Saat ini terdapat sekitar 1.000 imigran gelap dari berbagai negara di Timur Tengah dan lainnya dalam pengamanan Kantor Imigrasi Pekanbaru. Mereka ditempatkan di dua lokasi, yakni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) di belakang Purna MTQ dan di Wisma Satria Jalan Cik Ditiro.Akibat membludaknya jumlah imigran gelap itu membuat masalah baru di Pekanbaru. Hal ini disebabkan kapasitas tampung Rudenim dan Wisma Satria hanya berkapasitas 120 orang. Akibatnya, setiap malam para imigran harus tidur di luar.Namun bukan perkara itu saja yang menjadi masalah. Para pria Timur Tengah dari Afghanistan dan Irak itu ternyata banyak digandruni oleh para wanita Pekanbaru. Tidak sedikit wanita lokal yang berkencan dengan para imigran gelap yang berhidung mancung itu.Tubuh yang tinggi besar, hidung mancung ternyata menjadi daya tarik yang kuat para imigran gelap. Bahkan kabar ini pun sudah sampai ke telinga MUI Pekanbaru.
Advertisement
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pekanbaru Profesor Ilyas Husti, mensinyalir adanya perilaku para imigran pencari suaka yang menjadi gigolo."Itu benar adanya. Bahkan kita sudah melihat bukti hasil investigasi salah satu TV Nasional, semua terlihat jelas transaksi mereka. Dimana mereka dijemput-diantar. Bahkan ada ketuanya yang dikenal dengan istilah germo," ungkap Ilyas Husti.Hingga kini sedikitnya 1.000 imigran dari Timur Tengah, dan Afghanistan memadati Pekanbaru untuk mencari suaka.Wali kota Pekanbaru mengatakan akan menindak tegas dengan melakukan deportasi terhadap imigran pencari suaka yang terbukti berprofesi menjadi pelacur pria atau gigolo di Ibu Kota Provinsi Riau itu.
Advertisement
"Kalau memang ada sampaikan siapa identitasnya," kata Wali kota Pekanbaru, Firdaus MT, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (28/3).Dia mengatakan, tindakan tegas berupa deportasi juga sudah disampaikannya kepada Kepala UNHCR (United Nasions High for Refugees) saat datang ke Pekanbaru beberapa waktu lalu. Wali Kota menuturkan, barang siapa yang bisa membuktikan dengan data, ada imigran gelap di Pekanbaru melakukan praktek asusila tersebut harap segera melapor langsung kepada dirinya.Wali Kota mengakui sejauh ini belum menerima laporan surat resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pekanbaru, terkait temuan imigran menjadi gigolo di Pekanbaru. Karena itu, dia berharap lembaga yang memang memiliki bukti agar segera melaporkan, sehingga dirinya bisa melakukan tindakan sesuai kesepakatan dirinya dengan kepala UNHCR beberapa waktu lalu.Dia juga sudah mengingatkan agar setiap imigran yang berada di Pekanbaru harus memiliki identitas khusus, sehingga mudah dipantau keberadaannya. Bukan hanya itu, dia meminta agar mobilitas imigran juga harus sesuaikan dengan batas waktu yang diberikan, maupun lokasi mana saja yang bisa dikunjungi.
Advertisement
"Nanti kalau terbukti orangnya, wali kota sendiri yang akan melayangkan surat ke UNHCR," paparnya.Jika perlu tegas dia, pihaknya juga akan meminta imigran tersebut dikeluarkan atau deportasi dari Pekanbaru. Ia juga berpesan kepada warga kota agar tidak mudah terayu khususnya kaum hawa, karena budaya mereka berbeda. Apalagi kalau harus melakukan perbuatan yang melanggar aturan agama sebagai pasangan suami istri."Bentengi diri anda, jangan karena kegantengan mudah terpesona," katanya.Firdaus menambahkan jika keadaan ini mulai membuat resah pihaknya akan memerintahkan tim yustisi untuk melakukan razia. "Kalau perlu tempat yang dimaksud ada temuan akan kita razia," katanya.