Meski dikenal sebagai seniman, kisah hidup Edhi Sunarso justru dimulai sebagai pejuang pro republik pada masa perjuangan kemerdekaan.Pada masa kecilnya ia diberi nama Sunarso oleh keluarga Holan Atmojo seorang kepala Mantri Ukur Pertanahan Belanda yang mengangkatnya sebagai anak. Dengan jabatannya orang tua angkatnya itu, Soenarso berkesempatan mendapatkan pendidikan. Saat usianya enam tahun, ia masuk Vroobel School atau taman kanak-kanak di Gunungsari, Betawi (kini Gunung Sahari, Jakarta) tahun 1939.Kebahagiannya sebagai anak angkat pegawai kantor belanda tidak berlangsung lama. Tragedi jatuhnya pesawat Belanda di Kemayoran membuat dia terpisah dari keluarganya. Pasalnya jatuhnya pesawat tersebut mengakibatkan kebakaran besar di Betawi. Sunarso yang pada waktu itu berada di sekolah diungsikan oleh Hadiwidjaja yang merupakan guru di Vanlith School. Setelah beberapa waktu mengungsi, keluarga Holan tidak kunjung menemukan keberadaan Sunarso. Akhirnya, karena alasan keamanan Sunarso dibawa mengungsi ke Cikampek oleh keluarga Hadiwidjaja. Baru satu minggu di Cikampek, Sunarso dibawa ke Pegaden Baru karena rencana kedatangan Dai Nippon. Disanalah Sunarso mulai kembali bersekolah dan terus mencari tahu keberadaan orang tuanya. Sayangnya hingga bertahun-tahun dia tidak kunjung juga bertemu dengan keluarganya.Kondisi ekonomi yang serba susah pada masa pendudukan Jepang membuat keluarga Hadiwidjaja dalam kesulitan. Kondisi semakin tidak menentu ketika Hadiwidjaja meninggal dan Sunarso hanya tinggal dengan istri Hadiwidjaja, Romlah. Namun di tengah kesulitan inilah, Sunarso berkenalan dengan sejumlah pejuang pro republik yang kerap singgah di rumah Hadiwidjaja. Pertemuannya dengan Komandan Soepriyatna berbuah tugas perjuangan untuk Sunarso. Dia ditugasi untuk mengantarkan surat ke pos-pos penjagaan pro republik dengan menyamar sebagai anak sekolah.Tugas tersebut tidak terlalu sulit untuk dilakukan Sunarso, dengan penampilannya sebagai anak sekolah, tentara Belanda pun tak mengira bahwa dia adalah kurir surat pro republik. Bahkan untuk memperlancar tugasnya, Sunarso kerap menumpang truk-truk Belanda untuk berkeliling ke desa-desa menyampaikan surat ke pos-pos pro republik. Suatu ketika terdengar kabar bahwa Komandan Soepriyatna meninggal di Pamanukan akibat granatnya sendiri. Secara tidak sengaja, ketika hendak mengambil sapu tangan di kantongnya, granat yang biasa dibawanya tersangkut sapu tangan, jatuh lalu meledak. Namun kematian Soepriyatna ini dirahasiakan supaya pihak Belanda tidak mengetahuinya. Sebagai gantinya, Sunarso yang pada waktu itu masih berusia 14 tahun ditunjuk sebagai pengganti Soepriyatna. Bukan hanya menggantikan tugas, namun Sunarso juga diberi nama Soepriyatna supaya kematian Soepriyatna tetap menjadi rahasia dan musuh tetap mengira Soepriyatna masih hidup.Setelah kematian Soepriyatna, Sunarso melanjutkan perjuangan ke desa-desa. Dia mempimpin 23 orang lainnya terus melakukan gerakan dan sabotase di daerah-daerah. Saat melakukan pencegatan patroli bersama dengan Mayor Soekirno di Cikuda, salah seorang anggota Mayor Soekirno, Edi tertembak dan tewas di tempat. Edi merupakan salah satu pejuang yang masih muda dan pemberani. Usianya masih 17 tahun, namun dia selalu berdiri di garis terdepan dan melakukan penyerangan terhadap musuh.Kematian Edi ini membuat Mayor Soekirno terpukul, pasalnya Edi merupakan keponakannya dan salah satu dari anggotanya yang paling ditakuti oleh NICA. Untuk mengenang kematian Edi, Mayor Soekirno lantas memberikan nama Edi pada Soenarso. Sejak saat itulah Sunarso dikenal dengan nama Edhi Sunarso .Namun nahas, saat melakukan perjalanan pulang dari Cikuda, Edhi Sunarso ditangkap oleh NICA. Dia terpaksa menyerah karena sebagian dari anggotanya tertangkap oleh NICA saat melewati perkampungan yang dibakar oleh NICA. Sejak saat itulah Edhi Sunarso meringkuk di penjara sebagai tahanan NICA.
Pematung Tugu Pancoran,usia 14 tahun biasa sabotase tentara NICA
Meski dikenal sebagai seniman, kisah hidup Edhi Sunarso justru dimulai sebagai pejuang pro republik.
Advertisement
Rekomendasi