Jamu adalah salah satu tradisi turun temurun yang dimiliki Bangsa Indonesia. Ramuan herbal dari berbagai tanaman ini dipercaya sebagai obat dari berbagai jenis penyakit. Tak heran banyak pabrik jamu yang ada di Indonesia.Salah satu pabrik jamu yang paling kesohor di Tanah Air adalah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer (PT Nyonya Meneer). Perusahaan yang berdiri sejak 1919 ini pabriknya berada di Semarang, Jawa Tengah. Berdirinya perusahaan ini diawali oleh keterbatasan Nyonya Meneer atau yang terlahir dengan nama Lauw Ping Nio. Nama Nyonya Meneer sendiri ternyata punya riwayat unik. Saat Lauw Ping Nio masih di dalam kandungan, sang ibu nyidam beras sisa atau yang biasa disebut menir oleh orang Jawa. Karena nyidam menir, ini sang Ibu kemudian menjuluki Lauw Ping Nio, Menir. Dari kata menir ini kemudian berubah menjadi Meneer karena pengaruh bahasa Belanda.Nyonya Meneer lahir di kota Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1893. Setelah menikah, dia bersama suaminya pindah ke Kota Semarang. Namun sang suami sering sakit-sakitan dan Nyonya Meneer lalu membuatkan jamu resep turun temurun keluarga. Tanpa disangka penyakit suaminya sembuh dengan jamu racikan Nyonya Meneer. Nyonya Meneer yang ringan tangan kemudian mulai membantu kerabat, tetangga, dan orang-orang di sekitarnya yang diserang demam, sakit kepala, masuk angin dan terserang berbagai penyakit ringan lainnya.
Advertisement
Sebagian besar yang mencobanya puas. Dari sinilah, akhirnya Nyonya Meneer memulai usaha pembuatan jamu yang diwariskan turun temurun kepada anak dan cucu-cucunya. Perusahaan itu awalnya bernama, Jamu Cap Potret Nyonya Meneer yang resmi berdiri pada tahun 1919. Pabrik jamu ini kemudian menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Pangsa pasarnya pernah merambah internasional, dan dipasarkan ke tiga benua yaitu Asia, Eropa, dan Amerika dan ke 12 negara termasuk Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan dan China. Dalam perkembangannya, perusahaan ini pernah mengalami kemajuan pesat pada tahun 1990-an. Namun perusahaan Nyonya Meneer juga pernah mengalami krisis operasional pada tahun 1984-2000 karena adanya sengketa perebutan kekuasaan hingga ke meja hijau. Media pernah mencatat beberapa kali masalah-masalah pekerja dan pemogokan buruh terjadi pada tahun 2000-2001 di perusahaan jamu ini. Di antara lain, penuntutan pembayaran THR, pemogokan kerja, masalah HAM, dan demonstrasi. Operasional perusahaan yang saat itu dipegang oleh ke lima cucu Nyonya Meneer akhirnya diambil oleh Charles Ong Saerang, salah satu cucu Nyonya Meneer yang membeli warisan cucu lainnya untuk mengakhiri perebutan kekuasaan. Sejak perbaikan manajemen di bawah kepemimpinan Charles Saerang, tidak tercatat lagi masalah kepegawaian di perusahaan ini.
