Ditinggal istri jadi TKW, Rukijo sering mabuk-mabukkan & main cewek

"Kalau istri sudah ngirim duit pasti saya sisihkan untuk beli miras dan main wanita," ujar Rukijo.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Ditinggal istri jadi TKW, Rukijo sering mabuk-mabukkan & main cewek
Ilustrasi Bunuh Diri. ©2014 Merdeka.com

Menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri sebenarnya bukan pilihan Sarmini (36) warga Kanoman, Desa Menuran, Sukoharjo, Jawa Tengah. Kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, membuat wanita dua anak ini harus banting tulang untuk membantu Rukijo (45) suaminya memenuhi kebutuhan hidup. Maklum saja Rukijo hanya bekerja serabutan, dengan upah di bawah layak.Kondisi tersebut membuat Sarmini memutuskan untuk bekerja ke Malaysia menjadi pembantu rumah tangga. Dia berharap di negeri jiran itu bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik."Saya berangkat ke Malaysia sebenarnya terpaksa mas. Tapi kalau enggak ke sana, buat beli susu dan makan keluarga tidak cukup," ujar Sarmini saat ditemui merdeka.com di rumahnya.Dengan gaji sekitar Rp 4 sampai Rp 5 juta, dia mengaku kebutuhan keluarga bisa dipenuhi. Dia mengaku pergi ke Malaysia sejak 15 tahun lalu. Setiap bulan dia tidak lupa mengirimkan uang untuk suami dan kedua anaknya; Dwi dan Sarwandi.Meski kebutuhan hidup bisa terpenuhi, Sarmini tak lantas merasa bahagia. Di Malaysia, dia sering teringat anak-anaknya yang masih kecil. Belum lagi ditambah kabar tak mengenakkan tentang suaminya yang suka mabuk-mabukkan dan main perempuan. Hal itulah yang membuat Sarmini sementara ini pulang ke Indonesia."Saya belum tahu kapan akan kembali lagi ke Malaysia mas. Kalau dengar suami saya seperti ini, ya sedih. Tapi kalau saya enggak balik lagi, siapa yang mencukupi kebutuhan keluarga," keluhnya.Beruntung kedua anak Sarmini dan Rukijo saat ini sudah cukup dewasa. Keduanya bahkan sudah lulus SMA dan bekerja. Sehingga tak terlalu memberatkan kedua orang tuanya.Sementara itu Rukijo saat dimintai konfirmasi tak banyak berbicara. Namun dia membenarkan sering minum minuman keras dan main perempuan saat istrinya bekerja ke luar negeri. Kebutuhan biologis menjadi faktor utama penyebab dia melakukan perbuatan terlarang itu."Saya bingung mas, banyak teman yang ngajak minum. Saya enggak bisa nolak, bahkan anak saya juga sering ikut minum," akunya.Tak hanya itu, dia mengaku sering berkencan dengan wanita tuna susila. Apalagi saat minuman keras sudah menguasainya, hasrat untuk melakukan hubungan intim pun sulit dibendung."Kalau istri sudah ngirim duit pasti saya sisihkan untuk beli miras dan main wanita. Kadang uang SPP anak saya juga habis buat foya-foya," ucapnya.Namun setelah anak-anaknya dewasa dan salah satunya menikah, Rukijo mengaku merasa malu. "Saya malu sama menantu saya, jadi sekarang berusaha tidak minum lagi," tuturnya.Rukijo mengaku sebenarnya malu mendapatkan nafkah dari istrinya. Namun jika hanya mengandalkan pekerjaannya yang tak tentu, kebutuhan keluarga tak tercukupi. "Sebenarnya saya malu, uang kiriman istri saya yang kerja keras di jauh, malah saya pakai berfoya-foya," tandasnya.Rukijo saat ini belum bisa menentukan sikap, apakah akan mengizinkan lagi istrinya bekerja di luar negeri. Di satu sisi jika istrinya kembali ke luar negeri maka kebutuhan keluarga akan tercukupi. Sebaliknya jika tetap di rumah kebutuhan tidak bisa tercukupi."Kalau dia balik lagi saya takut jadi mabuk dan main perempuan lagi. Tapi kalau di rumah kebutuhan kita yang kurang. Tapi saya berjanji akan bekerja keras, kalau istri saya mau tinggal di rumah," pungkasnya.

Rekomendasi