Psikolog: Foto anak SMP nyatakan cinta ke siswa SD, berani sekali

Senin, 26 Januari 2015 14:31 Reporter : Lia Harahap
Psikolog: Foto anak SMP nyatakan cinta ke siswa SD, berani sekali Siswa SMP pacaran dengan siswa SD. ©facebook.com

Merdeka.com - Beredar foto siswa SMP sedang menyatakan cinta ke siswi SD. Foto ramai diperbincangkan di jejaring sosial Facebook.

Dalam foto itu, lokasi nyatakan cinta sepertinya di lingkungan sekolah. Si pria memberikan kue dan boneka untuk si siswa berseragam putih merah itu. Bahkan, dia juga menyulangi kue dan berfoto sambil berangkulan.

Beberapa pengguna Facebook, prihatin. Mereka tak menyangka anak SMP dan SD sudah pintar melakoni adegan-adegan seperti itu.

Lantas bagaimana dalam kacamata seorang psikolog?

Psikolog Ike R. Sugianto, menilai di luar kasus ini sebenarnya fenomena pacar-pacaran di kalangan anak-anak sudah sejak lama terjadi. Tapi dulu, tidak tampil di media sosial seperti sekarang ini.

"Suka dengan lawan jenis pada pra-remaja itu wajar, karena mereka sedang mulai menumbuhkan ketertarikan pada lawan jenis, tapi biasanya masih dikerjakan dengan malu-malu dan belum berani diwujudkan dengan nyatakan sejauh ini, apalagi di depan teman-teman," kata Ike saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (25/1).

Perkembangan zaman yang terjadi memang sulit membendung apa yang diserap pada anak. Tapi melihat foto yang tersebar itu, Ike menilai pasangan bocah kecil ini sudah berani.

"Sebenarnya fenomena pacaran seperti ini banyak tapi enggak tampil di socmed, Tapi ini berani sekali, ini terang-terangan. Meskipun menurut saya, tidak perlu dianggap itu pelanggaran besar, saya tidak mau bebani pada dua orang ini dan orang tua mereka, karena fenomena nya ada dari dulu."

"Tapi bentuk ekspresinya beda, kalau sukanya malu-malu, masih bisik-bisik, tapi sekarang kenapa berani sekali. Ini jelas karena tontonan sekarang lihat saja, tentang pacar-pacaran, cerita sekolah juga bumbu percintaan," tambahnya.

Dia menambahkan, tayangan di televisi jadi faktor utama yang membentuk perilaku anak. Apalagi di usia-usia seperti itu.

"Semua asalnya dari apa yang mereka lihat, tonton, itu jadi masuk sistem norma dari mereka, apa yang lazim dan tidak, mereka dapat dari seperti itu. Padahal mereka sendiri belum berpikir panjang soal ketertarikan dengan lawan jenis, mereka juga punya definisi pacaran beda-beda. Gandengan tangan dan pergi ke mal bareng kadang disebut pacaran," beber Ike.

"Kemudian dikhawatikan kalau pacaran belum ngerti akhirnya jadi terjadi isolasi mainnya sama dia doang," ungkap wanita berambut panjang ini.

Dia berharap orangtua dan semuanya belajar dari kasus ini. Ini satu pengingat bahwa orangtua itu harus harus sebagai teman bukan mendikte.

"Satu pengingat untuk kita semua, termasuk sebagai orangtua untuk mulai bicarakan soal pacaran itu apa, kapan mulai boleh pacaran, seperti apa isi pacaran itu."

"Jadi lihat positifnya, kalau orangtua jangan cepat marahi anak, dari pada nggak ketahuam, lebih baik kelihatan gini kan bisa cari solusi, kita akomodasi mereka, daripada dia lakukan di belakang kita," pungkas Ike. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini