Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur AKBP Dhimas Prasetyo membantah bahwa Kasat Narkoba Polres Jakarta Timur, AKBP Buddy Alfrits Towoliu, menerima telepon dari orang yang tak dikenal, sebelum ditemukan tewas di rel Kereta Api.
"Kami hanya menepis bahwa berita yang beredar. Tidak ada itu telepon dari orang tidak dikenal dan sebagainya," kata AKBP Dhimas Prasetyo saat jumpa pers di Polres Metro Jakarta Timur, Senin (1/5).
Ia memastikan jika panggilan masuk yang diterima almarhum merupakan orang yang dikenalnya, seperti istri, dan anak buah.
Advertisement
"Menelepon orang yang dikenal oleh beliau. Ada dari istri, keluarga, anak buah beliau sebagai Kasat Narkoba. Ada 6 aktivitas panggilan yang semuanya berasal dari orang yang dikenal," ujarnya.
Sebelumnya, Keluarga menduga ada pihak yang menelepon Buddy sebelum ditemukan tewas di rel kereta kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.
"Jadi kami mohon lewat teman-teman media, medsos, supaya berhenti lah menuduh. Kita berikan kepercayaan ke kepolisian untuk usut tuntas siapa yang menelepon terakhir itu. Sampai dia suruh berangkat sampai dia meninggal," kata Cyprus A. Tatatli, paman dari AKBP Buddy Alfrits Towoliu kepada wartawan di RS Polri Keramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (29/4).
Advertisement
Sebelumnya, jenazah AKBP Buddy Towoliu ditemukan di perlintasan kereta api wilayah Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, pada Sabtu (29/4). Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan diduga AKBP Buddy bunuh diri.
Saat ditemukan , mendiang AKBP Buddy Towoliu masih berpakaian dinas lengkap. Sejumlah barang pribadi AKBP Buddy juga ditemukan di lokasi. Seperti, Kartu Tanda Anggota (KTA) korban, iPhone 13, dompet, uang tunai Rp850.000 dan jam tangan."Kemudian dicek secara identitasnya yang melekat pada jenazah ini atas nama saudara Buddy A Towoliu," kata Trunoyudo.