Duka dan derita korban banjir dahsyat di Manado

Rumah dan mobil hanyut terbawa banjir. Ribuan orang mengungsi, dan belasan korban meninggal dunia.

Iqbal Fadil
Oleh Iqbal Fadil - Reporter
Duka dan derita korban banjir dahsyat di Manado
banjir manado. ©2014 merdeka.com/tommy a lasut

Banjir bandang yang melanda Manado dan sekitarnya membawa duka mendalam bagi warga dan keluarga korban. Berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (16/1) pagi, jumlah korban tercatat 13 orang tewas, 2 orang hilang, dan sekitar 40 ribu mengungsi.Hingga Kamis siang kemarin, 60 persen pengungsi dari jumlah 40 ribu jiwa sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Sebagian besar di antaranya sudah mulai membersihkan rumahnya dari sisa-sisa banjir bandang berupa lumpur dan sampah. Cuaca cerah membuat warga melakukan evakuasi barang-barang mereka."Sudah sekitar 60 persen sudah kembali ke rumahnya masing-masing untuk membersihkan rumahnya, dan kemudian korban itu ada 15, dua orang hilang," ungkap Kepala BNPB Syamsul Maarif di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (16/1).Meski begitu, akibat banjir kini dirasakan para korban. Di Ranotana Weru, Kecamatan Wanea, Manado mulai surut, meski statusnya masih siaga. Sementara itu kawasan Pal Dua dan Pal Empat masih terisolir akibat banjir. Akses dari Tomohon dan Minahasa ke Kota Manado masih terputus. Di Kabupaten Minahasa Utara, 3 desa dengan 1.000 jiwa terisolir akibat banjir dan longsor. Sedangkan di Kepulauan Sangihe, beberapa rumah tertimbun longsor.Pantauan merdeka.com di lokasi, Kamis (16/1), hujan di daerah itu sudah tak selebat kemarin siang. Sementara itu warga yang awalnya di pengungsian sudah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumahnya dari kotoran akibat banjir dan mengumpulkan harta benda yang masih bisa terpakai.Parahnya banjir kali ini dinilai lebih dahsyat dari kejadian sebelumnya meski jumlah korban kali ini lebih sedikit. Pada banjir tahun 2000 tercatat 22 korban tewas, dan pada Februari 2013 lalu 17 warga tewas.Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kombinasi antara faktor alam dan antropogenik yang menjadi pemicu terjadinya banjir bandang dan longsor di Manado dan sekitarnya. Hujan deras dipicu oleh sistem tekanan rendah di perairan selatan Filipina yang menyebabkan pembentukan awan intensif. Selain itu juga adanya konvergensi dampak dari tekanan rendah di utara Australia sehingga awan-awan besar masuk ke wilayah Sulut."4 Sungai besar di Kota Manado meluap dan menghanyutkan puluhan rumah dan kendaraan," imbuhnya.Dampak lainnya akibat cuaca ekstrem, membuat gelombang tinggi terjadi di perairan Manado. Jalur laut Manado-Tahuna berhenti total. Kapal-kapal yang biasanya melayani rute ini enggan beroperasi karena sangat berisiko.Kondisi ini membuat harga sejumlah bahan pokok di kota Tahuna, Sulawesi Utara langsung meroket. Harga cabe rawit menyentuh angka Rp 300 ribu/kg, tomat mencapai Rp 100 ribu/kg, sementara telur ayam Rp 5 ribu/butir. Sedangkan ikan laut bahkan sulit ditemui di pasar tradisional.BPBD Prov Sulut berkoordinasi dengan BPBD Kab/Kota, TNI, Polri, SAR, RAPI, Tagana, PMI, relawan dan lainnya bersama-sama membantu mengevakuasi masyarakat. Seluruh logistik dan peralatan di BPBD dikerahkan seperti dapur umum, perahu karet, tenda, matras, selimut, makanan dan lain-lain. Kebutuhan mendesak yang diperlukan hingga kini adalah perahu karet, tenda, matras, selimut, makanan, pakaian dan kebutuhan dasar.Dari Jakarta, Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri menyatakan, bantuan bagi korban bencana banjir bandang di Manado, Sulawesi Utara segera dikirimkan mulai Kamis. Pengiriman tersebut menggunakan pesawat Hercules melalui Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta.Salim melanjutkan, pengiriman tersebut akan terus dilakukan agar gudang logistik yang disiapkan bagi para korban dan pengungsi tidak kosong. Jika mengalami kekosongan, maka butuh waktu lama untuk mengambil stok logistik lainnya yang diambil dari Ujung Pandang. "Jadi ini sebelum habis kita isi lagi," ucapnya.Sepengetahuan Salim, para pengungsi saat ini membutuhkan kebutuhan dasar berupa 50 ton beras untuk sehari-hari. Tim relawan juga telah mempersiapkan seribu dus berisi mie instan ke lokasi bencana. "Kemudian ikan kaleng 500-an untuk hari-hari ini harus disiapkan," terang Salim.Kementerian Sosial juga akan membantu pemulihan infrastruktur yang rusak akibat bencana banjir bandang tersebut. Namun, belum diketahui berapa jumlah kerusakan yang timbul."Ini kan semuanya tidak bisa dalam waktu dekat, semuanya agak lama. Karena berkaitan dengan jembatan, jalan dan seterusnya. Belum lagi rumah yang hancur, kita ndak tahu berapa jumlahnya," ujarnya.

Rekomendasi