Polisi Minta Pelajar SMP yang Diduga Disiram Air Keras Diperiksa Psikolog

Minggu, 9 Januari 2022 22:05 Reporter : Ihwan Fajar
Polisi Minta Pelajar SMP yang Diduga Disiram Air Keras Diperiksa Psikolog ilustrasi garis polisi. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Dugaan kasus human trafficking dan kekerasan yang dialami pelajar SMP di Kota Makassar berinisial RN (12), menjadi perhatian Pemerintah Kota Makassar. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian Resor Kota Besar Makassar meragukan keterangan korban dan mendorong agar diperiksa psikologis.

Kepala Unit PPA Polrestabes Makassar, Inspektur Satu Rivai mengaku pihaknya sudah meminta kepada Kepolisian Sektor Panakkukang untuk menyurat agar dilakukan pemeriksaan psikologi terhadap korban. Hal tersebut agar informasi terkait kasus dugaan kekerasan dan human trafficking yang dialami RN bisa berimbang.

"Kita menyurat ke psikolog untuk dilakukan pemeriksaan terhadap korban, supaya lebih fair. Makanya kapolsek menyurat untuk pemeriksaan terhadap korban ini," kata Rivai saat dihubungi, Minggu (9/1).

Rivai menjelaskan ada salah informasi yang diterima Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar, tentang kejadian yang menimpa RN. Rivai menjelaskan RN mengalami luka bakar terjadi pada November 2021 akibat tersetrum.

"Itu salah informasi. Jadi kejadiannya itu pada bulan 11 (November 2021) dan bukan disiram air keras, tapi kesetrum," tuturnya. [cob]

Baca juga:
Diduga Menolak Dijual, Siswi SMP di Makassar Disiram Air Keras
Suami Ketahuan Nikah Lagi, Istri di Asahan Nekat Lakukan Ini hingga Masuk Penjara
Fakta Baru Kasus Kekerasan oleh WN Arab Saudi di Cianjur, Ditemukan Bukti Air Keras

Ia menegaskan kejadian tersebut sudah ditangani Polsek Panakkukang. Rivai mengungkapkan pada saat kejadian, korban sudah dilakukan visum di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan hasilnya luka bakar tersebut akibat tersengat listrik.

"Selama ini kan korban berobat BPJS, tidak tahu bagaimana ada keluarganya ambil kesimpulan bahwa itu disiram air keras. Padahal ada hasil visum RS Ibnu Sina, luka bakar yang dialami oleh korban ini adalah akibat tersengat listrik," bebernya.

Rivai menjelaskan pihaknya sudah berkomunikasi dengan Kepala UPT (P2TP2A) Makassar dan Kapolsek Panakkukang. Dalam pertemuan tersebut Kapolsek Panakkukang menjelaskan bahwa luka bakar yang dialami RN bukan karena disiram air keras, tetapi akibat tersengat arus listrik.

"Di situ dijelaskan bahwa kejadiannya bulan 11, dan bukan disiram air keras. Itu tersengat listrik, makanya terbakar badannya dan ada hasil visumnya," tegasnya.

Selain itu, Rivai juga membantah jika RN menjadi korban human trafficking. "Itu (human trafficking) tidak ada. Saat ini, itu korban juga sudah ditangani UPT (P2TP2A) Kota Makassar," ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Makassar, Achi Soleman menjelaskan luka bakar yang dialami RN diduga akibat disiram air keras merupakan hasil assement dari orang tua. Ia mengakui berdasarkan hasil visum didapat dari kepolisian, bahwa luka bakar yang dialami RN merupakan akibat tersetrum.

"Tapi ini kan keluarga yang menduga bahwa itu bukan sengatan arus listrik. Jadi kenapa keluar bahasa siraman air keras pada luka bakarnya, karena hasil dari assesment dari orang tuanya," kata dia.

Achi mengatakan saat ini RN dalam kondisi pemulihan dan rawat jalan akibat luka bakar 35 persen di tubuhnya. Achi menyebut untuk pendampingan psikologi terhadap korban dilakukan setelah lukanya sembuh.

"Untuk psikologinya nanti akan dilakukan UPT P2TP2A. Kita tunggu lebih dulu pulih luka-lukanya dan diobati secara bertahap," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, RN diduga menjadi korban trafficking dan mengalami luka bakar akibat disiram air keras oleh pelaku. Kondisi RN tersebut sempat diunggah akun Instagram atas nama Agustini yang merupakan tante korban.

Dalam unggahannya, Agustini memunculkan foto luka bakar pada tubuh keponakannya. Dalam foto yang diunggah tersebut Agustini juga menuliskan bahwa keponakannya mendapatkan penganiayaan dari temannya.

"Keponakanku (anaknya sepupuku) awalnya dipanggil sama temannya untuk semir rambut. Tapi ternyata teman-temannya sudah ada rencana sama keponakan ku ini disiram air keras, dipukul kepalanya sampai bocor," tulisnya dalam instastory.

Baca juga:
Diduga Menolak Dijual, Siswi SMP di Makassar Disiram Air Keras
Suami Ketahuan Nikah Lagi, Istri di Asahan Nekat Lakukan Ini hingga Masuk Penjara
Fakta Baru Kasus Kekerasan oleh WN Arab Saudi di Cianjur, Ditemukan Bukti Air Keras

Dikonfirmasi terkait unggahannya, Agustini mengaku kejadian yang dialami oleh keponakannya sudah dilaporkan ke Komnas Perlindungan Anak. Agustini mengarahkan merdeka.com untuk mengkonfirmasi kejadian tersebut kepada Komnas Perlindungan Anak.

"Tanya saja di Komnas Perlindungan Anak, karena sudah ditangani sama beliau," ujarnya melalui pesan WhatsApp, Jumat (7/1).

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Makassar, Achi Soleman mengatakan usai mendapat informasi soal aksi kekerasan itu, pihaknya turun ke tempat korban, dan segera mendampingi ke rumah sakit. Ia mengaku saat ini korban sudah berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Makassar untuk mendapatkan penanganan kesehatan.

"Besok kami akan ke Unit PPA Polrestabes Makassar untuk melakukan pendampingan keluarga korban agar mendapatkan penanganan hukum. Pihak keluarga korban sudah melaporkan kejadian ini," ujarnya.

Achi mengatakan RN diduga akan dijual oleh pelaku human trafficking. Tetapi, korban menolak dan akhirnya disiram air keras oleh pelaku.

"Modusnya karena anak rencana dikirim ke daerah untuk dijual. Dan karena anak ini menolak, ia disiram air keras oleh pelaku," tuturnya.

Baca juga:
Diduga Menolak Dijual, Siswi SMP di Makassar Disiram Air Keras
Suami Ketahuan Nikah Lagi, Istri di Asahan Nekat Lakukan Ini hingga Masuk Penjara
Fakta Baru Kasus Kekerasan oleh WN Arab Saudi di Cianjur, Ditemukan Bukti Air Keras

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini