Di awal kepulangannya di tanah air, Tan Malaka sempat bekerja di sebuah tambang batu bara romusha di Bajah Kozan, Banten. Saat itu Tan menggunakan nama palsu, yakni Ilyas Hussein.Tan harus bekerja karena uang di kantongnya sudah habis. Sementara ia belum mengetahui persis peta dan kondisi politik tanah air karena sudah 20 tahun berada di luar negeri sebagai buangan Belanda.Selama bekerja di Bajah Kozan, Banten, Tan Malaka bersama pekerja lainnya sesama orang Indonesia membuat berbagai kegiatan positif. Awalnya, dia mendirikan sebuah sandiwara dan menuliskan skenarionya.Sandiwara itu pun juga disetujui Jepang. Agar tidak mencurigakan, Tan menjadikan sandiwara sebagai sebuah hiburan. Padahal banyak pesan sindiran kepada Jepang di tiap lakonnya."Lakon pertama sekali bernama P2, huruf pangkal Prajurit Pekerja. Diceritakan di desanya oleh Son-co sampai dia ke Bajah, dan akhirnya dia sampai kering dipekerjakan atau sakit dan mati bergelimpangan di jalan ibarat 'sepah tebu yang dibuang sesudah manisnya habis," kata Tan seperti dikutip dari buku 'Dari Penjara ke Penjara'.Lakon kedua masih ditulisnya sendiri lantaran belum ada tenaga baru, yakni 'Hikayat Hang Tuah'. Sama seperti sebelumnya, sandiwara kali ini juga menyindir Jepang.Menurut Tan, setelah kedua lakon itu mendapat sambutan hangat, maka mulailah dia membuat penyusunan baru. Adapun lakon baru itu adalah lakon Diponegoro dan Puputan Bali."Di sini pun dimajukan kritik tajam terhadap imperialisme beserta anjuran tegas kepada prajurit. Pemuda dan rakyat supaya bersatu dan menjunjung tinggi hasrat kemerdekaan," ujarnya.Setelah menuai sukses di sandiwara, Tan Malaka juga mendirikan sebuah Orkestra guna membantu pertunjukan. Adapun biayanya ditanggung oleh perusahaan Bajah Kozan.Selain untuk pegawai, para romusha pun diberikan hiburan. Mereka dibelikan gamelan untuk permainan wayang dan ketoprak yang juga sering dipertunjukkan.Sementara guna kesehatan jasmani, para pegawai Bajah Kozan juga membuat tim sepak bola pertama. Biasanya, mereka bertanding dengan pegawai di perusahaan cabang, prajurit sukarela bahkan kesebelasan di daerah Banten."Klub kami sudah mendapatkan tempat yang baik sekali," jelas Tan membanggakan tim sepak bolanya.Tan menjelaskan, sandiwara dan sepak bola pegawai Bajah Kozan semakin moncer. Akhirnya, keduanya digabungkan dalam satu nama, yakni Pantai Selatan.Sandiwaranya pun sering diundang guna memainkan lakon-lakon yang pernah dipertunjukkan sebelumnya. Menurut Tan, mereka dipanggil huna menambah semangat rakyat dan pemuda lainnya.Khusus sepak bola, ungkap Tan, kesebelasan Bajah Kozan sebenarnya tidak memiliki lapangan. Sebenarnya, rakyat Bajah pernah menjanjikan sebuah lapang buat timnya.Sayangnya, hal itu belum juga terlaksana. Lantaran, pembuatan lapangan kekurangan para pekerja romusha.Untuk itu, Tan mengusulkan para pegawai Bajah Kozan membantu membangun sebuah lapangan setelah bekerja. "Sehabis bekerja di kantor kami sendiri menebang kayu, membuang batu dan mencangkul," terangnya.Tetapi, ketika lapangan itu baru selesai, Tan tidak pernah merasakannya. Sebab, dirinya meninggalkan Bayah, menuju Jakarta.
Cerita Tan Malaka sentil penjajah Jepang lewat sandiwara
Agar tidak mencurigakan, Tan menjadikan sandiwara sebagai sebuah hiburan.
Rekomendasi