PPS Alobi dan PT Timah Berkolaborasi dalam Rehabilitasi Ratusan Satwa Langka di Bangka
Kolaborasi PPS Alobi dan PT Timah Tbk sukses merehabilitasi ratusan satwa langka di Bangka, menjaga kelestarian lingkungan dan memulihkan insting liar mereka.
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi bersama PT Timah Tbk aktif merehabilitasi ratusan satwa langka yang dilindungi. Program konservasi ini berlokasi di Kampung Reklamasi Air Jangkang Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dengan tujuan utama menjaga kelestarian lingkungan di wilayah tersebut. Upaya ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam pelestarian keanekaragaman hayati.
Hingga saat ini, sebanyak 112 satwa masih menjalani masa rehabilitasi intensif di fasilitas tersebut. Proses rehabilitasi ini tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga pada pengembalian insting liar satwa agar mereka siap kembali ke habitat aslinya. Kolaborasi antara PPS Alobi dan PT Timah Tbk menunjukkan sinergi yang kuat antara lembaga konservasi dan sektor industri.
Manager PPS Alobi, Endy R Yusuf, menegaskan bahwa kolaborasi ini terus berupaya melakukan penyelamatan, rehabilitasi, hingga pelepasliaran satwa langka. Lokasi Kampung Reklamasi Air Jangkang yang merupakan lahan bekas tambang timah, kini bertransformasi menjadi pusat rehabilitasi vital bagi satwa-satwa yang membutuhkan pertolongan.
Fokus Rehabilitasi dan Jenis Satwa yang Diselamatkan
Sebagian besar satwa yang direhabilitasi merupakan hasil penegakan hukum dan titipan negara, menunjukkan pentingnya peran PPS Alobi dalam mendukung upaya pemerintah. Satwa-satwa ini seringkali adalah korban konflik dengan manusia atau hasil perdagangan ilegal, sehingga membutuhkan penanganan khusus untuk memulihkan kondisi mereka.
Jenis satwa yang menjalani rehabilitasi sangat beragam, mencakup elang, buaya yang berkonflik dengan manusia, beruang madu, binturong, kukang, rusa sambar, kijang, tarsius, owa, dan kancil. Keberagaman ini menunjukkan spektrum luas upaya pelestarian yang dilakukan, mencakup berbagai ekosistem dan kebutuhan satwa.
Dalam proses rehabilitasi satwa langka ini, PPS Alobi dan PT Timah Tbk tidak hanya fokus pada pengobatan fisik. Mereka juga berupaya memulihkan insting liar satwa agar siap dilepasliarkan kembali ke alam. Ini adalah aspek krusial yang membedakan pusat rehabilitasi dari kebun binatang, di mana tujuan utamanya adalah mengembalikan satwa ke habitat alami mereka.
Sebagai contoh, untuk satwa jenis owa, mereka diberi buah yang masih terbungkus. Metode ini bertujuan agar owa belajar mencari dan membuka sendiri makanannya, menirukan kondisi di alam liar. Pendekatan ini sangat penting untuk memastikan satwa memiliki kemampuan bertahan hidup yang memadai setelah dilepasliarkan.
Peran Komunitas dan Pentingnya Pelepasliaran Satwa
Kegiatan rehabilitasi satwa juga melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal secara aktif. Keterlibatan masyarakat ini mencakup berbagai aspek, mulai dari penyediaan pakan hingga pemanfaatan tanaman pakan seperti kaliandra. Ini menciptakan dampak positif ganda, baik untuk satwa maupun ekonomi lokal.
Warga sekitar juga ikut berperan dalam mendukung program ini. Misalnya, para peternak sapi menyumbangkan hasil ternak mereka untuk pakan buaya atau satwa karnivora lainnya. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana masyarakat dapat menjadi bagian integral dari upaya konservasi satwa langka.
Manager PPS Alobi, Endy R Yusuf, menegaskan, “Untuk melindungi cinta puspa dan satwa nasional, berarti kita juga harus menjaga kelestariannya. PPS bukan kebun binatang, tetapi tempat untuk memulihkan satwa agar bisa kembali ke alam dan menjadi bagian dari ekosistemnya.” Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi di balik setiap upaya rehabilitasi.
Satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, seperti menyebarkan biji tanaman, membantu penyerbukan alami, hingga mengontrol populasi hewan lain. Oleh karena itu, penting untuk mengembalikan satwa ke habitat aslinya. Ketika alam dijaga, maka alam pun akan menjaga manusia, demikian penekanan dari PPS Alobi.
Sumber: AntaraNews