Melongok Candi Ngetos Nganjuk, makam Raja Hayam Wuruk Majapahit

Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai dan Aru (sekarang Deli, dekat Medan ).

Imam Mubarok
Oleh Imam Mubarok - Reporter
Melongok Candi Ngetos Nganjuk, makam Raja Hayam Wuruk Majapahit
Candi Ngetos Makam Raja Hayam Wuruk. ©2015 Merdeka.com/Imam Mubarok

Bisa dibilang raja Majapahit paling tersohor adalah Hayam Wuruk. Sebab pada era kekuasaannya, bersama Patih Gajah Mada raja ini konon disebut-sebut meraih kejayaannya dengan mempersatukan Nusantara pada 1350-1389. Arti nama Hayam Wuruk sendiri adalah "ayam yang terpelajar". Hayam Wuruk adalah putra pasangan Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Kertawardhana alias Cakradhara. Ibunya adalah putri Raden Wijaya pendiri Majapahit, sedangkan ayahnya adalah raja bawahan di Singhasari bergelar Bhre Tumapel. Dia lahir tahun 1334. Peristiwa kelahirannya diawali dengan gempa bumi di Pabanyu Pindah dan meletusnya Gunung Kelud. Penjelasan tentang kelahiran Hayam Wuruk ini tertuang dalam pupuh ke-4 Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca dengan terjemahan Bahasa Indonesia oleh Ketut Riana, S.U sebagai berikut."Pada tahun Rttusarena-1256 (1334 masehi) lahirlah baginda yang dinobatkan sebagai raja. Sejak dalam kandungan di Kahuripan telah ada tanda-tanda baginda yang sangat luar biasa, gempa, bumi bergoncang, hujan debu, gemuruh halilintar, kilat bersambung di langit. Gemuruh suara Gunung Kampud bergetar banyak orang-orang yang hina dan jahat mati tak berdaya."Penggambaran tentang sosok Hayam Wuruk oleh Mpu Prapanca dilukiskan sebagai titisan Dewa Hyang Giri Pati. Dalam Pararaton (Padmapuspita, 1996) dan Kidung Pararaton (Riana, 2007), Hayam Wuruk banyak memiliki gelar sesuai dengan bidangnya.Pada tahun kelahiran Hayam Wuruk itu pula Sang Maha Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Sumpah yang kemudian membawa masa keemasan Majapahit dengan penyatuan Nusantara.Hayam Wuruk memiliki adik perempuan bernama Dyah Nertaja alias Bhree Pajang, dan adik angkat bernama Indudewi alias Bhree Lasem, yaitu putri Rajadewi, adik ibunya.Permaisuri Hayam Wuruk bernama Sri Sudewi bergelar Paduka Sori putri Wijayarajasa Bhre Wengker. Dari perkawinan itu lahir Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana putra Bhre Pajang. Hayam Wuruk juga memiliki putra dari selir yang menjabat sebagai Bhre Wirabhumi, yang menikah dengan Nagarawardhani putri Bhre Lasem.Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai dan Aru (sekarang Deli, dekat Medan ). Majapahit juga menghancurkan Palembang, sisa-sisa pertahanan Kerajaan Sriwijaya (1377). Dengan bantuan Mahapatih Gajah Mada, ia menaklukkan Logajah, Bantayan, Gurun Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Luwuk, Mengkasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor dan Dompo. Hanya sayang, akibat kesalahan langkahnya terutama dalam "Peristiwa Bubat", Gajah Mada dinonaktifkan sebagai patih pada 1357. Namun diangkat lagi jadi patih tahun 1359.

Candi Ngetos terletak di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, yang berjarak 17 Km dari arah Nganjuk Jawa Timur. Candi itu dikenal sebagai candi tempat pesemayaman abu jenazah Prabu Hayam Wuruk.

Candi dengan ciri bangunan Majapahit terletak ditepi jalan antara Kuncir (daerah wingit dan angker di Nganjuk yang tanahnya bertuah) dan Ngetos. Dalam papan keterangan yang tertulis menyebutkan candi ini dibuat pada abad XV (kelimabelas) yaitu pada zaman Kerajaan Majapahit.Candi tersebut dibuat sebagai tempat pemakaman raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Bangunan ini secara fisik sudah rusak, bahkan beberapa bagiannya sudah hilang, sehingga sukar sekali ditemukan bentuk aslinya.Berdasarkan arca yang ditemukan di candi ini, yaitu berupa arca Siwa dan arca Wisnu, dapat dikatakan bahwa Candi Ngetos bersifat Siwa–Wisnu. Dalam keterangan berbagai sumber menyebutkan jika dikaitkan dengan agama yang dianut raja Hayam Wuruk, maka hal itu sesuai yaitu agama Siwa-Wisnu. Menurut seorang ahli (Hoepermas), bahwa di dekat berdirinya candi ini pernah berdiri candi berukuran lebih kecil (sekitar 8 meter persegi), namun bentuk keduanya sama. N.J. Krom memperkirakan bahwa bangunan candi tersebut semula dikelilingi oleh tembok yang berbentuk bulat cincin. Bangunan utama candi tersebut dari batu merah, sehingga akibatnya lebih cepat rusak. Atapnya diperkirakan terbuat darikayu (sudah tidak ada bekasnya). Yang masih bisa dilihat tinggal bagian induk candi dengan ukuran sebagai berikut :• Panjang candi (9,1 m)

• Tinggi Badan (5,43 m)

• Tinggi keseluruhan (10 m)

• Saubasemen (3,25 m)

• Besar Tangga Luar (3,75 m)

• Lebar Pintu Masuk (0,65 m)

• Tinggi Undakan menuju Ruang Candi (2,47 m)

• Ruang Dalam (2,4 m).

