Ratusan Pengunjung Padati 'Night at The Library', Dorong Literasi Jakarta Menuju Usia 500 Tahun

Ratusan warga memadati acara 'Night at The Library' di TIM, Jumat malam, menandai ajakan untuk memperkaya Literasi Jakarta dan menulis babak baru kota ini menuju usia ke-500. Jangan lewatkan detail kegiatannya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ratusan Pengunjung Padati 'Night at The Library', Dorong Literasi Jakarta Menuju Usia 500 Tahun
Ratusan warga memadati acara 'Night at The Library' di TIM, Jumat malam, menandai ajakan untuk memperkaya Literasi Jakarta dan menulis babak baru kota ini menuju usia ke-500. Jangan lewatkan detail kegiatannya! (AntaraNews)

Ratusan warga memadati pagelaran "Night at The Library" yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta pada Jumat malam (26/6) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Acara ini menjadi momentum penting untuk mendorong Literasi Jakarta dan menandai dimulainya babak baru kota.

Dengan tema "Jakarta 499: Menulis Halaman ke-500 Kota Jakarta", kegiatan ini sukses menarik 500 hingga 600 pengunjung yang antusias mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari diskusi literasi hingga pertunjukan seni. Kehadiran masyarakat menunjukkan minat tinggi terhadap pengembangan budaya membaca di ibu kota.

Kepala Dispusip DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, mengungkapkan bahwa acara ini merupakan ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk mulai mengisi "halaman ke-500" Jakarta dengan karya, gagasan, dan aktivitas literasi yang positif. Hal ini sejalan dengan visi menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang hidup dan inklusif.

"Night at The Library": Merayakan Literasi Jakarta

Pagelaran "Night at The Library" di TIM tidak hanya berfungsi sebagai ajang hiburan, tetapi juga sebagai platform edukasi yang kuat bagi Literasi Jakarta. Berbagai kegiatan literasi dan diskusi diselenggarakan untuk memicu semangat membaca dan menulis di kalangan masyarakat. Keberhasilan acara ini menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki daya tarik yang besar di tengah masyarakat modern.

Nasruddin Djoko Surjono menyatakan kegembiraannya melihat semakin banyak masyarakat yang memilih menghabiskan malam mereka di perpustakaan. Ia menekankan bahwa perpustakaan lebih dari sekadar tempat meminjam buku; ia adalah "tempat membaca kehidupan". Pernyataan ini mempertegas peran transformatif perpustakaan dalam membentuk karakter dan pengetahuan warga.

Acara ini juga menjadi bukti nyata bahwa perpustakaan dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif dan dinamis, mampu menghadirkan beragam aktivitas kreatif yang menarik minat berbagai kalangan. Inisiatif semacam ini sangat krusial untuk meningkatkan indeks Literasi Jakarta secara berkelanjutan.

Jakarta sebagai "Ibu Cerita" dan Kota Sastra UNESCO

Dalam kesempatan tersebut, Nasruddin Djoko Surjono memperkenalkan gagasan Jakarta sebagai "Ibu Cerita", sebuah konsep yang menggambarkan bahwa kota ini tidak hanya dibangun oleh gedung dan infrastruktur, tetapi juga oleh sejarah, sastra, jurnalisme, kebudayaan, dan kehidupan masyarakatnya. "Kalau gedung adalah tubuh sebuah kota, maka cerita adalah jiwanya. Jakarta beruntung memiliki jiwa yang sangat kaya," ujarnya. Gagasan ini memperkaya pemahaman tentang identitas kota.

Jakarta memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan literasi nasional, mulai dari lahirnya surat kabar modern, Balai Pustaka, hingga tumbuhnya ribuan penulis, jurnalis, penerbit, budayawan, dan komunitas kreatif. Predikat Jakarta sebagai Kota Sastra UNESCO juga menjadi amanah untuk terus membangun budaya membaca dan berpikir kritis di tengah masyarakat.

Tahun depan, Jakarta akan memasuki usia 500 tahun, sebuah perayaan yang bukan sekadar umur kota, tetapi juga perayaan atas kemampuan sebuah kota untuk terus belajar dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Ini adalah momentum penting untuk mengukuhkan posisi Jakarta sebagai pusat Literasi Jakarta dan kebudayaan.

Festival Sastra HB Jassin 2026 dan Program Liburan Edukatif

Dispusip Provinsi DKI Jakarta secara resmi meluncurkan Festival Sastra HB Jassin 2026 dalam acara "Night at The Library" ini. Festival tersebut diharapkan menjadi gerakan bersama untuk memperkuat budaya membaca, menulis, berdiskusi, serta mengapresiasi karya sastra di seluruh lapisan masyarakat. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk memajukan Literasi Jakarta.

Selain peluncuran festival, "Night at The Library" juga menghadirkan diskusi publik bertajuk "Potret Jakarta dalam Literatur dari Masa ke Masa" bersama tokoh-tokoh seperti Hilmar Farid, Asep Kambali, dan Avianti Armand, yang dimoderatori oleh Jovial da Lopez. Pertunjukan monolog Ismail Marzuki oleh Sun Community serta penampilan musik dari Duo Libra, Smoothies, Alika Shafira, dan Ecoutez turut memeriahkan acara.

Kepala UPT Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Diki Lukman Hakim, menambahkan bahwa ada 16 program khusus yang dihadirkan selama liburan sekolah, berlangsung sejak 23 Juni hingga akhir masa libur. Program ini mencakup workshop, kerajinan tangan, mendongeng, dan berbagai aktivitas edukatif yang ditujukan bagi anak-anak, memastikan Literasi Jakarta terus berkembang dari usia dini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi