Polisi Gandeng BPOM Telusuri Temuan Baru Kasus Gagal Ginjal Akut Anak di Jakarta

Senin, 6 Februari 2023 17:15 Reporter : Bachtiarudin Alam
Polisi Gandeng BPOM Telusuri Temuan Baru Kasus Gagal Ginjal Akut Anak di Jakarta Gedung Bareskrim Polri. ©2021 Google maps

Merdeka.com - Bareskrim Polri menerjunkan tim penyidik untuk mengusut kasus dugaan Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) yang kembali mencuat di Jakarta. Dua anak terindikasi mengidap gagal ginjal akut dengan satu di antaranya meninggal dunia.

"Anggota tim sedang di lapangan," kata Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Pipit Rismanto saat dikonfirmasi merdeka.com, Senin (6/2).

Pipit meminta masyarakat menunggu waktu agar ditim dibentuknya bekerja mendalami kasus temuan GGAPA yang kembali muncul tersebut. Menurut dia, polisi berkoordinasi ke pihak Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terkait kasus gagal ginjal akut tersebut.

"Kami tunggu laporan dari tim yang masih di lapangan. Ya kita tetap berkoordinasi dengan BPOM," ujar dia.

Pipit mengatakan, koordinasi dilakukan karena diduga ada perbedaan kasus dugaan Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal yang saat itu muncul berbeda dengan sebelumnya. Sehingga, penyelidikan masih akan berkoordinasi antara Bareskrim Polri dengan BPOM, apakah ditangani secara terpisah kasus sebelumnya atau digabung.

"Sepertinya kasusnya berbeda dengan kasus sebelumnya. Namun masih didalami," ucap dia.

Namun demikian, Pipit belum bisa membeberkan perbedaan yang dia maksud antara kasus temuan dua anak GGAPA di DKI dengan kasus sebelumnya. Sebab menurut Pipit, tim penyidik masih melakukan pendalaman.

"Ya, kita tunggu saja dulu ya," kata dia.

2 dari 3 halaman

Temuan 2 Kasus Baru

Sebelumnya, Kementerian kesehatan kembali mendapatkan laporan kasus baru Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA). Padahal, tak ada tambahan kasus sejak Desember 2022.

“Penambahan kasus tercatat pada tahun ini, satu kasus konfirmasi GGAPA dan satu kasus suspek” kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. M Syahril dalan rilis resminya, Senin (6/2).

Dua kasus tersebut dilaporkan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Syahril menjelaskan, satu kasus konfirmasi GGAPA merupakan anak berusia 1 tahun yang mengalami demam pada tanggal 25 Januari 2023.

"(Kemudian, anak tersebut) diberikan obat sirop penurun demam yang dibeli di apotek dengan merk Praxion. Pada tanggal 28 Januari, pasien mengalami batuk, demam, pilek, dan tidak bisa buang air kecil atau anuria," jelas Syahril.

Kemudian, lanjut Syahril, anak dibawa ke Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta Timur untuk mendapatkan pemeriksaan. Pada tanggal 31 Januari, pasien mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Adhyaksa.

'Dikarenakan ada gejala GGAPA, maka direncanakan untuk dirujuk ke RSCM tetapi keluarga menolak dan pulang paksa," ujar Syahril.

Lalu, pada tanggal 1 Februari, orang tua membawa pasien ke RS Polri dan mendapatkan perawatan di ruang IGD. Sejak saat itu, kata Syahril, pasien sudah mulai buang air kecil.

"Pada tanggal 1 Februari, pasien kemudian dirujuk ke RSCM untuk mendapatkan perawatan intensif sekaligus terapi fomepizole. Namun, tiga jam setelah di RSCM pada pukul 23.00 WIB pasien dinyatakan meninggal dunia," kata Syahril.

Sementara itu, satu kasus lainnya yang masih merupakan suspek adalah anak berusia 7 tahun, mengalami demam pada tanggal 26 Januari. Kemudian, anak mengkonsumsi obat penurun panas sirop yang dibeli secara mandiri.

"Pada tanggal 30 Januari, (anak) mendapatkan pengobatan penurun demam tablet dari puskesmas. Pada tanggal 1 Februari, pasien berobat ke klinik dan diberikan obat racikan," jelas Syahril.

3 dari 3 halaman

Menambah Kasus GGAPA

Lebih lanjut, Syahril merinci bahwa pada tanggal 2 Februari, anak dirawat di RSUD Kembangan. Kemudian, anak dirujuk dan masih menjalani perawatan di RSCM Jakarta hingga saat ini.

"Pada saat ini sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait pasien ini," imbuh Syahril.

Dengan dilaporkannya tambahan kasus baru GGAPA, hingga 5 Februari 2023 tercatat 326 kasus GGAPA dan satu suspek yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia.

Dari sejumlah tersebut 116 kasus dinyatakan sembuh, sementara enam kasus masih menjalani perawatan di RSCM Jakarta.

"Kasus ini bukan disebabkan oleh virus dan bakteri, tapi oleh unsur toksin yang mencemari beberapa obat sirop," kata Syahril. [gil]

Baca juga:
Reaksi Pj Gubernur DKI soal Temuan Kasus Gagal Ginjal Anak di Jakarta
Kasus Gagal Ginjal Akut Muncul Lagi, Pedagang Pasar Pramuka: Malas Jual Obat Sirop
Kemenkes: Jangan Beli Obat Sirop Secara Mandiri Tanpa Resep Dokter
Pemerintah Investigasi Ginjal Akut, Peredaran Obat Sirop Praxion Distop
Kasus Gagal Ginjal Anak, Dinkes DKI Imbau Masyarakat Gunakan Obat Puyer
Kondisi Anak Suspek Gagal Ginjal Akut di DKI Membaik, Awalnya Alami Demam & Batuk
Kasus Gagal Ginjal Akut Muncul Lagi di DKI, Pedagang Klaim Tak Jual Obat Praxion

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini