Pernah Jadi Live-Action di 2009, Film Animasi Garuda di Dadaku Didukung Kemenparekraf Go Internasional
Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkomitmen penuh mendukung Film Animasi Garuda di Dadaku untuk bersaing di kancah global, memperkuat industri animasi nasional.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyatakan dukungan penuhnya terhadap film animasi "Garuda di Dadaku". Dukungan ini bertujuan untuk memajukan industri animasi nasional serta membawa karya anak bangsa ini bersaing di kancah global. Film animasi ini dijadwalkan akan rilis secara nasional pada tahun 2026 mendatang.
Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky, dalam sebuah pertemuan di kantor kementerian pada Kamis (5/10). Ia menekankan bahwa Kemenparekraf tertarik berkolaborasi karena potensi besar "Garuda di Dadaku" dalam mengembangkan kekayaan intelektual (IP) karakternya. Potensi ini dapat diekspansi menjadi berbagai produk kreatif seperti merchandise.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Kemenparekraf berencana menjalin kolaborasi dengan kementerian atau lembaga lain. Mereka juga akan mencari dukungan internasional, termasuk dari diaspora, agar film animasi Indonesia ini dapat dipamerkan di berbagai negara. Langkah ini diharapkan dapat memperluas jangkauan dan pengaruh "Garuda di Dadaku" di pasar global.
Dukungan Penuh Kemenparekraf untuk Animasi Nasional
Kemenparekraf secara konsisten menunjukkan komitmennya dalam memajukan industri perfilman animasi di Tanah Air. Menteri Teuku Riefky menegaskan bahwa dukungan kementerian tidak hanya berfokus pada strategi perilisan film, tetapi juga pada perlindungan Kekayaan Intelektual (IP) yang melekat pada karya tersebut. Pendekatan holistik ini penting untuk memastikan keberlanjutan dan nilai ekonomi dari sebuah produk kreatif.
Sebelumnya, Kemenparekraf juga telah memberikan dukungan serupa untuk film animasi "Jumbo". Film tersebut terbukti mampu bersaing di pasar internasional, menarik investor baru, dan bahkan berfungsi sebagai alat diplomasi budaya Indonesia. Keberhasilan "Jumbo" menjadi tolok ukur bahwa animasi nasional memiliki potensi besar untuk tumbuh dan bersaing di panggung dunia.
"Keberhasilan 'Jumbo' sebagai film animasi terlaris di Indonesia menandai kebangkitan industri animasi nasional untuk tumbuh dan bersaing secara global," ujar Teuku Riefky. Kesuksesan ini diharapkan dapat terulang pada Film Animasi Garuda di Dadaku, yang juga bergenre keluarga. Dengan demikian, industri animasi Indonesia bisa semakin kokoh dan dikenal luas.
Potensi Besar "Garuda di Dadaku" di Kancah Global
Film Animasi Garuda di Dadaku bukanlah karya tunggal, melainkan hasil kolaborasi lintas studio yang melibatkan BASE Entertainment, KAWI Animation, Springboard, Dasun Pictures, AHHA Corp, Robot Playground Media, dan PK Films. Kemitraan ini menunjukkan sinergi kuat antar pelaku industri kreatif untuk menghasilkan karya berkualitas. Kolaborasi semacam ini sangat vital untuk meningkatkan standar produksi animasi di Indonesia.
Franchise "Garuda di Dadaku" sendiri memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak adaptasi film live-action pertamanya pada tahun 2009. Kesuksesan tersebut kemudian diikuti dengan novel berjudul "Mimpi Sang Garuda", sekuel di tahun 2011, serta mini-seri "Keluarga Garuda di Dadaku" yang tayang antara 2014 dan 2015. Jejak rekam ini membuktikan popularitas dan daya tarik cerita "Garuda di Dadaku" di kalangan masyarakat.
Shanty Harmayn, Chief Executive dan Produser BASE Entertainment, mengungkapkan antusiasmenya terhadap proyek ini. "Animasi adalah medium penceritaan yang kuat, terutama ketika diambil dari semesta Garuda di Dadaku yang dimulai sepuluh tahun lalu," katanya. Ia menambahkan bahwa pengembangan IP lokal seperti ini layak mendapat dukungan kuat karena dapat membuka peluang bisnis masa depan dalam ekonomi kreatif. Tidak hanya itu, kecintaan terhadap sepak bola yang memiliki penggemar masif di Indonesia juga menjadi daya tarik utama.
Strategi Promosi dan Harapan Industri Animasi
Untuk mempromosikan Film Animasi Garuda di Dadaku, Kemenparekraf dapat menginisiasi berbagai kegiatan. Contohnya, pemutaran komunitas di sekolah-sekolah, diskusi publik di universitas, atau kolaborasi kreatif dengan komunitas lain. Strategi promosi yang beragam ini diharapkan mampu menjangkau audiens yang lebih luas dan membangun antusiasme masyarakat.
Dukungan dari kementerian ini semakin memperkuat semangat BASE Entertainment sebagai rumah produksi yang berbasis di Indonesia dan Singapura. Mereka dikenal konsisten dalam menghadirkan cerita berkualitas melalui talenta kreatif terbaik. Video "first-look" Film Animasi Garuda di Dadaku yang diunggah di kanal YouTube BASE Entertainment Indonesia telah ditonton lebih dari 86.000 kali sejak awal Agustus 2025, menunjukkan minat publik yang tinggi.
Ronny Gani, seorang talenta lokal dengan pengalaman internasional luas, akan melakukan debut penyutradaraannya melalui film ini. Shanty Harmayn menekankan pentingnya dukungan fasilitas dan promosi. "Kami membutuhkan fasilitasi dan dukungan promosi untuk menunjukkan bahwa film animasi Indonesia adalah pilihan spesial bagi penonton lokal," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa industri animasi tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua film, melainkan memerlukan produksi yang konsisten untuk membangun momentum pertumbuhan.
Sumber: AntaraNews