Perahu getek masih jadi andalan
Merdeka.com - Meski terkenal sebagai sarana transportasi di masa lalu, bukan berarti di zaman yang serba modern ini, masyarakat sekitar Bengawan Solo melupakan perahu getek sebagai alat penyeberangan. Di beberapa kampung tepian Sungai Bengawan Solo, tak sedikit warga yang menggunakan perahu getek sebagai sarana menyeberang, akibat jauhnya jembatan.
Di perbatasan Kota Solo dengan Kabupaten Sukoharjo tepatnya di Dusun Jagang, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo dan Kampung Beton Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres, Solo, perahu getek masih terlihat mondar madir setiap harinya, terutama di jam-jam sekolah dan jam sibuk lainnya.
Sebuah perahu tua, yang menurut si empunya sudah beroperasi sejak tahun tujuh puluhan, menjadi moda transportasi andalan. Bahkan perahu ini menjadi alat penghubung bagi pelajar di daerah tersebut. Perahu ini dikemudikan oleh Mujiman (72), beroperasi mulai jam 5 pagi hingga 7 malam.
Setiap hari sejumlah siswa SD dan SMP di Solo asal Sukoharjo, harus mengarungi derasnya aliran Sungai Bengawan Solo menggunakan perahu getek. Tak hanya itu, puluhan warga juga masih banyak yang menggunakan sarana transportasi kuno tersebut. Di musim hujan seperti ini, mereka harus bertaruh nyawa untuk bisa sampai ke dermaga seberang.
"Kalau harus muter lewat jembatan Mojo atau Jurug jauh mas, bisa muter 5 kilometer. Kerja saya kan di Jebres," ujar Bahtiar, warga setempat.
Sedangkan para siswa, naik perahu merupakan jalan pintas satu satunya. Kalau harus muter ke jembatan takut terlambat, karena jaraknya terpaut jauh atau sekitar 5 kilometer.
"Lebih cepat naik perahu, kalau muter lama, bisa terlambat. Sebenarnya saya takut, tapi selama ini aman saja," ucap Safitri salah satu siswa SMP di Solo, Jumat (29/4).
Sejumlah pedagang dan perajin karak (kerupuk dari bahan beras) dari Desa Gadingan juga menggantungkan perahu getek sebagai sarana transportasi. Dari desa sentra perajin karak tersebut, mereka berjualan di pasar Sewu, Solo. Setiap menyeberang pedagang dikenakan tarif Rp 1.000 hingga Rp 1.500.
"Saya kan jualannya jalan kaki mas, jadi naik perahu getek lebih dekat. Kalau naik angkot harus muter-muter tidak cukup Rp 5 ribu, naik perahu kan lebih murah," ucap, Waliyem (67), semabari menggendong bakul besar berisi karak.
Waliyem dan sejumlah penjual lainnya mengaku sudah puluhan tahun memanfaatkan perahu getek untuk menyeberangi sungai terpanjang di Pulau Jawa ini.
"Takut juga sebenarnya, perahu ini pernah terbawa arus hingga puluhan meter, akibat arusnya deras," pungkasnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya