Puti : Mutiara bangsa ini adalah akar budayanya

Sabtu, 27 Januari 2018 17:09 Reporter : Witanto
Puti Guntur Soekarno di desa adat Suku Osing Kemiren. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Pecel Pitik, kuliner asal Banyuwangi ini menjadi menu makan siang Puti Guntur Soekarno saat mengunjungi Bumi Blambangan, Sabtu (27/1).

Lebih istimewa, santap siang makanan khas Banyuwangi ini dilakukan di desa adat Suku Osing, Kemiren, Kec Glagah. Sambil lesehan di tikar yang digelar di tengah jalan Desa Kemiren, Puti dan rombongan, serta para kepala desa, para pendidik, elemen partai pengusung, dan masyarakat lainnya, menikmati Pecel Pitik dengan iringan tarian Gandrung Banyuwangi.

Puti tampak menikmati Pecel Pitik dalam wadah daun pisang, sambil 'muluk'. Puti mengungkapkan rasa bahagianya, karena akhirnya bisa menikmati nasi Pecel Pitik, yang belum tentu ada setiap hari. Sebab, menu Pecel Pitik biasa disajikan saat ada acara adat suku Osing. Pun soal seni budaya yang di-uri-uri penduduk Kemiren, Puti menyampaikan apresiasinya.

Puti Guntur Soekarno di desa adat Suku Osing Kemiren 2018 Merdeka.com

"Saya begitu bahagia ketika bisa mendatangi desa-desa, rasanya menjadi menyatu. Karena bagaimanapun kakek saya. Bung Karno pernah mengatakan, bahwa soko guru dari pembangunan bangsa itu dimulai dari desa," kata Puti.

Lanjut Puti, ketika desa bisa ditata, mulai dari teknologinya, kemudian pelestarian kearifan lokalnya, kultur, adat, budaya, itu menjadi sangat penting.

"Bung Karno itu punya ajaran Trisakti, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. Kalau kita resapi, bagaimana lagu kebangsaan kita, bangunlah jiwanya? Artinya ketika kita membangun jiwa itu kembali kepada kebudayaan kita, kembali kepada adat istiadat kita. Dan saya sangat bangga dan merupakan kehormatan bagi saya, bisa bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh di sini," katanya saat didaulat untuk memberikan sambutan di depan ratusan kader dan simpatisan Puti di Desa Kemiren.

Puti Guntur Soekarno di desa adat Suku Osing Kemiren 2018 Merdeka.com

Lebih lanjut Puti menegaskan kepala desa, para pendidik, warga, tentunya ini menjadi tugasnya dalam sama -sama membangun Jawa Timur untuk lebih makmur.

"Dan saya membangun basis kultur budaya, untuk menjadi satu bangsa, yang dimulai dari Jatim, yang tetap teguh memegang adat budaya bangsanya. Untuk Membangun Jawa Timur lebih makmur," ujarnya.

Puti menambahkan, paling tidak suka terhadap anak muda yang tidak menyukai budayanya. "Saya yang merupakan bagian dari anak muda paling tidak suka ketika anak-anak muda tidak menghargai budaya bangsanya," ujar Puti.

Puti menginginkan Indonesia itu maju karena karakter bangsanya, dan karakter itu dimulai dari kebudayaan-kebudayaan, dari bahasa, segala kearifan lokal yang memang tertanam di Bumi Indonesia.

Puti Guntur Soekarno di desa adat Suku Osing Kemiren 2018 Merdeka.com

"Makanya Bung Karno menggali kembali nilai-nilai yang hidup di masyarakat itu, menjadi ideologi bangsa, Pancasila. Intinya adalah mutiara dari bangsa ini, negeri ini, tanah Indonesia, yaitu akar budaya. Dan Mas Anas begitu menjaga kearifan lokal, menjaga desa-desa yang tetap menghargai budaya, tetapi di dalam sistem kemasyarakatannya menggunakan teknologi. Saya harap bisa menunjang pembangunan di tingkat provinsi nantinya," kata Puti.

Sementara itu Maisyaroh, salah satu warga Kemiren sangat mengagumi sosok Puti Guntur Soekarno. "Ibu Puti adalah sosok yg luar biasa. Behaviornya sangat dikagumi oleh setiap wanita. Menandakan bahwa wanita tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, namun juga bisa menjadi pemimpin. Saya kagum dengan kegigihan beliau dalam menjalankan amanat sebagai calon wakil gubernur Jawa Timur," katanya.

Lanjut Maisyaroh, selain parasnya yang cantik, sikapnya kepada masyarakat yg ramah dan tamah. "Saya sendiri ingin seperti beliau yang menjadi contoh atau tauladan perempuan di indonesia khususnya Jawa Timur," kata anggota UKM Kepribadian UNTAG Banyuwangi. [hhw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini