Rabu sore (11/9), kerusuhan massa di Puger, Jember pecah. Insiden berdarah itu dipicu oleh penolakan warga yang dikomandoi Ustaz Fauzi terhadap acara karnaval peringatan HUT RI ke 68, yang digelar Pondok Pesantren Darus Sholihin pimpinan Habib Ali Al Habsy.Dalam insiden tersebut, menurut Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin Rabu malam, selain ada korban luka dari kedua belah pihak, ada juga satu korban meninggal atas nama Eko Mardi Santoso.Eko adalah korban meninggal dari pihak warga, yang tak lain adalah keponakan dari Ustaz Fauzi, salah satu tokoh agama di Puger. Eko tewas bersimbah darah, karena luka bacok di bagian wajah dan belakang kepala. Eko sempat dilarikan ke RS Balung, namun jiwanya tak tertolong.Hingga kini pihak keamanan masih berjaga-jaga di lokasi guna antisipasi bentrok susulan. Belum diketahui motif sebenarnya dari insiden itu.Berikut wawancara merdeka.com, Kamis (12/9) dengan anak pimpinan Pesantren Darus Sholihin, Isa Al Habsy.Bagaimana kronologi bentrokan tersebut?Pondok pesantren mengadakan karnaval dalam rangka HUT RI dan hanya diikuti intern saja. Saya juga memberikan surat pemberitahuan ke Polsek, Koramil dan Kepala Desa. Kemudian ternyata ada kabar pada H-1, karnaval kan tanggal 11 September, nah tanggal 10 September jam 10.00 WIB ada surat pelarangan kegiatan karnaval dari Kapolsek, Danramil dan Camat.Lalu selanjutnya bagaimana?Setelah saya baca, saya kontak Kapolres, saya bilang kalau sudah membaca tetapi saya tidak bisa menyampaikan ke siswa karena siswa sudah dipulangkan pada jam 11.00 WIB siang untuk persiapan esok harinya. Sehingga kepada Bapak Kapolres pada hari pelaksanaan, saya minta untuk hadir bersama saya untuk menyampaikan kepada siswa. Dan dia menyanggupi.Apa alasan pelarangan?Dikhawatirkan mengganggu kamtibnas makanya dilarangkan. Saya sendiri heran kok memperingati HUT RI dibilang akan mengganggu kamtibnas.Lalu pada hari pelaksanaan bagaimana?Pada hari H beliau (Kapolres) tidak hadir, sehingga terpaksa saya sendiri yang sampaikan tentang adanya pelarangan karnaval kepada siswa. Saya jelaskan kepada peserta dan wali murid untuk membatalkan acara dan kembali ke rumah masing-masing. Namun, mereka tidak terima dan tetap untuk melaksanakan karnaval itu.Mereka berjalan dan polisi banyak berjaga. Kemudian ada insiden dorong-dorongan dengan polisi yang menghalangi rombongan. Namun akhirnya dibuka bisa berjalan. Karena saya sudah lepas tanggung jawab, saya balik ke pondok bersama ayah dan ibu saya.Selang beberapa saat, datang segerombolan massa dengan brutal menghancurkan dan merangsek masuk menghancurkan kaca bangunan yang ada, bahkan sampai masuk ke rumah kami.Saat bentrok, polisi di mana?Polisi banyak, tetapi tidak ada upaya pencegahan kenapa mereka (penyerang) bisa masuk. Padahal, jumlah polisi lebih dari massa.Berapa lama waktu penyerangan itu terjadi?Karnaval berangkat jam 13.00 WIB, penyerang datang sekitar pukul 13.30 WIB. Kejadian kerusuhan sekitar 15 menitan.Apakah mereka bawa senjata tajam?Bawa senjata tajam seperti celurit, pedang, golok, kayu, dan batu.Menurut Anda, apa motif mereka menyerang?Saya tidak kenal penyerang dan saya juga tidak tahu motif mereka. Kalau menolak karnaval kenapa mereka menyerang pondok?Langkah hukum apa yang Anda tempuh?Saya sudah buat laporan ke Polsek Uger.Bagaimana kegiatan belajar mengajar untuk saat ini?Sementara dihentikan, karena siswa terancam. Lagian ruang belajar hancur.
Ini kata anak pimpinan pesantren di Jember yang diserbu warga
Saya tidak kenal penyerang dan saya juga tidak tahu motif mereka. Kalau menolak karnaval kenapa mereka menyerang pondok?
Advertisement
Rekomendasi