Dinas ESDM Jabar: Tak ada transaksi jual Gunung Ceremai Rp 60 T

Untuk memulai eksploitasi, Chevron belum mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari Gubernur Jabar.

Andrian Salam Wiyono
Oleh Andrian Salam Wiyono - Reporter
Dinas ESDM Jabar: Tak ada transaksi jual Gunung Ceremai Rp 60 T
Ilustrasi. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Belakang santer isu Gunung Ceremai, Jawa Barat yang dijual Rp 60 triliun kepada perusahaan Amerika Serikat Chevron Corporation. Hal itu langsung dibantah tegas Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat, Sumarwan HS.Menurut dia, selama ini tidak ada transaksi jual gunung tertinggi di Jawa Barat itu ke perusahaan asing. "Enggak ada. Itu salah," katanya kepada wartawan, Senin (3/3).Namun dia mengaku, PT Chevron melalui anak perusahaan PT Jasa Daya Chevron merupakan satu peserta lelang penanam modal atau investor Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Ceremai."Yang benar Chevron termasuk peserta tender," jelasnya. Perusahaan asal Amerika Serikat pada 2012 telah ditetapkan sebagai pemenang.Hanya saja untuk memulai eksploitasi, Chevron belum mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP). "Belum ada izin dari Gubernur dan belum ditandatangani," ujarnya.Sehingga dia mengaku heran dengan angka Rp 60 triliun yang dicantumkan pesan berantai tanpa pengirim jelas tersebut. Chevron menurut dia hanyalah salah satu peserta lelang penanam modal atau investor PLTP di Ceremai.Beberapa persyaratan pun diajukan Pemerintah kepada pemenang tender salah satunya harus melebur dengan BUMD di Jabar. "Nanti di konsorsium dengan beberapa perusahaan dalam negeri," ucapnya.Dia menambahkan, proses lelang investor beda dengan kegiatan lelang pengadaan barang dan jasa. "Mereka harus membuat perencanaan sampai nanti dia diterbitkan IUP-nya, sekarang belum ada IUP-nya, jadi itu prosesnya mereka investasi. Kalau beli gunung itu gimana ceritanya?" jelasnya.Kembali dia tegaskan bahwa bahwa tidak ada transaksi, dan angka investasi yang sudah ditetapkan hingga saat ini. "Angka 60 triliun itu dari mana? Yang jelas, transaksi itu tidak benar," pungkasnya.Dia pun meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah termakan isu, apalagi pesan yang kebenarannya belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. "Ini ada sebuah ketakutan eksploitasi seperti di Kamojang Papandayan Kabupaten Garut dan Gunung Salak Bogor," tandasnya.

Rekomendasi