Cerita SBY yang mengaku sering jadi korban pemberitaan media

Sebagai kepala negara, dan juga sebagai petinggi Partai Demokrat dirinya merasa dirugikan.

Anwar Khumaini
Oleh Anwar Khumaini - Reporter
Cerita SBY yang mengaku sering jadi korban pemberitaan media
SBY marah kepada Singapura. ©2013 Rumgapres/Abror Rizki

Presiden Susilo Bmabang Yudhoyono (SBY) dalam berbagai kesempatan sering curhat di hadapan publik soal media. Dirinya mengaku sering menjadi korban media yang memberitakan tidak benar tentang dirinya.

Presiden juga pernah mengeluh pernyataannya sering diplintir oleh media. Sebagai kepala negara, dan juga sebagai petinggi Partai Demokrat dirinya merasa dirugikan.

Nmaun meski mengaku sering menjadi korban media, Presiden SBY sampai saat ini belum pernah melaporkan media ke Dewan Pers atau ke polisi.

Berikut pernyataan-pernyataan Presiden SBY yang mengaku sering menjadi korban media, seperti yang berhasil dihimpun merdeka.com, Jumat (25/10):

SBY mengaku jadi salah satu korban pers

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan dirinya merupakan salah satu dari korban pers. Namun dirinya juga berterimakasih karena kritikan dan kecaman yang dilakukan media telah menjadi cambuk untuk melaksanakan tugasnya lebih baik dan menjadikan dirinya bertahan.

"Saya salah satu korban pers, tetapi sekaligus saya berterimakasih kepada pers," kata Presiden Yudhoyono saat memberikan sambutan dalam silaturahmi dengan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 2013-2015 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seperti dikutip dari Antara, Kamis (24/10).

Presiden melanjutkan; "Kalau saya tidak dikritik, dikecam sejak hari pertama saya jadi Presiden, mungkin saya sudah jatuh, mungkin saya semau-maunya, mungkin gegabah dalam mengambil keputusan, mungkin kebijakan saya malah aneh-aneh, mungkin saya merasa wah saya bisa memimpin bisa berbuat apa saja, saya berterimakasih terhadap semua itu."

Silaturahmi tersebut sekaligus juga pengumuman susunan Pengurus PWI Pusat periode 2013-2015. Ketua Umum adalah Margiono, Ketua Dewan Kehormatan Ilham Bintang, Ketua Dewan Penasehat Tarman Azzam, Ketua PWI Foundation Sofyan Lubis. Selain itu juga sejumlah perangkat lainnya di antaranya Ketua Confederation of ASEAN Journalists Akhmad Khusaeni, Ketua Biro Kerjasama Luar Negeri Teguh Santosa.

SBY juga menyatakan mendukung program Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan menyindir cara kerja insan pers atau media massa. Sindiran Presiden SBY , terkait pemberitaan yang terkadang atau terkesan kurang memperhatikan ketentuan check and recheck (pengecekan ulang) kepada mereka yang menjadi sasaran berita tersebut.

"Karenanya sangat banyak korban pemberitaan, yang belum tentu kebenaran berita tersebut," ujar pendiri Partai Demokrat itu.?

SBY geram sering diberitakan buruk oleh media

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengkritik media yang kerap memberitakan buruk kinerja pemerintah. Sementara prestasi-prestasi pemerintah di berbagai bidang minim diberitakan.

"Kalau ada yang good news jangan disembunyikan, jangan malu-malu untuk diberitakan," ujar SBY saat memberikan penghargaan kepada 42 bupati dan wali kota di Istana Negara, Kamis (11/2/2010) lalu.

Menurut SBY, pemberitaan-pemberitaan buruk tentang Indonesia dapat merusak citra Indonesia di mata internasional. Akibatnya, investasi bisa terhambat.

"Mengapa sekali-kali tidak diangkat yang baik-baik supaya negara tetangga kita melihat Indonesia utuh. Ada yang mengatakan good news is no news, ada yang mengatakan justru bad news itu good news. Saya kurang setuju, menurut saya bad news is bad news, good news is good news," papar SBY.

