Rawan penjarahan, 17 truk angkut logistik asal Kaltim tertahan di pelabuhan Palu

Senin, 1 Oktober 2018 19:30 Reporter : Saud Rosadi
Rawan penjarahan, 17 truk angkut logistik asal Kaltim tertahan di pelabuhan Palu Gempa di Palu. ©2018 AFP PHOTO/MUHAMMAD RIFKI

Merdeka.com - Bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah terus berdatangan. Namun di beberapa titik, proses pendistribusian bantuan sedikit mengalami kendala karena adanya menyetopan.

Akibatnya, 17 truk bantuan logistik bantuan korban bencana Sulteng, tertahan di pelabuhan Pantoloan, Palu. Bantuan tiba dan bersandar di pelabuhan Pantoloan pada Minggu (30/9) kemarin, menggunakan KM Lambelu dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain itu, ada 13 relawan kebencanaan, ikut di atas KM Lambelu.

"Iya, ada 17 truk bantuan dari Kaltim, tertahan di Pantoloan," kata salah seorang relawan DMY Indonesia asal Samarinda, Nurani, dikonfirmasi merdeka.com, Senin (1/10) malam.

Nurani menjelaskan, sebenarnya bantuan logistik bisa segera dikirimkan ke posko induk bantuan kebencanaan. "Penjarahan itu memang ada," ujar Nurani.

"Kemarin saja, begitu kami turun dari kapal (KM Lambelu), kami lihat sendiri, di pinggir jalan sudah ramai, ada kontainer di sekitar pelabuhan, dibongkar kemudian bawa televisi, bawa lemari es. Juga di gudang Alfamidi," tambahnya.

Bahkan hari ini, ada motor yang dijarah. "Motornya diambil. Solusinya, tentara mesti diperbanyak," kata Nurani, yang saat ini, menginap di posko utama di markas Korem 132/Tadulako.

Nurani memastikan, 13 relawan kebencanaan, saat ini dalam kondisi sehat. "Alhamdulillah, semua sehat," jelas Nurani.

Diketahui, di tengah datangnya bantuan logistik bagi korban gempa dan tsunami di Sulteng, yang menewaskan tidak kurang dari 800 orang itu, terjadi aksi penjarahan di tengah kota Palu. [lia]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini