Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh bangsa Iran. Permintaan maaf ini disampaikan atas berbagai "kekurangan yang ada" di negara tersebut.
Pernyataan tersebut muncul setelah serangkaian aksi protes besar-besaran yang melanda Iran sepanjang bulan Januari. Pezeshkian juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan berbagai upaya reformasi.
Dalam pidato yang menandai peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, Presiden Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintah berupaya keras mengatasi semua masalah yang dihadapi rakyat.
Advertisement
Advertisement
Sebagai pemimpin pemerintahan, Presiden Masoud Pezeshkian mengakui tanggung jawabnya dan meminta maaf kepada bangsa Iran yang mulia. Ia menekankan bahwa pihaknya akan terus berupaya mengatasi semua isu yang ada.
Pezeshkian juga menegaskan bahwa pihak berwenang Iran menyambut baik setiap bentuk protes. Pemerintah menganggap mendengarkan aspirasi para pengunjuk rasa sebagai sebuah kewajiban.
Sikap ini menunjukkan adanya upaya untuk membuka ruang dialog dan memahami keresahan masyarakat. Pemerintah Iran berjanji untuk tetap transparan dalam menangani tuntutan rakyat.
Advertisement
Advertisement
Meskipun menyambut protes, Presiden Pezeshkian menyatakan kemarahannya terhadap tindakan perusakan, vandalisme, pembunuhan, dan pembakaran. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat diterima.
"Tidak ada warga Iran yang akan mengangkat senjata untuk membunuh warga Iran lainnya, tidak ada warga Iran yang akan membakar masjid," kata Pezeshkian. Pernyataan ini menggarisbawahi batas-batas protes yang dianggap wajar.
Ia juga menambahkan bahwa tidak ada warga Iran yang akan meminta campur tangan asing untuk masalah internal negara. Pezeshkian menekankan bahwa penyelesaian masalah harus datang dari dalam negeri.
Advertisement
Advertisement
Gelombang protes yang terjadi di Iran dimulai pada akhir Desember tahun lalu. Kekhawatiran utama masyarakat adalah meningkatnya inflasi yang terus memburuk.
Melemahnya mata uang lokal, rial Iran, menjadi salah satu pemicu utama ketidakpuasan publik. Kondisi ekonomi yang menekan ini memicu demonstrasi di berbagai kota.
Di beberapa kota, protes berubah menjadi bentrokan fisik dengan pihak kepolisian. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang secara langsung mengkritik kebijakan pemerintah.
Advertisement
Laporan mengenai korban jiwa juga terjadi, baik di kalangan aparat keamanan maupun para demonstran. Situasi ini menunjukkan eskalasi ketegangan yang signifikan.
Sumber: AntaraNews