Bripda Taufiq puasa Senin-Kamis demi lolos jadi polisi

Sebelum mendapat pekerjaan dia ikut ayahnya menambang pasir di Sungai Boyong.

Kresna
Oleh Kresna - Reporter
Bripda Taufiq puasa Senin-Kamis demi lolos jadi polisi
Bripda Taufiq. ©2015 Merdeka.com/kresna

Sebelum menjadi polisi, Bripda Taufiq pernah melakoni berbagai pekerjaan. Mulai dari penambang pasir di sungai Boyong sampai menjadi penjaga perpustakaan di SMK 1 Sayegan tempatnya dulu menimba ilmu.Setelah lulus SMK pada tahun 2013, Bripda Taufiq harus bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Sebelum mendapat pekerjaan dia ikut ayahnya menambang pasir di sungai Boyong.Di sana dia membantu mengambil pasir lalu dipindahkan ke mobil bak butut milik ayahnya. Adik-adiknya kadang juga turut membantu. Ikut ayahnya menambang pasir tidak terlalu lama. Dia ditawari pekerjaan sebagai penjaga perpustakaan."Kalau ikut nambang sejak masih sekolah, waktu lulus jadi sering dari pada nganggur, setelah itu jadi penjaga perpustakaan," ujarnya, Kamis (15/1).Selain menjadi penjaga perpustakaan, dia juga membantu pembina pramuka di SMK 1 Sayegan untuk melatih. Dari situ juga dia mendapatkan tambahan penghasilan."Jaga perpustakaan itu Rp 500ribu perbulan, ditambah membantu pembina pramuka jadinya sekitar Rp 700 ribuan, lumayan bisa bantu bapak," katanya.Saat menjadi penjaga perpustakaan dia menggunakan waktu senggang untuk membaca buku. Sesekali dia berlatih psikotes untuk persiapan tes masuk polisi."Hanya beberapa kali saja latihan soal-soal, lebih banyak latihan fisik," tandasnya.Pada tahun 2014 dia kemudian mendaftar polisi. Berkat usahanya dia akhirnya lulus ujian polisi. Dia pun menyelesaikan pendidikan polisinya 29 Desember 2014 lalu dan kini bertugas di satuan Sabhara Polda DIY."Saya sampai puasa Senin-Kamis, itikad biar bisa diterima. Bukan cuma karena cita-cita saya, tapi demi adik-adik dan bapak. Alhamdulillah Allah mendengar doa saya," ucapnya.

Rekomendasi