Laskar Bali akui jual jasa keamanan tempat hiburan dan hotel

"Tidak benar kita main palak. Setiap tempat usaha di suatu tempat, kami izin dahulu ke banjar untuk masuk," ujar Korlap

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Laskar Bali akui jual jasa keamanan tempat hiburan dan hotel
Laskar Bali. ©2015 Merdeka.com

Laskar Bali (LB) disebut-sebut hidup dengan jasa pengamanan tempat hiburan hingga hotel di Pulau Dewata. Terkait hal tersebut, salah seorang korlap Laskar Bali tidak membantah bila mereka hidup dengan menjual jasa keamanan di tempat-tempat hiburan. "Memang benar anggota kami selalu ada di sejumlah tempat hiburan malam, bahkan ada juga di hotel-hotel. Namun tetap kami tanamkan budaya kulonuwun (permisi)," kata salah satu korlap anggota Laskar Bali di wilayah Monang Maning, Denpasa Bali, Selasa (3/2).Katanya, Bali itu kompleks. Di mana ada pengamanan adat banjar yang disebut dengan Pecalang. Bilamana ada suatu tempat usaha di suatu wilayah, LB akan minta izin dahulu ke pihak banjar untuk minta jatah masukkan pengaman. Itupun harus berdampingan dengan pemuda lokal setempat. Namun bila tidak diizinkan, LB harus legowo."Tidak benar kita main palak. Setiap tempat usaha di suatu tempat, kami izin dahulu ke banjar untuk masuk. Kalau diizinkan, lewat rekomendasi banjar kami ke tempat usaha tersebut, hanya sebagai pengaman (Sekuriti). Kalau ternyata sudah ada, kami menyingkir, tidak perlu ribut," ungkapnya.Dipertegas juga, bahwa segala bentuk pengamanan kontrak kerjanya jelas. Dan setiap tempat yang sudah terisi LB, wajib melaporkan agar tidak terjadi tumpang tindih."Apapun kegiatan kami, tetap wajib lapor pak. Kami bukan preman, protapnya jelas," tegas korlap yang meminta jangan disebutkan namanya ini.Sebelumnya, situs Rocketnews24, Selasa (2/2), melansir kabar mengejutkan. Dalam daftar yang mereka susun, Organisasi Masyarakat Laskar Bali masuk dalam kategori geng kriminal paling berbahaya di Asia.Laskar Bali dinilai bisnis pariwisata lewat aksi memalak yang ekstrem. Situs Rocketnews pun memetakan ada lima geng besar di Pulau Dewata, tapi Laskar Bali adalah penguasanya. Rata-rata punya izin resmi dari pemerintah sebagai dengan status paguyuban keluarga besar."Laskar Bali menjalin banyak kontrak pengamanan dengan restoran dan kelab malam kawasan wisata di Bali. Mulai dari Kuta, Legian, hingga Seminyak, dijaga oleh anggota Laskar Bali," ungkap Amy Chavez, penulis artikel tersebut.Ormas ini sempat pecah kongsi, menghasilkan geng Baladika yang juga fokus menjalankan bisnis pengamanan. Anggotanya mencapai 25 ribu orang.Amy mengaku mendapatkan informasi bahwa warga lokal pun tidak suka dengan sepak terjang Laskar Bali. "Mereka sangat berkuasa," kata salah satu narasumber bernama Ketut.Adapun pengguna jasa Laskar Bali, bernama Wayan, menilai ormas ini tidak berbahaya. Pemilik restoran di Pantai Sanur itu merasa bisnisnya aman berkat bantuan anggota laskar. Tiap bulan dia membayar jasa pengamanan senilai Rp 500 ribu. Sedangkan hotel berbintang biasanya dipatok tarif Rp 1 juta."Jika ada yang bikin onar di restoran kami, (Laskar Bali) bergerak lebih cepat dari polisi," ungkap Wayan.Sedangkan dalam buku 'Snowing in Bali' yang ditulis Kathryn Bonella, Laskar Bali punya bisnis kotor di balik jasa pengamanan. Ormas ini dituding memuluskan perdagangan narkoba, senjata ilegal, serta prostitusi. "Laskar Bali bisa lepas dari stigma karena setiap ada anggota berbuat onar, maka organisasi ini akan mengatakan tidak ada kaitannya," tulis Bonella.Saking berkuasanya, Bonella menyebut polisi atau surat kabar lokal di Bali tidak akan berani mengungkap sepak terjang ormas tersebut. Selain Laskar Bali, rocketnews memasukkan nama Yakuza Yamaguchi-gumi dan Triad di Makau sebagai geng berbahaya di Asia lainnya.

Rekomendasi