Fenomena parodi iklan Klinik Tong Fang di media sosial membuat publik menjadi penasaran, bagaimana sebenarnya metode pengobatan ala China ini. Disebut dengan istilah populer Traditional Chinese Medicine (TCM), banyak pelajar asal Indonesia yang menuntut ilmu ke negeri Tirai Bambu itu.Felix (25), adalah salah satu dari sekian orang Indonesia yang belajar pengobatan tradisional China. Namun jalur yang ditempuhnya bukan belajar pada tabib atau shinse. Dia berkuliah di jurusan kedokteran di Beijing University of Chinese Medicine. Selama lima tahun, dari 2006 hingga 2011, dia mempelajari ilmu kedokteran ala China."Tahun pertama semua pelajaran sama seperti pendidikan kedokteran umum, seperti anatomi, farmakologi, biokimia, patologi. Kita belajar dasar-dasar ilmu kedokteran," ujarnya dalam perbincangan dengan merdeka.com.Namun yang menjadikannya sulit adalah, bahasa pengantar yang digunakan selama kuliah adalah bahasa Mandarin, termasuk semua buku teks pelajaran. Setelah semua pelajaran dasar kedokteran umum itu dikuasai, Felix mengatakan dia baru mulai mempelajari dasar ilmu pengobatan tradisional China.Materi pertama yang diajarkan adalah filosofi pengobatan tradisional China. Dalam paradigma pengobatan China, kata Felix, segala proses dalam tubuh manusia berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. "Timbulnya penyakit biasanya disebabkan oleh ketidakharmonisan antara lingkungan di dalam dan di luar tubuh manusia. Dengan memahami ketidakseimbangan itu maka cara pengobatan dan pencegahan penyakit dilakukan," jelasnya.Felix memaparkan, teori yang diajarkan dalam pengobatan tradisional China mengacu pada beberapa acuan filsafat seperti teori Yin-yang, lima unsur atau Wu-xing, sistem meridian tubuh manusia atau Jing-luo, teori organ Zang Fu, dan berbagai jenis teori lainnya. Diagnosis dan penyembuhan dirujuk pada konsep-konsep tersebut."Kalau dokter umum pakai stetoskop, kita diajarkan cara mendiagnosa penyakit pasien melalui pegang nadi dan melihat lidah," tukasnya.Dia melanjutkan, ada juga teknik diagnosa yang lebih tinggi dengan cara melihat aura pasien. Sebab, aura orang yang sedang sakit berbeda dengan aura orang sehat. Tapi untuk teknik ini, tidak sembarang orang bisa melakukan karena butuh bakat khusus. "Selain itu, kalau diagnosa dengan melihat aura agak sulit dijelaskan dengan ilmiah, jadi jarang dipakai."Menurut Felix, setelah teknik mendiagnosa penyakit pasien dikuasai, teknik pengobatan kemudian diajarkan. Ada dua cara, pertama teknik akupuntur dan yang kedua melalui ramuan herbal.Dalam akupuntur, pengobatan dilakukan dengan dua cara yang berbeda. Pertama, menggunakan jarum khusus yang ditusukkan ke titik-titik tertentu di bagian tubuh seperti lazimnya praktik akupuntur, kemudian ada juga yang menggunakan cerutu yang disebut moksa. Teknik yang kedua itu menggunakan cerutu yang terdiri dari campuran herbal berupa tanaman dan rumput obat. "Cerutu itu dibakar, kemudian didekatkan di titik-titik tubuh seperti akupuntur dengan jarum. Efek panasnya yang dipakai untuk menyembuhkan penyakit," jelasnya.Sementara untuk pengobatan herbal, Felix mengatakan, ramuan yang biasa digunakan terdiri dari tumbuhan, hewan, dan mineral yang berasal dari batu-batuan. Untuk herbal, ada sekitar 300-400 tanaman dasar yang biasa digunakan. Tanaman ini berasal dari berbagai daerah di daratan China dan biasanya endemis. Sedangkan untuk hewan, banyak jenisnya, tergantung jenis penyakitnya. Untuk hewan biasanya digunakan bagian tubuh yang telah dikeringkan seperti kulit."Pengobatan herbal sebenarnya menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam. Yang bikin mahal adalah tanaman itu harus didatangkan dari tempat yang jauh untuk menjaga khasiat obat," katanya. Hingga kini, Felix mengaku masih mempelajari cara meramu berbagai jenis herbal tersebut.Di tahun-tahun akhir saat menjalani kuliah kedokteran tradisional, Felix juga menjalani praktik di salah satu rumah sakit milik universitas. Di China, rumah sakit-rumah sakit yang semuanya dimiliki pemerintah, menyediakan layanan khusus untuk pengobatan tradisional. Dia mempraktikkan ilmu akupuntur terutama untuk pasien-pasien yang mengalami stroke."Sebelum ke pasien, kita praktik dulu cara menusukkan jarum di tubuh kita sendiri supaya kita tahu gimana rasanya. Kemudian ke teman, baru setelah mahir dan lulus ujian akupuntur kita diperbolehkan menangani pasien," tuturnya.Belajar ilmu kedokteran China diakui dia sangat sulit. Buktinya, dari 200 mahasiswa angkatannya saat baru masuk, hanya tersisa 40 orang saat wisuda. "Sebagian besar tidak kuat di tengah jalan dan memilih mundur. Bahkan orang lokalnya yang tidak perlu belajar bahasa Mandarin lagi," imbuhnya.Meski begitu, ilmu pengobatan China ini menarik minat para mahasiswa asal berbagai negara. "Paling banyak asal Korea. Ada Amerika Serikat, Australia, Jerman, Prancis, Vietnam dan Singapura. Di angkatan saya ada tiga orang asal Indonesia," ujar Felix.Lulus kuliah pada pertengahan 2011, Felix kembali ke Depok, Jawa Barat, tempat asalnya. Gelar Chinese Medicine Doctor kini disandangnya. Meski tidak diakui dalam sistem pendidikan di Indonesia, Felix mengatakan telah mendapatkan sertifikasi dari pihak universitas, kementerian luar negeri China dan notaris lokal di Beijing untuk mengesahkan ijazahnya dan gelar yang dimilikinya."Pihak KBRI di Beijing juga mengeluarkan semacam legalisasi yang menerangkan saya betul-betul berkuliah dan meraih gelar dokter pengobatan tradisional China. Dengan ijazah ini, saya bisa berpraktik di rumah sakit di China, tapi kalau di Indonesia harus buka klinik sendiri," pungkasnya.
Cerita WNI belajar ilmu Tong Fang di Beijing
Banyak WNI yang mempelajari ilmu pengobatan tradisional China dengan cara ilmiah.
Rekomendasi