Advertisement
Perusahaan ini juga telah mendirikan Museum Jamu Nyonya Meneer di Semarang yang menjadi museum jamu pertama di Indonesia pada tanggal 1984. Tujuan didirikannya museum ini adalah untuk menjadi cagar budaya yang dapat melestarikan warisan leluhur dan menjadi sarana pendidikan dan rekreasi generasi muda.Namun kini perusahaan jamu ini kembali menghadapi badai. PT Nyonya Meneer digugat oleh PT Nata Meridian Investara, karena tidak sanggup membayar kewajiban utangnya terhadap pemasok tunggal perusahaan jamu tersebut.Sidang gugatan yang digelar di Pengadilan Tata Niaga Semarang, Senin (9/3) memasuki masa akhir pembahasan pengajuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang oleh PT Nyonya Meneer terhadap pada debiturnya. Juru bicara PT Nyonya Meneer Erni Widyaningrum menyatakan sudah mengajukan penawaran untuk menjadwal kembali pembayaran utang-utangnya dalam persidangan yang sudah digelar."Kami mengajukan untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran utang dalam tempo lima tahun," ucapnya.Akhirnya Pengadilan Tata Niaga Kota Semarang memberi waktu 90 hari bagi PT Nyonya Meneer untuk menyelesaikan mediasi penundaan pembayaran kewajiban utangnya.
Advertisement
"Karena belum ada kesepakatan besaran utang piutang antara PT Nata Meridian Investara dengan PT Nyonya Meneer, maka kami beri waktu tambahan selama 90 hari terhitung 11 Maret ini," kata Hakim Ketua Dwiarso Budi dalam sidang di Pengadilan Tata Niaga Kota Semarang, Rabu.Menurut dia, perpanjangan waktu tersebut dinilai cukup lama mengingat besaran selisih klaim utang antara PT Nyonya Meneer dan distributor tunggalnya itu. PT Nata Meridian Investara mengklaim besar utang yang harus dibayar mencapai Rp 110 miliar, sementara PT Nyonya Meneer mengklaim utangnya hanya sekitar Rp 17 miliar.Masa mediasi damai tersebut, lanjut dia, akan berakhir pada 8 Juni 2015. Namun, menurut Dwiarso, jika sebelum masa akhir mediasi tersebut telah terjadi perdamaian, maka majelis hakim bisa sesegera mungkin menggelar sidang penetapan."Mediasi damai selanjutnya akan diserahkan kepada Pengurus Kreditor PT Nyonya Meneer dan hakim pengawas yang sudah ditunjuk," kata Ketua Pengadilan tata Niaga Kota Semarang ini.Usai sidang, Ketua Tim Pengurus Kreditor PT Nyonya Meneer Dedy A Prasetyo mengatakan waktu yang diberikan majelis hakim ini lebih lama dari permintaan yang disampaikan sebelumnya selama 15 hari. Dengan putusan ini, lanjut dia, tim pengurus akan menyusun kembali jadwal untuk mediasi antara PT Nata Meridian Investara dan PT Nyonya Meneer.
Advertisement
"Agenda utama dari perpanjangan waktu yang diberikan ini sebenarnya hanya mencari titik temu besaran utang antara dua perusahaan ini," tuturnya.Sebelumnya, PT Nata Meridian Investara melayangkan gugatan ke Pengadilan Tata Niaga Semarang terhadap PT Nyonya Meneer atas kewajiban pembayaran utang dengan total Rp 110 miliar. Utang tersebut terbagi atas utang senilai Rp 89 miliar dan berwujud barang senilai Rp 21 miliar.Dari hasil persidangan, terungkap total kewajiban pembayaran utang yang harus dipenuhi PT Nyonya Meneer terhadap 36 kreditornya mencapai sekitar Rp 267 miliar.Lalu bagaimana akhir perjalanan Nyonya Menner yang berdiri sejak 1919 itu? Hasilnya tentu menunggu mediasi. Meski demikian PT Nyonya Meneer menegaskan gaji para karyawannya selalu dibayarkan sesuai dengan haknya hingga saat ini, meski perusahaan jamu tersebut sedang bermasalah dengan hutang piutang."Gaji karyawan selalu lancar, aktivitas produksi perusahaan juga masih lancar," kata juru bicara PT Nyonya Meneer Erni Widiyaningrum di Semarang, Kamis.Dia menuturkan PT Nyonya Meneer memiliki sekitar 1.300 karyawan yang masih bekerja hingga saat ini. Saat ini pabrik jamu ini juga masih berproduksi.