Relief pada Candi Ngetos terdapat empat buah, namun karena faktor usia, saat ini hanya tinggal satu, sementara tiga yang lainnya telah hancur. Tidak hanya relief yang hilang, pigura-pigura pada saubasemennya (alasnya) juga sudah tidak ada lagi.

Jika diamati lebih teliti di bagian atas dan bawah pigura dibatasi oleh loteng-loteng, yang terbagi dalam jendela-jendela kecil berhiaskan belah ketupat, sementara tepinya tidak rata. Hal ini berbeda dengan bangunan bawahnya yang tidak ada piguranya, sedangkan tepi bawahnya dihiasi dengan motif kelompok buah danornamen daun. Bergeser pada sisi kanan dan kiri candi terdapat dua relung kecil yang di atasnya terdapat ornamen yang mengingatkan pada belalai makara. Namun jika diperhatikan lebih seksama, ternyata suatu bentuk spiral besar yang diperindah. Dindingnya terlihat kosong, tidak terdapat relief yang penting, hanya di atasnya terdapat motif daun melengkung ke bawah dan horizontal, melingkari tubuh candi bagian atas."Yang menarik, adalah motif kalamakara yang amat besar dan angker. Ukuran tinggi 2x1,8 meter. Keadaanya masih utuh dengan wajah yang menakutkan namun berwibawa dan berfungsi sebagai penolak bahaya," kata Yudi Pitulasdrajad pemerhati sejarah pada merdeka.com Ditambahkan Yudi, motif kala semacam ini didapati hampir pada seluruh percandian di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. "Hampir semua motif ini jika diperhatikan dari India dan masuk ke Nusantara pada zaman Hindu. Motif ini biasanya terdapat di pintu muka candi," ujarnya.Namun menurut penuturan beberapa penduduk yang dapat dipercaya, bahwa di dalam candi ini terdapat dua buah arca, paidon (tempat ludah) dan baki yang semuanya terbuat dari kuningan. Prof Dr. N.J Krom mengatakan, di Candi Ngetos juga pernah ditemukan sebuah arca Wisnu yang kemudian disimpan di Kediri. Sedangkan yang lain tidak diketahui tempatnya.

Meskipun demikian bisa dipastikan bahwa Candi Ngetos bersifat Siwa-Wisnu, walaupun mungkin peranan arca Wisnu di sini hanya sebagai arca pendamping. Siwa sebagai arca utama. Hal ini sama dengan arca Hari-Hara yang terdapat di Simping, Sumberjati yang berciri Wisnu."Candi Ngetos, yang sekarang tinggal bangunan induknya yang sudah rusak itu, dibangun atas prakarsa raja Hayam Wuruk. Itu sesuai dengan papan yang tertera di halaman candi yang dipasang oleh BPCB Trowulan," ungkap Yudi.Uraian tentang cerita candi ini dijelaskan bahwa tujuan pembuatan candi ini sebagai tempat penyimpanan abu jenazahnya jika kelak wafat. Hayam Wuruk ingin dimakamkan di situ karena daerah Ngetos masih termasuk wilayah Majapahit yang menghadap Gunung Wilis, yang seakan-akan disamakan dengan Gunung Mahameru. Pembuatan candi diserahkan pada pamannya raja Ngatas Angin, yaitu Raden Condromowo, yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selopurwoto. Raja Ngatas Angin, mempunyai patih bernama Raden Bagus Condrogeni, yang pusat kepatihannya terletak di sebelah barat Ngatas Angin, kira-kira berjarak 15 km.Diceritakan, bahwa Raden Ngabei Selopurwoto mempunyai keponakan bernama Hayam Wuruk yang menjadi raja di Majapahit. Hayam Wuruk semasa hidup sering mengunjungi pamannya dan juga Candi Lor. Candi Lor adalah candi yang dibuat oleh Mpu Sindok (era Mataram Hindu di Jawa Timur), sebagai rasa syukur atas kemenangan penyerbuan kerajaan Melayu pada tahun 937 Masehi. Wasiat Hayam Wuruk kepada pamannya menjelaskan nanti ketika Hayam Wuruk wafat, jenazahnya dibakar dan abunya disimpan di Candi Ngetos. Raja-raja ini ditugaskan oleh Hayam Wuruk untuk membuat kompleks percandian. Raden Ngabai Selopurwoto di kompleks Ngatas Angin menugaskan Empu Sakti Supo (Empu Supo) untuk membuat kompleks percandian di Ngetos.

Menurut Yudi yang juga penggiat Pelestari Sejarah dan Budaya Kediri. Tempat penyimpanan abu jenazah Hayam Wuruk bukanlah pada candi yang sekarang ini, melainkan pada candi yang sekarang sudah tidak ada lagi.Hanya bedanya, yang satu lebih besar dibanding lainnya. N.J Krom juga berpendapat, bahwa di sekitar Candi Ngetos ini terdapat sebuah Paramasoeklapoera, tempat pemakaman Raja Hayam Wuruk. "Konon ceritanya pula, di Ngetos dulu terdapat dua buah candi bangunannya sama (kembar), sehingga mereka namakan Candi Tajum," ujar Yudi.

Rekomendasi