Cerita WNI di Austria jadi personal shopper untuk para konglomerat

Personal shopper harus paham keinginan para klien.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Cerita WNI di Austria jadi personal shopper untuk para konglomerat
Personal shopper. ©2015 Merdeka.com

Banyak yang berpikir bahwa tinggal di luar negeri sangat merepotkan, selain adaptasi hidup di negeri dengan kultur yang berbeda, tinggal di luar negeri juga kerap dikaitkan dengan biaya hidup yang jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tinggal di Indonesia. Nyatanya, tinggal di luar negeri bisa mendatangkan keuntungan tersendiri bahkan menghasilkan pundi-pundi uang. Banyak cara yang bisa dilakukan warga negara Indonesia (WNI) untuk bisa bertahan, bahkan hidup layak di luar negeri.Salah satunya adalah Bintang Alzeyra (36). Bintang sudah menetap di Austria sejak tahun 2005. Selama kurang lebih 10 tahun tinggal di Austria, Bintang tentu melakukan berbagai cara untuk beradaptasi dan mencari potensi usaha untuk menambah penghasilannya di negeri orang. Bintang yang hobi memperhatikan dunia mode (fashion) terkesima dengan perkembangan dunia mode di Eopa, utamanya yang dikembangkan oleh label mode dunia seperti Hermes, Louis Vuitton, Chanel dan berbagai label papan atas lainnya. Dari hobinya tersebut, Bintang pun mulai bergerak dari sekedar pengguna menjadi seorang penyedia barang label terkemuka untuk memenuhi minat konsumen kelas atas. "Jadi tugasku sebagai personal shopper sebenarnya gak jauh beda dengan pedagang lain, menawarkan suatu barang atau suatu product, bisa tas, sepatu, baju, jam atau barang merek lainnya," ujar Bintang kepada merdeka.com, Rabu (1/4).Bintang memaparkan, sudah lima tahun dirinya menggeluti dunia personal shopper. Bermula dari keisengan dan hobi memperhatikan dunia mode. "5 tahun lalu masih belum terlalu rame seperti sekarang. Aku cuma perhatiin yang jualan barang branded. Yang mereka jual apa saja, lihat cara mereka layanin customer. Baru aku belajar sendiri," ungkap Bintang. Dirinya mengaku memulai bisnis personal shopper bermodal satu tas Prada. Tas tersebut kemudian ditawarkan dengan cara preorder atau menawarkan terlebih dahulu melalui jejaring sosial untuk mendapatkan peminat. Bintang mengaku, barang-barang dengan label kelas dunia tersebut ditawarkan kepada pelanggan di Indonesia. "Aku tawarkan barang A, biasanya klien-klienku langsung contact, tanya harga. Kalau deal, mereka akan DP 50 persennya. Setelah DP, aku membeli barang yang mereka mau. Kalau barang sudah di tanganku, barang aku kirim ke Indonesia (ke rumah saudaraku). Begitu barang sampai di Indonesia, mereka wajib melunasi yang sisanya. Baru lah barang dikirim ke mereka atau kalau mereka minta langsung dikirim dari Austria ke alamat mereka di Indonesia, mereka harus bayar full payment," papar Bintang.Bintang mengatakan bahwa sebagai personal shopper, dirinya harus paham keinginan para klien. "Ada klien ku, dia suka ama salah satu artis. Apa yang dipakai artis itu dia ingin beli, asal main tunjuk foto. Nah aku juga jadi personal shopper musti tahu si artis pakai merek apa, harga berapa, kira-kira ok atau enggak kalau dipakai," jelas Bintang. Bintang mengaku kliennya tersebar di Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua. Namun lebih banyak berasal dari Pulau Jawa seperti Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah. "Terus Kalimantan sama Palembang," imbuh Bintang.Sebagai personal shopper, barang bermerek yang biasa dipesan para klien Bintang memiliki kisaran harga antara 80 euro atau sekitar lebih dari Rp 1 juta hingga 18.000 euro atau sekitar Rp 255 juta, bahkan lebih. Mulai dari syal dengan kisaran harga Rp 2 juta hingga tas, sepatu dan jam tangan. Bahkan, gantungan kunci dengan kisaran harga antara Rp 11 jutaan hingga Rp 17 jutaan."Seperti Hermes, Gucci, Louis Vuitton, Chanel, Balenciaga, Bottega Veneta, Fendi, Moschino, Saint Laurent, Valentino, Prada dan lain sebagainya," tutur Bintang. Namun, Bintang enggan menyebutkan keuntungan yang didapatkan dari profesinya sebagai personal shopper.

Rekomendasi