Curhatan warga Natuna pilih naik Hercules dari pada pesawat umum

Selain murah juga transportasi komersial di Natuna kurang memadai.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Curhatan warga Natuna pilih naik Hercules dari pada pesawat umum
Hercules TNI AU. ©2014 merdeka.com/abdullah sani

83 penumpang sipil termasuk di dalamnya warga Natuna, Kepulauan Riau, menjadi korban kecelakaan Hercules yang jatuh di Jalan Jamin Ginting Medan, Selasa (30/6).Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Natuna Helmi Wahyuda membeberkan alasan warga sipil pilih terbang bersama Hercules ketimbang pesawat komersial. Menurutnya, banyaknya warga Natuna terpaksa naik pesawat militer, karena transportasi komersial di sana tidak memadai."Kenapa korban mengikuti penerbangan itu. Karena transportasi umum di Natuna sangat minim," kata Helmi Wahyuda di Lanud Soewondo, Medan, Jumat (3/7).Hingga sekarang, jadwal penerbangan pesawat komersial tujuan Natuna sangat sedikit dan tiket yang dijual pun mahal.Maskapai Wings Air beroperasi tiga kali dalam sepekan dengan rute Natuna-Batam, ongkos saat ini sekitar Rp 1,7 juta sekali jalan. Penerbangan ini ditambah pesawat Boeing Sriwijaya Air yang terbang 2 kali seminggu, dengan tarif Rp 1,3 juta sampai Rp 1,5 juta.Sementara itu, jalur laut tidak kalah parah. Ada pelayaran kapal Pelni yang singgah berkala dua minggu sekali."Tapi itu ketika normal. Saat Ramadan ini, kapal itu dialihkan rutenya," sebut Helmi.Yenti Arizona (36), warga Pekanbaru, Riau, selalu bepergian ke Natuna naik Hercules. Dia mengaku juga sering kirim barang dengan menggunakan pesawat angkut militer tersebut.

"Kami selalu naik Hercules. Saya sering kirim barang ke Natuna juga naik Hercules," kata Yenti kepada wartawan, Kamis (2/7).Yenti merupakan kerabat dua korban pesawat Hercules nahas itu. Dua keponakan Yenti, Rezki Budi Prakarsa (20) dan Renaldi Wadianto (15) tewas dalam kecelakaan pesawat Hercules C-130 di Medan. Mereka adalah sipil dan bukan keluarga dari anggota TNI.Yenti mengatakan, ongkos menumpang Hercules TNI memang lebih murah ketimbang menumpang pesawat komersial. Menurut dia, bila terbang dari Pekanbaru ke Natuna dengan maskapai umum, mereka mesti merogoh kocek Rp 1,5 juta sekali jalan. Sementara jika terbang dengan Hercules TNI AU, mereka hanya membayar Rp 850 ribu per orang."Kalau naik pesawat komersil, kita harus ke Batam dulu. Dari Batam baru ke Natuna. Terkadang kami masih harus bermalam di Batam," ujar Yenti diamini Widia, ibu kedua korban.Karena selisih ongkos itu, mereka selalu mencari tahu jadwal penerbangan Hercules TNI AU dari Pekanbaru ke Natuna lewat kerabat dan kenalannya. Menurut hitungan mereka, pesawat itu akan datang setiap akhir atau awal bulan.Meski begitu, Yenti tidak masalah dengan keselamatan. Bahkan menurut dia terbang menumpang pesawat militer tanpa asuransi bukan menjadi persoalan."Itu kan soal rezeki. Kalau jatuh, pesawat komersial juga jatuh. Mana ada pilot yang mau jatuh," tambah Yenti.Yenti mengaku ikhlas dengan musibah itu. Apalagi mereka sudah siap dengan konsekuensinya. "Kita kalau mau terbang naik Hercules kan harus ada suratnya juga. Kita teken materai. Kami tidak akan menuntut," lanjut Yenti.


Warga Natuna tetap berharap pesawat angkut berbadan besar milik TNI AU tersebut, bersedia melayani menumpang sipil yang hendak terbang ke pelosok negeri."Kami tetap berharap PAUM tetap diperbolehkan melayani masyarakat. Kami justru berterima kasih kepada AURI (TNI AU) yang selalu menolong kami di daerah terpencil," kata tokoh pemuda Natuna Fadilah yang dihubungi Antara dari Batam, Kamis (2/7).Kabupaten Natuna, dengan ratusan pulau kecil di sekitar Laut Tiongkok Selatan amat sulit dijangkau oleh transportasi laut maupun udara. Akibatnya, masyarakat sipil mengandalkan Hercules sebagai alat transportasi."Orang Jakarta tidak tahu itu, makanya mereka berpikir untuk melarang warga sipil menumpang Hercules. Tapi, masyarakat Natuna terbantu oleh AURI. Kami di sini terkurung, pesawat sangat sulit," tukas Fadilah.Fadilah mengaku sudah beberapa kali menumpang pesawat Hercules. Dan tidak pernah takut untuk menaiki pesawat perang itu."Itu safety AURI. Pesawat dari besi," kata dia.Hal senada dikatakan warga Natuna lainnya, Agus B. Menurut dia, warga Natuna terbantu penerbangan Hercules."Bayangkanlah kami di Natuna ini, pulau-pulau kecil di tengah hamparan laut luas. Pesawat susah, hendak pergi pakai kapal pun gelombang tinggi. Anak-anak kami nak sekolah pergi ke kota yang jauh. Hendak gunakan apa kalau tidak minta tolong AU," ujar dia.

Rekomendasi