Siapa bilang anak berkebutuhan khusus tidak bisa mandiri. Sebanyak 15 anak difabel berkreasi membuat cokelat untuk orang-orang tersayang."Sudah sejak tahun lalu, kami membuka magang untuk anak difabel," ujar Ermey Tristianty atau yang kerap disapa Bunda Eyie, founder Dapur Cokelat, Kamis (12/2).Tujuan dari Bunda Eyie menerima anak difabel magang untuk membuktikan kalau mereka yang dianggap tidak bisa ternyata bisa melakukan apa pun. Sampai saat ini, kurang lebih sudah ada 20 anak difabel yang magang."Putra pernah magang di Dapur Cokelat DSB dalam kurang lebih 6 bulan," ungkap Bunda Eyie sambil membantu Putra menghias cokelat. Putra merupakan siswa SMA Pangudiluhur jurusan Tata Boga yang hadir dalam acara tersebut bersama 6 orang teman lainnya serta seorang guru pendamping. Senyum keceriaan terlihat dari para siswa kelas XII SMA ini menunjukkan antusias mereka yang tinggi.Mereka mempersembahkan cokelat hasil karyanya untuk orangtua. Tetapi Putra memberikannya untuk Agnes, guru pendamping yang sabar mengajari mereka."Saya enjoy saja mengajar mereka. Saya senang. Emang harus punya sabar yang lebih," jawab Agnes.Sama dengan Agnes, Sari dan Nisa juga merasa nyaman mengajar anak difabel di SLB Asih Budi, Tebet. "Pertama kali lihat ponakan saya sendiri yang memiliki kebutuhan khusus, semenjak itu saya tertarik untuk mempelajari lebih jauh," tuturnya.
"Lalu, saya ambil jurusan Pendidikan Luar Biasa di UNJ dan sampai sekarang saya nyaman berada di dekat mereka," papar Nisa sambil asik memperhatikan muridnya berkreasi," tambahnya.Para siswa Asih Budi yang datang berjumlah 8 orang dengan kisaran usia 12-16 tahun, namun mereka masih duduk di kelas III-VIII. Grace misalnya, gadis difabel ini berusia 12 tahun. Meski belum pandai menuliskan kata-kata pada cokelat yang dihiasnya, dia begitu murah senyum dan selalu mengucapkan terima kasih setiap kali dibantu atau diajak berkomunikasi. "Ini nih, Grace, si pemalu. Sekarang namanya ganti jadi Miss thank you," canda Bunda Eyie. Lain cerita dengan siswa Asih Budi yang paling tua usianya, Putra. Dia lebih mudah diajak berkomunikasi dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.
Usianya sudah menginjak 16 tahun membentuk pribadinya lebih pendiam. Meski bisa berkomunikasi, dia tetap tidak banyak bicara.Selain membuat cokelat, anak difabel dari Yayasan Asih Budi ini juga pandai bernyanyi. Di akhir acara mereka bersama-sama menghibur pengunjung yang hadir dengan menyanyikan beberapa lagu.