Indonesia memang sudah merdeka. Tidak ada lagi penjajah dan peperangan. Itu teorinya, tapi tidak kenyataannya. Di beberapa daerah peperangan antar kampung masih banyak terjadi.Bukan sekadar membakar, mengobrak-abrik ketertiban dan ketenangan warga, tapi hingga menghilangkan nyawa orang lain. Jika dulu pahlawan berperang untuk membela negara dan hajat hidup orang banyak, tapi tidak dengan yang mereka lakukan.Ketegangan dipicu hanya karena masalah sepele sekelompok masyarakat pada kelompok lainnya. Atau pun dendam lama yang belum terbalaskan.Dua tahun terakhir tercatat ada tiga kasus bentrok antar warga kampung yang menjadi perhatian publik. Tak hanya menimbulkan kerugian materil, tapi juga menghilangkan nyawa sia-sia.Bentrokan pertama terjadi di Sampang, Madura, pada Agustus 2012 silam. Dua warga meregang nyawa sia-sia akibat penyerangan ini. Menurut Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, yang juga warga Madura, penyebab dari kerusuhan ini adalah karena asmara."Awal mula persoalan ini sebenarnya soal asmara. Sudah disampaikan oleh tokoh-tokoh Madura yang datang ke Jakarta dan mendatangi Menag, Mendagri, dengan dokumen yang lengkap. Mestinya dengan kasus itu segera diredam, sehingga tidak meluas seperti ini," kata Mahfud.Namun menurut versi Menteri Agama Suryadharma Ali, pemicu kasus kerusuhan di di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dan Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang, Sampang, bukan masalah agama (Syiah-Sunni), melainkan bermula dari kasus keluarga."Jadi memang awalnya masalah ini adalah masalah keluarga yang dibiarkan berlarut-larut. Karena yang bermasalah adalah dua orang yang memiliki pengaruh di Sampang, akhirnya melibatkan dua kelompok besar," kata Suryadharma.Dua kelompok bertikai itu adalah kelompok Syiah pimpinan Tajul Muluk dan Sunni pimpinan Rais, di mana keduanya merupakan kakak beradik. Konflik keluarga ini sudah terjadi sejak 2004 silam, kemudian merembet ke pengikut dua orang yang berseteru tersebut.Pertikaian antara Rois dan Tajul Muluk itu dimulai ketika sang pemimpin Syiah di Sampang tersebut menikahi mantan istri adik kandungnya (Rois). Selanjutnya, konflik keluarga tersebut pecah pada Desember 2011 lalu.Usai Madura, selang dua bulan kemudian tepatnya Oktober 2012, perang antar warga kampung kembali terjadi antara Desa Agom, Kalianda dan sekitarnya dengan Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan.Pemicu bentrokan itu bermula dari kejadian dua orang gadis asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor diganggu sekitar 10 pemuda asal Desa Bali Nuraga. Karena terus diganggu dan motornya dihalangi sepeda pemuda itu, lantas si gadis jatuh dari motor.Teman-teman gadis itu tidak terima dan akhirnya menyerang untuk membalas dendam yang berujung pada pembakaran rumah dan aksi kekerasan lain. Sebanyak 10 nyawa meregang sia-sia dalam peristiwa itu.Terakhir, kerusahan antar warga terjadi di Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, NTB, Selasa (22/1) kemarin. Pemicunya karena insiden kecelakaan lalu lintas pada Sabtu 19 Januari 2013 sekitar pukul 23.00 Wita di jalan raya jurusan Sumbawa-Kanar.Saat itu, sepeda motor Yamaha Mio DK 5861 WY dari arah Kanar menuju arah Sumbawa, disalip hingga terjatuh ke kanan jalan. Pengendara sepeda motor yakni anggota Polri Brigadir I Gede Eka Swarjana (21) yang membonceng Arniati (30), yang kemudian tewas dalam kecelakaan tersebut.Kasus ini kemudian berkembang menjadi isu SARA dan memicu amarah sanak keluarga korban kecelakaan. Kemudian, warga Kabupaten Sumbawa lainnya melakukan unjuk rasa yang berujung tindakan anarkis.Selain melempar Pura dan membakar kendaraan, massa juga merusak harta milik warga lainnya. Rumah dan toko di beberapa lokasi tak luput dari amukan warga.
Hal sepele pemicu kerusuhan di 3 daerah ini
Dua tahun terakhir tercatat ada tiga kasus bentrok antar warga kampung yang menjadi perhatian publik karena hal sepele.
Advertisement
Rekomendasi