Kisah tragis Mutiara, bocah SD yang tewas dianiaya ayah kandungnya

Indriani (9), adik korban mengaku, lihat langsung kakaknya dianiaya oleh ayahnya. Korban dipukul di dalam kamar.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Kisah tragis Mutiara, bocah SD yang tewas dianiaya ayah kandungnya
Mutiara tewas. ©2015 Merdeka.com

Kasus penganiayaan kepada anak yang berujung kematian lagi-lagi terjadi. Bahkan yang lebih tragis, pelaku adalah sang Ayah. Orang yang seharusnya melindungi dan menyayangi si buah hati justru menjadi jagal.Kasus tersebut menimpa Mutiara warga Rappocini Raya, Lr 1 Gang 1, Makassar. Bocah 12 tahun itu terpaksa dilarikan ke RS Wahidin Sudirohusodo karena kritis dianiaya ayah kandungnya sendiri Haeruddin alias Rudi (32).Akibat dari penganiayaan itu M mengalami luka parah di bagian kepala. Kapolsek Makassar, Kompol Sudaryanto yang menangani kasus ini membenarkan kasus tersebut. Dia menjelaskan, kejadiannya saat menjelang maghrib kemarin.Pihaknya mendapat laporan sekitar pukul 00.00 WIB dari warga atau tetangga korban setelah Mutiara berada di RS Wahidin Sudirohusodo.

"Kami datang ke RS Wahidin semalam dan pelaku, ayah korban langsung kabur," ujar Kapolsek Makassar, Rabu (8/7) kemarin.Informasi yang dihimpun dari keterangan tetangga, kata Kompol Sudaryanto, korban sekarat karena dipukul oleh ayahnya sendiri. Dugaan sementara, korban dipukul, dianiaya ayahnya karena emosi lantaran korban berada di luar rumah untuk membeli coto untuk berbuka bersama kedua adiknya, Indriani dan Hairil. Setiba di rumah, korban langsung dimarahi karena rumah dalam keadaan terkunci."Kita belum tahu motif pelaku menganiaya. Apakah karena emosi, mabuk atau pengaruh narkoba. Dugaan sementara karena emosi. Pelaku saat ini dalam pengejaran," ujar Kompol Sudaryanto.Nasib pun berkata lain. Mutiara yang masih duduk di kelas V SD Maricayya II, Makassar itu pun akhirnya tewas setelah sempat koma dirawat di RS Dadi, Makassar.

Gadis belia yang juga sulung dari tiga bersaudara anak dari Haeruddin dan Ani ini kemudian disemayamkan di kediaman neneknya, Daeng Asse yang tidak jauh dari rumah kontrak orangtuanya.Indriani (9), adik korban mengaku, lihat langsung kakaknya dianiaya oleh ayahnya. Korban dipukul di dalam kamar. Mutiara sempat minta tolong tapi dirinya juga takut dengan ayahnya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

"Setelah pingsan baru dibawa ke rumah sakit," tutur Indriani seraya menambahkan, ayahnya ikut mengantar kakaknya itu ke rumah sakit.Daeng Calla, nenek korban yang juga ibu kandung pelaku langsung menangis meraung. Dia pun meminta anaknya segera ditangkap karena telah membunuh cucunya. "Kalau perlu penjarakan," ujarnya.


Kompol Sudaryanto menjelaskan, berdasarkan informasi dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan saksi-saksi termasuk yang tidak melihat langsung kejadian menyebutkan, kejadiannya Selasa, (7/7) malam sekira pukul 20.00 WITA-21.00 WITA.Pihaknya baru mendapatkan laporan sekitar dua jam setelah kejadian karena awalnya sebagian keluarga korban enggan kasus tersebut diketahui banyak orang.Ani, ibu korban tidak di rumah saat penganiayaan itu berlangsung. "Rumah terkunci saat Haeruddin tiba di rumah. Korban Mutiara duluan tiba di rumah sehingga dia langsung menjadi sasaran emosi Haeruddin. Kami belum tahu apakah Ani ibu korban saat itu tidak memberikan pertolongan kepada anaknya saat dipukul atau tidak karena Ani masih shock jadi belum sempat diambil keterangannya," jelas Sudaryanto.Kata Kapolsek, informasi terakhir yang diterima ayah korban yang diduga kuat pelaku sempat lalu lalang di sekitar rumah saat jenazah korban sudah di rumah.

"Jadi saya perintahkan anggota untuk mengawasi rumah duka dan lokasi pemakaman dengan harapan pelaku Haeruddin ditemukan di situ," kata Kompol Sudaryanto. Hingga kini polisi masih mencari keberadaan Khaeruddin.

Rekomendasi