Tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah. Kira-kira inilah yang diterapkan oleh para santri Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) yang terletak di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan, Jawa Timur. Pada hakikatnya bersedekah bukanlah melulu soal memberikan bantuan berupa uang, namun ada juga hal-hal lain yang dapat kita berikan untuk kebaikan orang lain, seperti misalnya keahlian.
Berawal dari kebiasaan para santri yang suka mengotak-atik barang elektronik yang sudah rusak lalu kemudian bisa berfungsi kembali, ide sedekah keahlian ini pun tercetus. Gus Naim, salah satu pengasuh Yayasan SPMAA menjelaskan bahwa dari kebiasaan para santrinya tersebut tercetuslah ide untuk memanfaatkan lampu-lampu yang sudah tidak berfungsi untuk difungsikan kembali dan selanjutnya dibagikan kepada warga yang membutuhkan secara cuma-cuma.
Lampu-lampu rusak dan tidak terpakai tersebut diperoleh dari rumah warga sekitar dan dari tempat sampah. Lampu-lampu itu dibongkar kembali, kemudian direparasi ulang. Jika diperlukan adanya pembelian onderdil baru, maka akan dibelikan dengan harga yang relatif murah. Harga onderdil lampu berkisar antara Rp 500 – Rp 700. Namun mereka belum mampu mereparasi lampu-lampu yang mengalami kerusakan di bagian tabungnya. Selanjutnya, lampu-lampu yang sudah bisa berfungsi kembali dibagikan pada warga secara gratis.
Gus Naim juga menekankan prinsip tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah pada seluruh santrinya. “Ini soal prinsip, ideologi. Dulu founding fathers kami, guru kami mengajarkan bahwa sedekah itu jangan nunggu kaya dulu. Fokus pada apa yang bisa kita sedekahkan kepada orang lain meski kita dalam keadaan tidak punya,” ujarnya.
Selain membagikan lampu hasil reparasi secara gratis kepada para warga sekitar, yayasan SPMAA juga kerap aktif di bidang sosial. Misalnya saat letusan Gunung Kelud yang terjadi beberapa waktu lalu, beberapa santri dari yayasan ini turut membantu para korban di pengungsian.
Yayasan yang menaungi sekolah tingkat menengah pertama dan atas ini telah memiliki puluhan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Yayasan ini juga tidak hanya menaungi santri yang beragama islam saja, namun juga santri dengan latar belakang agama lainnya. “Santri-santri kami bukan hanya muslim saja, bahkan santri kami ada yang berprofesi sebagai pastor, pendeta dan biarawati,” ujar Gus Naim.