Kisah nestapa 'manusia gerobak' diciduk saat razia

"Saya selalu mencari cara untuk keluar mulai dari meminta maaf dan mencoba kabur," ujar Pono saat ditangkap Satpol PP.

Dharmawan Sutanto
Oleh Dharmawan Sutanto - Reporter
Kisah nestapa 'manusia gerobak' diciduk saat razia
Manusia Gerobak. ©2013 Merdeka.com/Dharmawan Iwan

'Manusia gerobak' merupakan salah satu cara segelintir orang untuk tetap bisa bertahan hidup. Di tengah himpitan ekonomi, orang-orang itu hidup di atas kendaraan yang dibuat dari kayu, karena tak punya uang buat sewa rumah.Sehari-hari, 'manusia gerobak' ini memulung untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di atas gerobak yang ukurannya tak besar, di situ juga mereka menaruh segala macam keperluan mulai dari pakaian, hingga peralatan memasak.Meski melakukan semua itu untuk bertahan hidup, tetap saja para 'manusia gerobak' harus merasakan pilu. Tak jarang mereka kocar-kacir saat ada razia. Paling apes adalah terjaring razia, semua banda diangkut petugas. "Saya sih memang pernah didatangi Satpol PP ketika sedang bersih-bersih dan memungut gelas plastik," ujar 'manusia gerobak' Herman. Namun Herman (72) termasuk beruntung belum pernah terjaring razia selama dua tahun menjadi 'manusia gerobak'."Alhamdulillah sampai saat ini belum kena razia dan jangan sampai deh kaya begitu karena pasti gerobak kita dibuang dan hancurlah hidup. Kita mau makan dari mana, mencari kerja susah dan gak punya modal pula," katanya.Berbeda dengan Herman, Pono (32) 'manusia gerobak' asal Ngawi, Jawa Timur ini mengatakan, dirinya pernah terjaring razia di daerah Kalibata ketika dirinya tengah mencari kardus bekas."Dua tahun yang lalu pernah, rasanya sedih banget karena jika kita diamankan berarti penghasilan kita gak ada dan ketika masuk ke panti sosial. Saya selalu mencari cara untuk keluar mulai dari meminta maaf dan mencoba kabur, agar bisa menjadi 'manusia gerobak' lagi buat menghidupi keluarga saya," ungkapnya.Pria dua orang anak tersebut mengakui pekerjaan sebagai 'manusia gerobak' memang melanggar aturan dan penuh dengan segala resiko."Sebenarnya sih memang gak boleh mas, tapi mau bagaimana lagi kami ini orang susah sudah menjadi risiko dan perjalanan hidup saya serta keluarga," pungkasnya.

Rekomendasi