi pangkal perjuangan yang mendorong kemerdekaan Indonesia," lanjut Giat.Hadir dalam acara ini antara lain cucu Bung Karno, Puti Guntur Soekarno, staf khusus Presiden bidang komunikasi Sukardi Rinakit, politisi senior PDI Perjuangan Heri Achmadi, Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira, tokoh agama dan tokoh masyarakat juga beberapa perwakilan ormas.Dalam pidato politiknya, Puti Guntur Soekarno menyatakan bahwa arti kemerdekaan adalah seperti yang pernah disampaikan Bung Karno, yaitu kita berdaulat secara politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.Menurut Puti, hal terpenting dari refleksi kemerdekaan ini adalah kita harus hadir untuk rakyat dengan hati. Siapa pun kita, presiden, pemimpin agama, kader partai, sampai ketua RT, harus bekerja untuk rakyat dengan hati. Inilah keutamaan yang diajarkan Bung Karno, Bung Hatta, dan para pendiri bangsa.Lebih lanjut Puti menyatakan Bangsa Indonesia harus terus mampu untuk bangkit, ditempa, bangkit, ditempa, dan bangkit lagi, sehingga kita menjadi bangsa yang kuat. Sejarah membuktikan bangsa Indonesia bisa mengatasi segala tantangan. Kita bukan bangsa yang mudah ditundukkan oleh kesulitan dan tantangan apapun. Sejarah revolusi Bangsa Indonesia mengajarkan agar kita hadir dan memegang amanat penderitaan rakyat tuntunannya sejarah."Saya terharu dan merasa mendapat kehormatan mendapat undangan syukuran peringatan 70 tahun kemerdekaan di tempat bersejarah ini" ujar Puti.Menutup pidatonya, Puti menyampaikan bahwa sejarah adalah bagian dari zaman yang bergerak. Jika selama 70 tahun ini masih ada yang kurang, jangan mudah mengeluh. Itu adalah tugas sejarah masa depan kita semua. Dengan semangat yang sama dengan semangat yang dulu menyala di Rengasdengklok ini, Indonesia akan terus ada."Bukan hanya dalam hitungan sewindu, bukan pula dalam hitungan 70 tahun atau 100 tahun, namun untuk selama-lamanya. Harapan sekaligus ajakan untuk terlibat yang disambut dengan tepuk tangan oleh segenap yang hadir di halaman Monumen Kebulatan Tekad, Rengasdengklok," ujar Puti.Acara yang berlangsung khidmad ini ditutup dengan pemotongan tujuh tumpeng yang melambangkan ungkapan syukur 70 tahun Indonesia merdeka dan semua berbaur dengan masyarakat sembari menyaksikan pemutaran film Soekarno 'Ketika Bung di Ende' bersama masyarakat dan nampak banyak anak-anak ikut menyaksikan film sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Rekomendasi