Ratusan ogoh-ogoh karya seka teruna atau kelompok pemuda Denpasar memadati kawasan Catur Muka Lapangan Puputan. Peristiwa ini terjadi pada malam Pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi, Kamis, 19 Maret 2026. Kawasan Catur Muka menjadi pusat perhatian utama bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin menyaksikan kemeriahan pawai ini.
Wakil Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar, I Gede Yogi Pramana, menjelaskan bahwa Catur Muka merupakan titik paling dinantikan. Lokasi ini selalu ramai oleh ogoh-ogoh yang datang dari berbagai penjuru kota. Masyarakat biasanya sudah berkumpul sejak sore hari untuk menikmati beragam karya seni dari para pemuda.
Antusiasme anak muda dalam menggarap ogoh-ogoh terlihat meningkat pesat tahun ini. Peningkatan ini tidak hanya pada kuantitas, tetapi juga pada kualitas karya yang semakin baik. Banyak ogoh-ogoh Denpasar yang melintasi pusat kota mengangkat tema pemuliaan terhadap air, sejalan dengan Kasanga Festival yang baru saja digelar.
Advertisement
Advertisement
Antusiasme Tinggi dan Pesan Kondusivitas Pawai Ogoh-ogoh
Peningkatan jumlah dan kualitas ogoh-ogoh Denpasar pada malam Pengerupukan tahun ini menunjukkan semangat kreatif pemuda. Hal ini juga menjadi cerminan dari upaya pelestarian budaya Bali yang terus berkembang. Karya-karya ogoh-ogoh tersebut berhasil menarik perhatian ribuan pasang mata, baik dari warga lokal maupun wisatawan.
Meskipun demikian, Pasikian Yowana Kota Denpasar secara khusus mengimbau seluruh peserta pawai untuk menjaga kondusivitas. Euforia yang tinggi diharapkan tidak mengganggu ketertiban umum. Imbauan ini disampaikan untuk memastikan perayaan berlangsung aman dan damai bagi semua pihak.
“Sejak forum diskusi awal, Kasanga Festival, sampai saat ini kami tetap meminta pemuda menjaga kondusivitas apalagi saat Pengerupukan,” ujar Gede Yogi. Ia menambahkan, “Harapan kami jangan menggunakan sound system, minuman keras, hormati sesama seka teruna, dan jaga kondusivitas di wilayah masing-masing.” Pesan ini menekankan pentingnya menghormati tradisi dan sesama.
Advertisement
Advertisement
Catur Muka sebagai Pusat Perhatian dan Alternatif Lokasi Lain
Kawasan Catur Muka Lapangan Puputan memang selalu menjadi magnet utama pawai ogoh-ogoh Denpasar. Lokasi ini dikenal sebagai titik nol sekaligus pusat kota, menjadikannya pilihan strategis untuk perayaan. Kepadatan di area ini seringkali tak terhindarkan karena banyaknya ogoh-ogoh dan penonton yang ingin menyaksikan.
Namun, bagi masyarakat yang kesulitan menembus kepadatan di pusat kota, ada banyak alternatif lokasi lain. Gede Yogi menyebutkan bahwa hampir seluruh desa adat di Denpasar turut menggelar festival ogoh-ogoh. Ini memberikan pilihan bagi warga untuk tetap dapat menikmati tradisi Pengerupukan di wilayah masing-masing.
“Jika melihat dari pemetaan saat Pengerupukan ini hampir setiap desa mengadakan perlombaan ogoh-ogoh,” jelas Gede Yogi. Selain Catur Muka, lokasi seperti Sanur, Gatsu, dan Sesetan juga menjadi titik kumpul pawai ogoh-ogoh yang layak dikunjungi. Keberagaman lokasi ini memastikan bahwa semangat Pengerupukan dapat dirasakan secara merata.
Advertisement
Advertisement
Makna dan Tradisi Ogoh-ogoh Bertema Pemuliaan Air
Tema pemuliaan terhadap air mendominasi pawai ogoh-ogoh Denpasar tahun ini, sejalan dengan Kasanga Festival. Meskipun demikian, esensi dari bhuta kala sebagai sosok raksasa atau tokoh pewayangan tetap dipertahankan. Ogoh-ogoh ini merupakan representasi dari sifat-sifat negatif yang akan dimusnahkan sebelum Nyepi.
Salah satu kelompok pemuda, Seka Teruna Tunggal Adnyana Taruna Banjar Gelogor, selalu memilih rute Catur Muka. Mereka mengarak ogoh-ogoh beriringan dari pukul 19.00 Wita hingga tengah malam. Sebelum mencapai titik nol, mereka biasanya melewati Pura Desa Pakraman Denpasar untuk mendapatkan siraman tirta penglukatan sebagai simbol pembersihan.
“Setiap tahun selalu melewati Catur Muka karena banjar kami masih masuk wewidangan ini,” kata Putu Arya Indrajaya, wakil ketua Seka Teruna Tunggal Adnyana Taruna. Prosesi ini merupakan bagian penting dari ritual pembersihan diri dan lingkungan. Setelah pawai, ogoh-ogoh tersebut akan dimusnahkan sebagai simbol penghilangan sifat-sifat buruk.
Advertisement
Sumber: AntaraNews