Ditinggal istri jadi TKW, Mashar depresi dan derita penyakit aneh

Istrinya memilih pergi karena pekerjaan Mashar sebagai tukang las tak mencukupi biaya hidup mereka.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ditinggal istri jadi TKW, Mashar depresi dan derita penyakit aneh
Mashar ditinggal istri yang jadi TKW. ©2015 Merdeka.com

Persoalan ekonomi membuat Mashar (35) hanya bisa merenung ketika istrinya meninggalkannya. Pernikahannya yang berjalan 2 tahun, berakhir sudah tanpa dikaruniai seorang anak.Dia kemudian mulai depresi dan menderita penyakit aneh. "Istrinya menuntut cerai sudah hampir setahun lalu. Setelah ditinggal istrinya tanpa cerai, dia mulai sakit-sakitan. Kabarnya istrinya jadi TKW sekarang, tidak tahu di negara mana," ungkap salah seorang warga setempat di Dusun Banyubiru, Desa Kaliakah, Kabupaten Jembrana, Bali.Saat ini Mashar dirawat oleh kakaknya. Bahkan rumah milik Mashar terjual untuk habis membiayai penyakit yang dia derita."Badannya menghitam. Seperti orang kulit hitam habis berjemur atau terpanggang. Adik saya ini putih dulunya, ada di album foto-foto tapi saya tak tahu di mana disimpannya," ucap Masuda (kakak Mashar), Minggu (29/3) di Jembrana, Bali. Katanya, selama ini pengobatan hanya dilakukan di Jembrana dan Surabaya. Sudah puluhan juta habis namun tak kunjung sembuh. Kini kondisinya hanya bisa terbaring di kasur. "Adik saya semenjak istrinya pergi dan dengar kabar jadi TKW, dia langsung depresi tidak mau bicara. Hanya bahasa isyarat saja dia berikan," terang Masuda.Diceritakan Masuda, sewaktu masa pernikahan adiknya nampak bahagia. Namun 6 bulan berjalan, mulai istrinya yang juga satu kampung di Jembrana banyak nuntut materi. Sementara penghasilan Mashar yang bekerja sebagai tukang las tak mencukupi."Sudah lama istri adik saya nuntut cerai, tapi tidak diceraikan adik saya. Akhirnya kabur istrinya, sejak itu adik saya sakit-sakitan," kenang Masuda yang memastikan bahwa selama perawatan tidak tersentuh oleh biaya jaminan kesehatan dari pemerintah baik itu yang nasional ataupun provinsi. "Birokrasinya terlalu panjang pak. Kalau pakai jaminan kesehatan yang dari provinsi, hanya sekedar biaya perawatan saja yang ditanggung dan obatnya generik," imbuhnya.

Rekomendasi