Kepala negara tidak mempermasalahkan pemberitaan buruk tentang pemerintah dimunculkan. Namun dia juga meminta agar berita-berita bagus tentang kinerja dan prestasi pemerintah tidak 'disembunyikan'.

SBY protes pernyataannya sering diplintir

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono protes kepada media yang dianggapnya memutarbalikkan fakta, terkait pidatonya menanggapi ledakan bom di Hotel JW Marriot tahun 2009 silam.

SBY waktu itu merasa prihatin atas isu yang bergulir di media yang menganggap ancaman teroris terhadap SBY hanya rekayasa.

"Setelah saya mencetak transkrip pernyataan saya, tidak ada itu, coba pahami kata demi kata, kalimat demi kalimat, namun yang terjadi berubah apa yang saya katakan, seperti diplintir dianggap SBY menuduh begitu saja, kaitannya terjadinya pengeboman," kata SBY saat membuka rapat koordinasi Partai Demokrat di Kemayoran (22/7/2009).

Saat jumpa pers, Presiden SBY mengatakan dirinya juga menjadi target sasaran para teroris. SBY bahkan menunjukkan foto-foto para teroris yang sedang latihan di suatu tempat.

SBY mengeluh gambar-gambar yang dia tunjukkan ke media dianggap sebagai gambar tahun 2004. Padahal menurutnya kejadian itu baru terjadi Mei 2009.

"Saya mendapat laporan itu untuk berjaga-jaga dan ini laporan intelijen bukan gosip, bukan plintiran," tuturnya.

"Sebagai kepala negara, saya wajib mengingatkan rakyat Indonesia dan terutama bagi pihak-pihak yang ingin melakukan tindakan melawan hukum, kita ini menghadapi ancaman serius yakni terorisme," tegas SBY.

SBY kesal selalu diserang media Singapura

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) prihatin atas pemberitaan yang dilakukan sejumlah media akibat kabut asap. Akibatnya, imej Indonesia saat ini dipandang buruk oleh masyarakat di seluruh dunia, sebab dianggap terus mencemari udara.

"Saya ikuti sendiri, saya baca sendiri, bahwa sejak tahun 1997 Indonesia dianggap terus mencemari udara Singapura. Saya kira berlebihan, saya yakin bahwa singapura ataupun Indonesia juga sama-sama mendapatkan benefit dalam kerjasama kedua negara, utamanya di bidang ekonomi dan di bidang bisnis," kata SBY usai mendarat dari Bali di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (26/6).

SBY mengaku kecewa dengan pemberitaan tersebut, padahal Indonesia tengah berupaya melakukan pemadaman atas kebakaran hutan di Sumatera. Dia kembali menegaskan, kejadian tersebut bukan sebuah kesengajaan, namun faktor alam juga menjadi penyebab meluasnya kabut asap hingga ke Singapura.

"Tentu menyakitkan kalau dikesankan Indonesia ini menimbulkan masalah bagi tetangga-tetangganya. Dan saya sekali lagi menyayangkan acara pemberitaan itu di saat kami sedang serius menghadapi bencana asap dan ladang ini," keluhnya.

Meski bukan kesengajaan yang dilakukan Indonesia, imbuh SBY, namun pemerintah tidak melempar tanggung jawab dengan menyalahkan pihak-pihak lainnya. Sebab, BNPB dibantu TNI telah melakukan dua kali penerbangan dengan pesawat Hercules C130 dan CN 235 dengan 3.049 prajurit dan satuan tugas.

"Semua kita lakukan untuk rakyat sendiri dan tetangga-tetangga kita, jangan dikirimkan signal yang keliru atas apa yang dilakukan Indonesia ini. Saya masih percaya kita semua punya hati, kita semua ingin menjalin kerjasama dan mitra kerjasama sebaik-baiknya, dan dengan itu lah hubungan kita dengan siapapun akan baik dan baik untuk kita," tandasnya.

Rekomendasi