Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beberapa waktu lalu mengirimkan surat resmi untuk meminta Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud menunda eksekusi terhadap Tenaga Kerja Indonesia, Satinah. Apalagi, batas akhir pembayaran uang darah (diat) akan berakhir besok (3/4)."Beberapa waktu lalu memang telah dikirim ke presiden, intinya meminta eksekusi untuk deadline 3 April bisa diundur. Ini yang kita perjuangkan dengan konsekuensi pemerintah sekuat tenaga membebaskan Satinah. Saya belum menerima balasan," ungkap Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (2/4).Meski demikian, pemerintah telah mengirimkan satuan tugas (satgas) untuk memastikan Satinah tidak dieksekusi usai menerima vonis mati dari pengadilan setempat. Vonis tersebut dijatuhkan kepada Satniah karena dituduh telah membunuh majikannya sendiri."Presiden memonitor, mereka sedang berusaha. Ini dengan pihak keluarga yang korban. Jadi sebetulnya untuk urusan dengan pemerintah sudah dilakukan," lanjutnya.Terkait laporan dari migran care tentang adanya mafia TKI, Julian mengaku tidak mengetahuinya. Sebab, seluruh tindakan yang dilakukan untuk melepaskan Satinah dari hukuman mati sudah diserahkan melalui satgas."Soal itu belum dengar langsung, Tim Satgas akan melaporkan apa yang mereka dapatkan, meskipun tentu kami mengikuti perkembangan yang beredar, sebagian dari berita itu, tuduhan yang menyebut ada pihak-pihak lain yang juga mafia, kami juga mendengar ada istilah-istilah meluas," ujarnya.
Besok Satinah dieksekusi, SBY tunggu surat balasan Raja Arab
Julian menegaskan, pemerintah telah mengirimkan satuan tugas (satgas) untuk memastikan Satinah tidak dieksekusi.
Rekomendasi