Hidup di dalam penjara tidak membuat Edhi Sunarso , sang pematung Tugu Pancoran dan Tugu Selamat Datang patah arang. Justru di dalam penjara inilah dia mulai mempelajari seni. Setelah mengalami penyiksaan panjangan dan beberapa kali pindah penjara, akhirnya Edhi Sunarso dipindahkan di penjara Karangwaru, Bandung. Kondisi penjara relatif lebih nyaman, tidak ada lagi penyiksaan oleh tentara KNIL dan sel tahanan pun lebih manusiawi dari sebelumnya yang hanya berukuran 2x2 namun diisi oleh 22 orang.Di Karangwaru dia mulai melukis dan membuat kerajinan tangan bersama dengan 2.400 tahanan lainnya. Semua peralatan menggambar seperti conte, krayon dan kertas bisa dia dapatkan di kantin. Barang-barang tersebut dia beli dengan uang saku bagi para tahanan sebesar 2 gulden yang diberikan setiap hari Sabtu.Pada Juli 1949, Edhi mendapat panggilan dari kantor pimpinan L.O.G Kamp Karangwaru. Dia dinyatakan dibebaskan sebagai tawanan perang. Rasa gembira menyelimuti hati Edhi. Dia mendapat selamat dari kawan-kawannya di tahanan. Namun ketika hendak beranjak dari penjara, dia justru bingung karena tidak punya tujuan untuk pulang. Saat itulah Edhi memutuskan untuk ke Yogyakarta bergabung dengan pasukan di sana. Dalam perjalanannya, Edhi secara tidak sengaja bertemu dengan keluarga aslinya di Salatiga. Setelah menemui orang tuanya dan saudaranya, Edhi memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke Yogyakarta.Sesampainya di Yogyakarta Edhi bergabung di KUDP (Kantor urusan Demobilisasi Pejuang). Setiap harinya Edhi harus ikut melakukan Apel sore di Gedung Agung. Suatu hari dalam perjalanan menuju apel, Edhi melewati kampus ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang terletak di Jalan Tanjung. Melihat kegiatan mahasiswa ASRI di depan kampus, naluri seni Edhi kembali muncul. Diam-diam dia menyusup di antara mahasiswa dan ikut melukis.Setelah beberapa waktu menjadi mahasiswa gadungan dan mengikuti mahasiswa ASRI melukis, seorang dosen memergoki Edhi yang tengah asik ikut menggambar. Namun karena melihat gambar dan sketsa Edhi lebih bagus dari gambar para mahasiswa, Edhi justru ditawari untuk masuk ke ASRI."Apa bisa pak saya jadi siswa ASRI?" tanya Edhi pada Dosen.Hendra Gunawan, Dosen yang memergoki Edhi tersebut menjawab bahwa untuk masuk sebagai siswa ASRI harus memiliki ijazah SMP atau SD. Meski Edhi tidak mempunyai ijazah apapun, kesempatan untuk belajar di ASRI tidak lantas hilang begitu saja. Hendra menawari Edhi untuk menjadi siswa Toehorder atau siswa luar biasa yang hanya boleh mengikuti kegiatan praktik namun tidak boleh mengikuti perkuliahan teori di kampus. Dengan berbekal lukisan hasil karya Edhi, Hendra kemudian mengajukan Edhi sebagai siswa luar biasa ke direktur. Tak berselang lama, Edhi akhirnya resmi diangkat menjadi siswa luar biasa di ASRI.Mulai dari sinilah kecintaan Edhi terhadap seni makin menguat. Ia pun diajak oleh Hendra, dosennya untuk bergabung dengan sanggar pelukis rakyat yang didirikannya. Di sanggar pelukis rakyat ini Edhi semakin menggila dengan karyanya. Ia pun dipercaya Hendra untuk turut serta dalam tim pembangunan Tugu Muda Semarang, dan membuat salah satu relief dalam tugu tersebut.Tidak berhenti di situ, pada tahun 1953, dia dan dua orang mahasiswa ASRI lainnya mengikuti kompetisi patung Internasional di London. Namun karena dua mahasiswa lainnya menggunakan tanah liat sebagai bahan patung, karya mereka tidak sampai ke London dalam keadaan utuh karena rusak dalam perjalanan. Sementara itu, karya Edhi yang terbuat dari batu menjadi satu-satunya pantung yang berhasil sampai di London dalam keadaan utuh.Dalam kompetisi tersebut karya Edhi hanya mendapat peringkat ke-tujuh belas. Namun setelah karya-karya peserta kompetisi dipamerkan secara terbuka, terjadi desakan dari publik untuk melakukan penjurian ulang tanpa mencantumkan nama dan asal negara peserta dalam karya. Dalam penjurian tersebut, karya Edhi yang berjudul "The Unknown Political Prisioner" mendapatkan posisi kedua dari 117 negara yang ikut serta dalam kompetisi.Edhi sendiri semula tidak mengetahui prestasinya tersebut, sampai akhirnya dia membaca sebuah artikel dalam bulletin Universitas Gadjah Mada yang ditulis oleh Dr Sarjito yang menceritakan prestasinya mendapatkan juara dua dalam kompetisi Internasional. Kabar prestasinya ternyata juga di dengar oleh Bung Karno . Saat meresmikan Tugu Muda Semarang, Edi disalami oleh Bung Karno seraya mengucapkan selamat. "Selamat ya, dan sukses," kata Bung Karno pada Edhi.Perkenalannya dengan Bung Karno setelah peresmian tugu muda semarang terus berlanjut hingga dia dipercaya menggarap Tugu Selamat Datang, Pembebasan Irian Barat dan Pancoran.
Kisah pematung Pancoran, belajar di bui, jadi mahasiswa gadungan
Tahun 1953, Edhi juara 2 lomba patung di London. Dia bawa patung batu, teman-temannya bawa patung tanah liat dan pecah.
Advertisement
Rekomendasi