Nestapa orang-orang gagal mudik Lebaran akibat erupsi Raung

Akibatnya sejumlah penerbangan batal hingga mengakibatkan ribuan orang telantar.

Mohamad Taufik
Oleh Mohamad Taufik - Reporter
Nestapa orang-orang gagal mudik Lebaran akibat erupsi Raung
Bandara Juanda ditutup. ©AFP PHOTO/JUNI KRISWANTO

Kemarin sejumlah bandara di Indonesia ditutup akibat erupsi Gunung Raung di Jawa Timur, misalnya Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo dan Bandara Abdul Rachman Saleh di Malang. Penutupan terjadi sejak Kamis hingga Jumat siang. Akibatnya sejumlah penerbangan batal hingga mengakibatkan ribuan orang telantar.Penutupan bandara akibat erupsi Raung ini menyisakan kisah sedih bagi orang-orang yang hendak mudik menggunakan pesawat. Contohnya nasib ratusan pemudik tujuan penerbangan Surabaya dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali."Kita tidak tahu ini pak sampai kapan dibuka kembali di Bandara Juanda. Saya sudah dari jam 5 sore di sini," kata Gunawan, salah satu calon penumpang yang mengaku penerbangannya ke Surabaya telah dibatalkan oleh maskapai, Kamis malam (16/7).Dia mengaku telah memesan tiket sebelumnya untuk penerbangan pesawat Lion Air nomor penerbangan JT919 tujuan Bali-Surabaya. "Ada banyak penumpang di sini yang delay dan dicancel. Ada ratusan, kalau sampai besok pagi, kita akan salat Id di Bandara," tuturnya.Benar saja, hingga Jumat pagi tepat saat Salat Idul Fitri para penumpang yang gagal mudik itu memadati Masjid Al-Ikhlas yang terletak di area Bandara Ngurah Rai. Untuk kali pertama, masjid tersebut dibanjiri jamaah yang melaksanakan Salat Idul Fitri 1436 Hijriah. Bahkan jamaah meluber hingga ke area parkir.Salah seorang petugas di bandara menuturkan, Salat Id di Masjid Al-Ikhlas dipenuhi calon penumpang yang batal terbang ke Surabaya dan Malang lantaran aktivitas penerbangan dari dan menuju bandara tersebut ditutup akibat erupsi Gunung Raung. Akibatnya, pemudik yang batal terbang tertahan di bandara sejak semalam."Sebagian besar pemudik menuju Surabaya dan Malang tertahan di sini (Bandara Ngurah Rai) sejak semalam. Mereka terpaksa harus Salat Id di Bandara. Banyak sih saya lihat yang menangis, maklumlah seharusnya saat ini bisa bertemu keluarga," cerita salah seorang petugas di Bandara Ngurah Rai yang akrab disapa Mas Bengbeng.

Kondisi tidak jauh berbeda dialami pemudik di Bandara Internasional Juanda Sidoarjo. Ribuan calon penumpang yang batal terbang akibat erupsi Gunung Raung itu harus berbesar hati menerima kenyataan tak bisa merayakan Idul Fitri bersama sanak saudara."Penerbangan saya ditunda sampai malam. Tapi ternyata, malam ini juga ditunda lagi," sesal Basir, salah satu calon penumpang tujuan Makassar.Basir memboyong delapan anggota keluarganya. Dia menuturkan, pihak maskapai menjanjikan penerbangan Jumat, (17/7) pagi. Namun dia sudah siap jika terpaksa menjalankan Salat Idul Fitri di bandara."Tapi katanya, penerbangan besok masih dimungkinkan ditunda lagi, jadi kalau memang seperti itu, kita terpaksa berlebaran di sini (bandara). Ya bagaimana lagi, ini kan gara-gara Raung meletus, jadi semua kena imbasnya," katanya pasrah.Penumpang lainnya juga pasrah batal terbang dan tak bisa bertemu keluarga di hari pertama Lebaran. "Saya memperkirakan penerbangan malam tidak ada masalah. Tapi ternyata masih belum bisa karena aktivitas Gunung Raung yang masih terlalu berbahaya untuk penerbangan," ujar calon penumpang pesawat di Bandara Juanda lainnya.Adapun kondisi pemudik di Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, berbeda lagi. Puluhan TKI dari Malaysia dengan tujuan Surabaya meminta maskapai Lion Air menyediakan fasilitas penginapan buntut dari pembatalan penerbangan mereka ke Surabaya. Para TKI yang transit di Bandara Soekarno-Hatta itu tak dapat terbang ke Surabaya dengan menggunakan pesawat Lion Air jenis JT 592 ini karena Bandara Juanda di Surabaya ditutup lantaran erupsi Gunung Raung."Kami ngerti ini bukan salah Lion Air, tapi sebagai manusia mereka harus sediakan fasilitas penginapan untuk kami, itu yang kami minta tadi," ujar Dandi (47) TKI asal Jember, Surabaya kepada Merdeka.com di terminal 1 A Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Kamis (16/7).Sementara itu, TKI lainnya Taufik (45), Agung (45) dan Widi (50) asal Tulung Agung, Jawa Timur mengaku sedikit kecewa karena pembatalan tersebut. Kata mereka, keluarga sudah menunggu untuk melakukan takbiran bersama. "Sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Keluarga sudah tunggu apalagi malam ini takbiran," aku mereka.

Adapun keributan kecil terjadi saat penumpang tujuan Malang memasuki bus yang disediakan manajemen Angkasa Pura II di Bandara Soekarno Hatta. Aksi berdesak-desakan dan berebutan terjadi di antara para penumpang yang gagal terbang ke Surabaya ini."Tenang, tenang nanti berangkat semua," ujar seorang petugas menenangkan para penumpang, Kamis (16/7).Selain mengkhawatirkan kekurangan bus, para penumpang juga terlihat resah oleh ketidakpastian harga ongkos bus. Hal itu karena pihak Angkasa Pura II tidak secara pasti mengumumkan berapa harga ongkos bus yang harus dibayar."Masuk saja, nanti di jalan baru atur," ujar seorang staf Angkasa Pura yang tak diketahui namanya."Harus pasti, Pak. Kami tidak mau nanti harga dimainkan saat kami tiba," ujar seorang penumpang.Setelah berdiskusi alot, akhirnya tercapai kesepakatan harga. Untuk penumpang tujuan Malang, harga ongkos bus sebesar Rp 400 ribu dan untuk tujuan Surabaya sebesar Rp 350 ribu.Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan dan PT Angkasa Pura I memutuskan menutup total aktivitas penerbangan dari dan menuju Bandara Juanda sejak Kamis pukul 13.20 WIB. Konsekuensinya, 222 pesawat batal terbang. Rinciannya, 110 pesawat untuk rute keberangkatan dan 112 pesawat untuk rute kedatangan.

Sedangkan jumlah penumpang yang ikut tertahan di bandara ada 27.874 orang, rinciannya 18.108 penumpang kedatangan dan 9.766 penumpang untuk rute keberangkatan.Untuk antisipasi penumpukan penumpang, PT Angkasa Pura I menggerakkan armada Bus Damri untuk mengangkut para calon penumpang yang ingin mengubah moda transportasinya melalui jalur darat. Namun Jumat siang kemarin Bandara Juanda sudah kembali dibuka oleh Angkasa Pura I.

Rekomendasi