Prahara belum mau pergi dari Bupati Dedi

Rabu, 13 Juli 2016 08:02 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo, Andrian Salam Wiyono
Prahara belum mau pergi dari Bupati Dedi Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. ©2016 merdeka.com/bram salam

Merdeka.com -
Dedi merasa sebagai pihak diundang akan sangat menghargai. Dia juga merasa berhak datang. Menyangkut keamanan dan keselamatan jiwanya, dia menyerahkan sepenuhnya ke polisi.

"Saya akang datang. Karena undangannya sudah sejak dua bulan lalu. Keselamatan dan keamanan saya serahkan ke pihak kepolisian. Nanti kita lihat untuk lapor polisi. Kita tetap datang. Pak Kapolres Ciamis menjamin (kemanan dan keselamatan) saya," ujar Dedi.

Beberapa waktu lalu, perseteruan antara lembaga dakwah Manhajus Sholihin dengan Dedi juga sempat memanas. Akar masalahnya adalah sudah ada sejak lama. Umat Islam di Purwakarta menganggap ide Dedi membikin patung di beberapa tempat di daerah itu, serta mengikatkan kain bercorak kota-kotak berwarna hitam putih di pohon dan patung, dianggap sebagai perbuatan syirik. Ditambah, diduga Dedi mendahulukan salam ala Sunda, sampurasun, daripada mengucapkan Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Hal itu dikritik Imam Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab, saat mampir dan berceramah di Purwakarta. Dia lantas mempelesetkan 'sampurasun' menjadi 'campur racun.' Sontak hal itu meletupkan perseteruan. Kalangan budayawan dan pendukung Dedi berang dan melaporkan Habib Rizieq ke polisi. Tak mau kalah, Syahid Kalja dari kelompok pengajian Manhajush Sholihin juga melaporkan balik Dedi dengan tuduhan penistaan agama. Setelah itu, kemelut itu hanya sayup-sayup terdengar.

Lantas, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat menyatakan, laporan dugaan penistaan agama dilakukan Dedi dianggap tidak bisa disidik. Keputusan itu diambil pada 14 April lalu.

Kelompok Manhajush Sholihin kemudian geram, karena laporan mereka dianggap tidak bisa diusut. Mereka menyatakan kekecewaan melalui media sosial Twitter.

Melalui akun @Manhajusholihin, mereka menyampaikan sebelas protes. Mereka merasa keputusan Polda Jabar memberhentikan kasus penistaan agama diduga dilakukan Dedi sangat janggal. Mereka bahkan bakal menempuh upaya hukum lain, hingga terlontar pernyataan cukup keras melalui akun Twitter mereka.

"maka jangan salahkan umat jika besok umat tidak percaya lagi dg (dengan) polda dan langsung MENGGOROK Penista Agama di jalan! @DediMulyadi71," cuit akun Twitter @Manhajusholihin.

Menurut Dedi, ancaman terhadap dirinya memang datang silih berganti. Jenisnya mulai dari ancaman pembunuhan, pengadangan, dan lainnya. Dia pun tak bisa menghindar dari hal itu.

"Saya melihat mereka melakukan pengadangan serius. Di Bandung Barat pernah dicegat puluhan orang. Di Garut di lempar pakai paku. Jadi (ancaman) bukan main-main tapi ngalamin langsung," tutup Dedi. [ary] SEBELUMNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini