4 Jenderal lingkaran dalam Soeharto

Tahun 1970an, ada empat jenderal yang masuk lingkaran dalam Soeharto. Laksamana Sudomo salah satunya.

Ramadhian Fadillah
Oleh Ramadhian Fadillah - Reporter
4 Jenderal lingkaran dalam Soeharto
Sudomo. merdeka.com/dwi narwoko

Tahun 1970an, ada empat jenderal yang masuk lingkaran dalam Soeharto. Empat orang ini yang menjalankan roda politik dan keamanan selama Orde Baru berjaya. Laksamana Sudomo salah satunya. Dalam buku Soeharto dan Barisan Jenderal Orba yang ditulis David Jenkins, ada empat jenderal di lingkaran dalam Soeharto. Semuanya loyal dan rata-rata jenderal yang membidangi intelijen.Mereka adalah Letjen Yoga Sugama yang menempati posisi Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Lalu Mayjen Benny Moerdani yang menjabat Asisten Intelijen Menteri Pertahanan, Laksamana Sudomo yang menjabat Pangkopkamtib dan Letjen Ali Moertopo yang menjadi Wakil Kepala Bakin.Ciri-ciri orang dekat Soeharto ini rata-rata juga memiliki jabatan rangkap. Soedomo, selain menjabat Pangkopkamtib juga menjabat Wakil Panglima ABRI. Tiga jenderal lainnya pun memiliki jabatan rangkap. Umumnya karier mereka melesat meninggalkan rekan-rekan seangkatannya.Sudomo mengenal Soeharto sejak lama. Mulai dari operasi Trikora, dimana Mayjen Soeharto menjabat Panglima Mandala. Ketika itu Soedomo memimpin seluruh kekuatan matra laut dalam komando Mandala. Selama operasi, otomatis Sudomo berada langsung di bawah Soeharto.Setelah itu, hubungan keduanya makin erat. Sudomo bahkan sempat menempati posisi nomor satu di tubuh TNI AL tahun 1969-1973 sebagai kepala staf. Dia kemudian dipilih menjadi Wakil Panglima Panglima Kopkamtib mendampingi Soemitro. Oleh Soemitro, Sudomo diberi tugas mengamankan Jakarta Raya.Tanggal 15 Januari 1974, kerusuhan besar mengguncang Jakarta. Peristiwa yang dikenal dengan sebutan malapetaka lima belas Januari (Malari) ini mengakhiri karir Soemitro. Tapi Sudomo yang harusnya ikut bertanggung jawab tidak terpengaruh. Soeharto masih terus memberinya kesempatan. Bahkan Sudomo akhirnya bisa menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Rekomendasi