Meski situasi di Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur usai bentrok massa kemarin sore sudah dinyatakan kondusif, sejumlah aparat kepolisian dan TNI masih disiagakan di lokasi kejadian. Tujuannya untuk mempersempit ruang gerak massa, agar tidak melakukan anarki susulan.Kasubdit Penmas Bid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Suhartoyo mengatakan, saat ini pihaknya sudah mengamankan beberapa orang. Selain itu, polisi juga mengamankan barang bukti berupa senjata tajam."Situasi di sana (Puger) sudah kondusif. Meski begitu, sejumlah aparat dari TNI-Polri masih kita siagakan di TKP. Tujuannya untuk mengantisipasi munculnya aksi susulan," kata Suhartoyo di Surabaya, Kamis (12/9).Saat ditanya soal adanya korban jiwa dalam insiden berdarah itu, Suhartoyo menyangkalnya. "Enggak ada korban meninggal. Ini saya kontak terus dengan Jember. Hanya saja, memang ada korban luka-luka, baik dari warga maupun dari pihak pondok pesantren. Termasuk polisi juga ada yang terluka saat menghalau bentrok massa itu," elak dia.Pernyataan Suhartoyo ini bertolak belakang dengan informasi yang disebutkan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin Rabu malam. Dia menyebut, selain ada korban luka dari kedua belah pihak, ada juga satu korban meninggal atas nama Eko Mardi Santoso.Eko adalah korban meninggal dari pihak warga, yang tak lain adalah keponakan dari Ustaz Fauzi, salah satu tokoh agama di Puger. Eko tewas bersimbah darah, karena luka bacok di bagian wajah dan belakang kepala. Eko sempat dilarikan ke RS Balung, namun jiwanya tak tertolong."Dan hari ini, tadi pagi Eko dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Puger. Proses pemakamannya juga dikawal ketat oleh pihak kepolisian dan TNI," kata Wirawan, warga Jember yang dihubungi merdeka.com.Usai pemakaman itu, polisi kembali mengamankan tiga orang yang diketahui membawa senjata tajam jenis celurit. Dikonfirmasi terkait perkembangan situasi di Puger saat ini, Kapolres Jember AKBP Awang Joko Rumitro belum bisa dihubungi.Diberitakan sebelumnya, Rabu sore (11/9), bentrok massa di Puger, Jember pecah. Bentrok berdarah itu dipicu oleh penolakan warga yang dikomandoi Ustaz Fauzi terhadap acara karnaval peringatan HUT RI ke 68, yang digelar Pondok Pesantren Darus Sholihin pimpinan Habib Ali Al Habsy.Terlebih lagi, selain tidak menginginkan karnaval digelar di luar pondok, acara itu juga tidak mendapat izin dari pihak kepolisian.Karena memaksa menggelar pawai, warga menggerebek pondok yang diasuh oleh Habib Ali tersebut. Bentrok tak terhindarai. Mereka saling serang. Tak hanya saling lembar batu, di antara mereka ada juga yang membawa senjata tajam dan pentungan.Puluhan kendaraan roda dan rumah rusak parah. Bahkan masjid, sekolah dan kantor di sekitar lokasi bentrok ikut jadi sasaran. Perempuan dan laki-laki terlibat saling lempar batu. Korban luka dari kedua belah pihak berjatuhan, termasuk dari pihak polisi. Pasca-bentrok, ratusan TNI-Polri disiagakan, termasuk dari Polda Jawa Timur.
Rusuh Jember, 1 orang tewas dan 3 diciduk karena bawa celurit
Eko tewas bersimbah darah, karena luka bacok di bagian wajah dan belakang kepala.
Halaman Berikutnya
Migrasi Sunyi dari Pesisir Sumut: Laut Memaksa Pergi, Kemiskinan Menahan Bertahan
Advertisement
Rekomendasi