Foto presiden dan wakil presiden dinilai tak seharusnya berada di Gedung DPR. Di parlemen negara-negara yang demokrasinya sudah maju, tidak ada foto presiden dan wapres yang menggantung.Dalam kunjungan ke Gedung DPR pada 2008, salah satu anggota Kongres Amerika Serikat (AS) sempat tertawa saat melihat foto presiden SBY yang tergantung di tembok ruang Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) di Gedung Nusantara III DPR."Pantas kalian ada problem otonomi parlemen, di kongres kita tidak pasang foto presiden," cerita anggota BKSAP, Eva Kusuma Sundari, menirukan ucapan anggota Kongres AS itu, Kamis (15/3).Disinggung seperti itu, Eva mengaku sempat malu. Terlebih saat itu anggota Kongres AS juga kaget dengan peran Sekretariat Jenderal (pemerintah) yang dominan soal penyusunan anggaran DPR. Menurut Eva, itulah latar belakang mengapa ada pasal-pasal baru soal otonomi anggaran DPR di UU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD."Termasuk pasal yang berkaitan dengan reformasi sekjen yang memperkuat BURT sebagai pengawas sekjen dan Ketua DPR sebagai Ketua BURT," kata Eva yang juga anggota pansus saat itu.Soal foto presiden dan wapres di Gedung DPR, Eva sepakat dengan anggota Kongres AS itu. Menurutnya, memang tak sepantasnya ada foto presiden di gedung parlemen."Dalam pelaksanaannya, sepantasnya termasuk tidak memasang foto presiden di DPR, karena tidak ada argumen masuk akal," kata dia.Meskipun sistem ketatanegaraan kita tidak sepenuhnya mempraktikkan trias politika dengan saling keterpisahan secara murni, katanya, prinsip saling independensi antar tiga lembaga harus serius ditegakkan."Sehingga check-balances dalam demokrasi bisa diwujudkan," ujar anggota Komisi III DPR ini."Di Istana Merdeka juga tidak memasang foto ketua DPR, MPR apalagi Ketua MA," imbuhnya.
Kemarin sore, enam mahasiswa dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Jawa Barat memecahkan foto Presiden SBY yang tergantung di salah satu pilar gedung DPR. Akibat perbuatannya, enam mahasiswa dibawa ke Polda Metro Jaya.