Nasabah tak percaya Jaya Komara tewas karena sakit

"Kami tentu kaget. Karena selama ini dia itu sehat dan tak ada penyakit," kata Agam yang sudah Rp 33 juta.

Mitra Ramadhan
Oleh Mitra Ramadhan - Reporter
Nasabah tak percaya Jaya Komara tewas karena sakit
rupiah. shutterstock

Para investor dan warga di Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, curiga atas kematian Jaya Komara, bos Koperasi Langit Biru (KLB). Mereka tidak percaya atas berita kematian tersebut."Kami tentu kaget. Karena selama ini dia itu sehat dan tak ada penyakit. Tahu-tahu ada berita Jaya Komara meninggal," ucap Agam, tetangga Jaya Komara , hari ini.Menurut Agam, untuk meyakinkan masyarakat seharusnya pihak kepolisian merilis foto saat Jaya Komara meninggal. "Tetangga ada yang pergi ke RSCM mau lihat, malah dilarang. Ada apa ini?," katanya.Pengakuan Agam, selain menjadi tetangga, dirinya juga menjadi investor KLB. "Saya sudah inves sekitar Rp 33 juta, tapi sudah pernah menikmati hasil selama empat bulan. Yaitu Rp 1,7 juta/bulan," ucapnya.Tuti Muliati, tetangga yang juga investor KLB, mengatakan hal yang sama. "Saya hanya percaya sekitar 90 persen atas berita kematian Jaya Komara," ujarnya.Menurut Tuti, sangat janggal berita kematian tersebut. "Saya tidak percaya karena pernah sekali polisi merilis berita penangkapan pak Jaya tapi ternyata salah. Pak Jaya justru tertangkap di Purwakarta. Sejak saat itu saya tak mudah percaya," ucapnya.Sebagai investor, mereka berharap manajemen baru KLB bisa segera menuntaskan semua tanggung jawabnya. "Biarpun Jaya Komara sudah meninggal, utang tetap harus dibayar. Jadi kami tetap menuntut pengembalian uang," ucap Tuti.Keresahan tidak saja dialami oleh investor. Tapi juga Daryono, mantan mandor bangunan kantor KLB. "Saya pusing mas. Kalau investor tidak dicari orang, tapi saya malah dicari orang terus," ujarnya.Menurut Daryono, yang rumahnya persis di belakang rumah Jaya Komara, dirinya dipercaya oleh bos KLB itu menjadi mandor dari pembangunan kantor KLB senilai Rp 500 juta.Proyek dengan jumlah pekerja sebanyak 16 orang itu terhenti karena ketiadaan biaya. "Sejak bulan Mei mandek. Terakhir saya minta kas bon Rp 10 juta tak ada, bahkan Rp 3 juta juga tak ada. Sejak saat itu hingga sekarang tak jelas mas," ucapnya.Pantauandi lokasi, kondisi KLB dan rumah Jaya Komara di Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, kini sepi. Istri tuanya, Umi, bersama tujuh anaknya sudah hengkang entah kemana sejak KLB bermasalah beberapa bulan lalu. Beberapa rumah yang pernah dijadikan gudang penyimpanan barang, juga terlihat kosong. Bangunan yang ada dibiarkan terbengkalai. "Atas inisiatif sendiri rumah ini saya jaga, supaya tidak ada yang merusak atau masuk ke dalam," tandas Jaya.

Rekomendasi